03/12/2015

Budaya Santai Dalam Kaitan Banyaknya Minat Menjadi PNS

Menurut banyak penulis blog, seperti Romo Mangunwijaya pernah menulis bahwa banyaknya minat untuk menjadi PNS punyai kaitan dengan sistem pendidikan kita yang masih mewarisi mental pendidikan dari zaman penjajahan dulu.  Zaman dulu Kolonial Belanda mendidik orang supaya patuh dan taat pada pemerintah agar bisa menjadi ambtenaar (PNS zaman kolonial) yang merupakan jabatan terhormat ketika itu.  Tentunya jabatan terhormat ini dibarengi oleh fasilitas-fasilitas yang serba terjamin, serba enak, dan serba menyenangkan. Oleh sebab itu lah, menurut saya banyak masyarakat mempunyai pandangan seperti itu, pekerjaan terhormat dan beragam fasilitas yang menyenangkan, sehingga mereka mengidolakan pekerjaan PNS.
Mengenai budaya santai itu sendiri, jika kita melihat digampong-gampong banyak warga bersantai ria diwarung kopi, pos kamling, balai-balai kosong, atau dimenasah, mereka mengobrol ria sambil mengisap rokok bersama-sama dengan tidak mengenal waktu apakah pagi, siang atau malam.  Bisa kita cermati jika setiap warga yang nongkrong itu, tidak semuanya adalah mereka orang yang punya duit. Ada banyak kebutuhan dirumah tangganya, dan terdapat begitu banyak ruang untuk bekerja dan banyak yang harus mereka kerjakan dirumah untuk kebutuhan sanak keluarganya, tapi mereka tetap memilih santai.
Saya pernah mendengar langsung, seorang pekerja dari Jawa,  yang saat itu dia bekerja sebagai pemasang kabel listrik pada tower-tower listrik proyek pembangunan PLN untuk mencukupi kebutuhan listrik diwilayah Pidie yaitu Geumpang, dan sekitarnya. Dia mengatakan, “orang Aceh hidupnya senang sekali ya, banyak waktu luang, bisa banyak santai, tiap pagi bisa ngopi, kesawah pun santai”.
Secara tidak langsung apa yang dikatakan oleh si pekerja ini memang sangat beralasan. Dia melihat saban pagi orang santai diwarongkopi dan segelas kopinya. Kalaupun pergi kesawah, cuman waktu pagi setelah ngopi dan sorenya jam 3 atau ba’da shalat Ashar. Tidak bekerja penuh waktu pagi sampai sore, sehingga untuk sepetak sawah yang bisa dikerjakan atau dibajak dalam dua hari pun memakan waktu sampai satu minggu lebih.

 Hal yang paling unik adalah terjadi ketika dua tahun lalu dimana banyak para alumni yang sekolah di perguruan Tinggi luar Negeri, mereka bersekolah dengan beasiswa atau dibiayai oleh Pemerintah, mereka menuntut untuk diberikan pekerjaan sebagai pegawai pada pemerintahan atau dengan istilah lain mereka menuntut pemerintah untuk diangkat menjadi PNS. Walaupun mereka telah mengutarakan berbagai alasan, seperti dengan mengatakan bahwa mereka lebih berkompeten daripada yang kuliah didalam negeri, dan lain sebagainya, sehingga lebih layak untuk diangkat menjadi PNS, secara langsung adanya fakta tersebut telah mengindikasikan bahwa mereka juga sudah dipengaruhi oleh budaya hidup santai yang berkembang di lingkungan masyarakat Aceh.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda