16/12/2015

Kriteria Pemimpin dan Manajemen Organisasi Yang sesuai dengan Konsep Islam

Dalam perspektif Islam, setiap manusia yang terlahir kedunia ini diperuntuk untuk menjadi seorang pemimpin dimuka bumi ini. Tidak hanya untuk makhluk hidup lainnya yang ada dibumi ini, namun juga menjadi pemimpin bagi sesamanya guna pencapaian tujuan bersama.
Secara umum dalam Islam memberikan gambaran atau kriteria seseorang pemimpin yang baik, antara lain yaitu sebagai berikut :
1.                  Memiliki sifat fathanah atau akal yang cerdas. Akal yang cerdas sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya terutama dalam pengambilan keputusan secara bijaksana.Hal ini di karenakan tak jarang karena pemimpin yang kurang cerdas dalam sebuah organisasi, khususnya dalam mengambil setiap kebijakan yang berhubungan dengan masyarakat banyak menimbulkan kekacauan dan keresahan bagi masyarakat sebagai lingkungan hidup organisasi.

2.                  Memiliki sikap amanah yang tinggi. Amanah adalah sifat yang harus dimiliki oleh siapa saja terutama sebagai seorang pemimpin. Amanah mempunyai makna yaitu dapat sipercaya atau terpercaya. Seseorang yang memiliki iman yang tinggi maka sikap amanahnya juga tinggi. Bahkan sebagai masyarakat kita bisa mengukur jika semakin tinggi keimanan seseorang maka itu akan semakin amanah. Banyak sekali ayat-ayat Allah yang meegaskan bahwa tidak bolehnya kita melanggar atau mengkhianati amanah-amanah yang telah Allah berikan. QS Al Anfal: 27 “ Hai orang-orang yang beriman, jangalah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”  
3.                  Memiliki sifat as shiddiq atau jujur dalam bertindak. Sebagai seorang pemimpin mesti memiliki sifat jujur, jujur pada dirinya sendiri dan terlebih lagi jujur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, termasuk jujur dalam menerima Amanah dari Allah.  
4.                  Seorang pemimpin mesti memiliki sifat yang rela berkorban yang tinggi. Seorang pemimpin haruslah memiliki keyakinan yang tinggi akan janji Allah bahwa Allah akan membalas setiap orang yang berkorban khususnya dalam kemaslahatan umat yang banyak. Maka oleh karena itu orang yang memiliki sikap kepekaan yang tinggi yaitu rela berkorban maka itu merupakan ciri pemimpin yang baik.
2.4.      Manajemen Organisasi  Yang Sesuai Dengan Kaidah Islam
            Teori dan konsep manajemen yang digunakan saat ini sebenarnya bukan hal yang baru dalam perspektif Islam. Manajemen itu telah ada paling tidak ketika Allah menciptakan alam beserta isinya. Unsur-unsur manajemen dalam pembuatan alam serta makhluk-makhluknya lainnya tidak terlepas dengan manajemen langit. Ketika Nabi Adam diutus sebagai khalifah memimpin alam raya ini juga telah melaksanakan unsur-unsur manajemen tersebut.
             Secara umum ada lima konsep besar untuk mewujudkan organisasi yang kokoh. Kelima hal tersebut yaitu sebagai berikut :
a.       Pertama, untuk mewujudkan organisasi yang kokoh diperlukan adanya kesesuaian konsep antara perkataan dan perbuatan. Dalam A-Quran setiap muslim yang beriman dianjurkan untuk memahami dan melaksanakan hal tersebut. Selain itu, yang diwajibkan di sini adalah orang-orang beriman bukan hanya satu orang beriman saja tetapi juga untuk konsep orang yang banyak atau  kejamaahannya yang dalam dunia akademik diartikan sebagai keorganisasian. Kesesuaian antara konsep perkataan dan pelaksanaan artinya tidak hanya lihai merumuskan ide yang tidak diiringi dengan amal nyata. Namun justru keduanya harus berjalan dengan sinergi antara konsep dan pelaksanaan. Organisasi itu harus mempunyai konsep cara bekerja. Bukan hanya sekedar mempunyai kemampuan bekerja tetapi juga menguasai cara bekerja. Penguasaan cara bekerja akan memudahkan bagaimana mencapai tujuan berkerja.
b.      Kedua, memiliki tipe juang yang tinggi . Dalam Islam Allah SWT menyukai mukmin yang berjuang dalam setiap bidang kehidupannya dan juga dalam jamaahnya atau keorganisasian. Ciri dari oraganisasi yang kokoh adalah seluruh komponen di dalamnya saling menguatkan satu dengan yang lain. Dapat dirinci, bahwa solidaritas organisasi memiliki tiga ciri, yaitu: masing-masing komponen didalamnya bisa menguatkan satu dengan yang lain, bersinergi dalam bekerja serta memiliki program yang jelas, termasuk pembagian pelaksanaan program (pembagian potensi dan pemanfaatan kemampuan). Dalam hal ini, diperlukan adanya ketepatan di dalam penempatan orang. Kalau di ibaratkan rumah maka organisasi harus jelas siapa yang harus jadi tiang, jendela, atap, dan sebagainya.
c.       Ketiga, mengukur setiap tantangan-tantangan yang akan dihadapi dalam kerja-kerja organisasi. Dalam organisasi perlu memahami akan setiap tantangan yang akan dihadapi, Jika kita mengetahui ukuran tantangan itu, maka kita bisa membuat program yang bisa mengatasi tantangan tersebut. Kegagalan dalam mengukur tantangan yang akan dihadapi, akan mengakibatkan ketidakjelasan merumuskan tahap-tahap pelaksanaan amal sehingga bisa terjebak dalam suatu amal yang bersifat asal-asalan. Tantangan yang perlu diukur adalah semua tantangan baik dari dalam maupun luar organisasi.
d.      Keempat, memiliki konsep perjuangan organisasi. Untuk membangun sebuah organisasi yang kokoh diperlukan adanya sebuah konsep perjuangan organisasi. Dan sebuah konsep perjuangan itu hendaknya sebuah konsep yang mengandung motivasi sert makna optimisme yang jauh dari konsep perjuangan yang ‘menakutkan’ (tidak realistis dan membuat komponen di dalamnya ragu dapat melaksanakannya atau tidak).
e.       Kelima, adanya kader-kader militan. Keberhasilan suatu perjuangan dalam organisasi juga ditentukan dengan ada tidaknya kader-kader militan di dalamnya. Militan ini terkait dengan makna komitmen, konsistensi, keseimbnagan), ketaatan serta kecintaan. Karena memang amal yang baik dari seorang kader organisasi tidak akan bisa terwujud tanpa lima hal di atas. Dan dengan memiliki kader yang militan, amal-amal terbaik akan dihasilkan dalam organisasi.
Selain kelima hal tersebut untuk mewujudkan organisasi yang  kokoh,di dalam organisasi juga diperlukan adanya ruuh (semangat) organisasi. Dan ruuh organisasi ditentukan oleh sistem yang ada dalam organisasi, kualitas sang pemimpin, sejauh mana organisasa mempunyai semangat kompetisi dengan yang lain serta sejauh mana memadukan semangat dan ilmu yang dimiliki.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda