Budaya Santai Dalam Kaitan Banyaknya Minat Menjadi PNS
Menurut banyak penulis blog, seperti Romo
Mangunwijaya pernah menulis bahwa banyaknya minat untuk menjadi PNS punyai
kaitan dengan sistem pendidikan kita yang masih mewarisi mental pendidikan dari
zaman penjajahan dulu. Zaman dulu Kolonial Belanda mendidik orang supaya
patuh dan taat pada pemerintah agar bisa menjadi ambtenaar (PNS zaman kolonial) yang merupakan jabatan terhormat
ketika itu. Tentunya jabatan terhormat ini dibarengi oleh
fasilitas-fasilitas yang serba terjamin, serba enak, dan serba menyenangkan.
Oleh sebab itu lah, menurut saya banyak masyarakat mempunyai pandangan seperti
itu, pekerjaan terhormat dan beragam fasilitas yang menyenangkan, sehingga
mereka mengidolakan pekerjaan PNS.
Mengenai
budaya santai itu sendiri, jika kita melihat digampong-gampong banyak warga
bersantai ria diwarung kopi, pos kamling, balai-balai kosong, atau dimenasah,
mereka mengobrol ria sambil mengisap rokok bersama-sama dengan tidak mengenal
waktu apakah pagi, siang atau malam. Bisa
kita cermati jika setiap warga yang nongkrong itu, tidak semuanya adalah mereka
orang yang punya duit. Ada banyak kebutuhan dirumah tangganya, dan terdapat
begitu banyak ruang untuk bekerja dan banyak yang harus mereka kerjakan dirumah
untuk kebutuhan sanak keluarganya, tapi mereka tetap memilih santai.
Saya pernah
mendengar langsung, seorang pekerja dari Jawa,
yang saat itu dia bekerja sebagai pemasang kabel listrik pada
tower-tower listrik proyek pembangunan PLN untuk mencukupi kebutuhan listrik
diwilayah Pidie yaitu Geumpang, dan sekitarnya. Dia mengatakan, “orang Aceh
hidupnya senang sekali ya, banyak waktu luang, bisa banyak santai, tiap pagi
bisa ngopi, kesawah pun santai”.
Secara tidak
langsung apa yang dikatakan oleh si pekerja ini memang sangat beralasan. Dia
melihat saban pagi orang santai diwarongkopi dan segelas kopinya. Kalaupun
pergi kesawah, cuman waktu pagi setelah ngopi dan sorenya jam 3 atau ba’da
shalat Ashar. Tidak bekerja penuh waktu pagi sampai sore, sehingga untuk
sepetak sawah yang bisa dikerjakan atau dibajak dalam dua hari pun memakan
waktu sampai satu minggu lebih.
Hal yang paling unik adalah terjadi ketika dua
tahun lalu dimana banyak para alumni yang sekolah di perguruan Tinggi luar
Negeri, mereka bersekolah dengan beasiswa atau dibiayai oleh Pemerintah, mereka
menuntut untuk diberikan pekerjaan sebagai pegawai pada pemerintahan atau
dengan istilah lain mereka menuntut pemerintah untuk diangkat menjadi PNS.
Walaupun mereka telah mengutarakan berbagai alasan, seperti dengan mengatakan
bahwa mereka lebih berkompeten daripada yang kuliah didalam negeri, dan lain
sebagainya, sehingga lebih layak untuk diangkat menjadi PNS, secara langsung
adanya fakta tersebut telah mengindikasikan bahwa mereka juga sudah dipengaruhi
oleh budaya hidup santai yang berkembang di lingkungan masyarakat Aceh.
Label: Lainnya


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda