20/05/2019

Kisah Syam’un Al-Ghazi dan Lailatull Qadar

Jika memasuki bulan Ramadhan, seringkali kita mendapati para penceramah yang menceritakan kisah seorang pejuang Allah yang bernama Syam’un Al-Ghazi . Tak jarang pula para penceramah mengaitkannya dengan malam Lailatul Qadar yang pahala ibadah di malam tersebut lebih baik dari 1000 bulan. Lalu pertanyaannya, siapa sih Syam’un Al-Ghazi dan apa hubungan Syam’un Al-Ghazi dengan Lailatul Qadar?

Nah, berikut penjelasannya.

Perlu diketahui, Syam’un Al-Ghazi, memiliki sejumlah nama dalam berbagai bahasa. Dalam bahasa Arab, misalnya, beliau disebut dengan nama Syamsyawn atau Syam’un. Sedangkan dalam bahasa Ibrani, disebut Šimšon, dan  dalam bahasa Tiberias disebut Šhimšhôn. Sementara dalam dalam Alkitab Nasrani, nama Syam’un Al-Ghazi disebut dengan Samson. 


Ilustrasi

Nama Syam’un sendiri memiliki arti “yang berasal dari matahari”, sedangkan al-Ghozi, menunjukkan tempat tinggalnya yaitu  berasal dari Ghazi  (Ghaza, Palestina sekarang).

Sebenarnya Syam’un Al-Ghazi berasal dari Bani Israil yang diutus untuk berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT di tanah Romawi. Dalam beberapa literatur, disebutkan, Syam’un Al-Ghazi memiliki senjata semacam pedang yang terbuat dari tulang rahang unta bernama Liha Jamal, dengan pedang itu dia dapat membunuh ribuan orang kafir. Siapapun musuh yang berhadapan dengannya, pasti akan hancur dengan pedang ajaibnya. Tidak hanya itu, bahkan ketika dia merasa haus dan lapar, dengan perantara pedangnya pula Allah memberikan makanan dan minuman.

Syam’un Al-Ghazi adalah seorang muslim dan seorang yang ahli ibadah yang sangat disegani oleh kaum kafir. Sudah tak terhitung lagi orang kafir yang mati di tangannya. Selain itu, Syam’un Al-Ghazi juga terkenal sebagai ahli ibadah dan tercatat ia sanggup beribadah selama 1000 bulan dengan shalat malam dan siangnya berpuasa, dimana selama 1000 bulan tak pernah lepas dari shalat malam dan siangnya selalu berpuasa.

Ketangguhan dan keperkasaan Syam’un Al-Ghazi ini dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil. Sehingga membuat membuat kaum kafirin kewalahan.

Dalam menghadapi kesaktian Syam’un Al-Ghazi tersebut, dibuatlah rencana untuk membunuh Syam’un Al-Ghazi yang diinisiasi oleh sang raja Israil sendiri. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Syam’un Al-Ghazi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah. Akhirnya ide licik-pun ditemukan. Mereka menawarkan hadiah berupa uang dan perhiasan yang berlimpah kepada istri Nabi (Istri Syam’un Al-Ghazi), dengan syarat ia harus melumpuhkan suaminya.

Mereka  memanfaatkan Istri Syam’un Al-Ghazi yang tergiur dengan hadiah yang ditawarkan, untuk ikut membantu membunuh Syam’un Al-Ghazi. Kaum kafirin memberikan ide agar dia mengikat tangan dan kaki Syam’un sewaktu tidur, untuk kemudian akan dibunuh dengan beramai-ramai. Para pembesar-pembesar Kafir berkata, “Kami akan memberimu seutas tali kuat, ikatlah tangan dan kakinya ketika dia tidur, nanti setelah itu kamilah yang bertindak untuk membunuhnya.”

Pada hari pertama, istri Syam’un Al-Ghazi  gagal karena ketiduran yang disebabkan karena suaminya terlalu lama mengerjakan shalat malam. Lama waktunya itu sehingga membuat istri Syam’un Al-Ghazi tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat. Memang Syam’un Al-Ghazi  tidurnya hanya sedikit saja dalam semalam. Dimana malam-malamnya hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Keesokan harinya, istri Syam’un Al-Ghazi melapor kepada pembesar kafir quraisy bahwa dia belum berhasil mengikat tangan dan kaki suaminya. Mereka tidak mempermasalahkan hal ini.

Pada hari kedua, Istri Syam’un berhasil mengikat suaminya ketika tidur dengan seutas tali yang kuat. Tatkala Syam’un bangun dan ingin beribadah kepada Allah SWT, ia terkejut karena kedua kakinya terikat. “Wahai istriku, siapakah yang mengikatku dengan tali ini?” tanya Syam’un Al-Ghazi kepada istrinya. “Aku yang mengikat, hanya sekedar mengujimu sampai sejauh mana kekuatanmu,” ujar istrinya.

Syam’un Al-Ghazi dengan mudah dapat melepaskan tali yang mengikatnya dengan satu ucapan doa. Kemudian Syam’un lalu bergegas menuju tempat peribadatannya. Maka gagallah rencana pembunuhan pada hari kedua itu. Namun, setelah itu, musuh-musuh kafir datang lagi dengan membawa rantai dan istri Syam’um siap mengikat suaminya lagi pada keesokan malamnya.

Pada hari ketiga, Istri Syam’un Al-Ghazi  di hari ketiga itu berhasil lagi mengikat suaminya dengan rantai yang diberikan oleh orang-orang kafir. “Wahai istriku, siapakah yang mengikatku kali ini?” tanya Syam’un dengan nada agak marah ketika bangun dari tidur. “Aku yang mengikatnya, sekedar untuk mengujimu,” jawab istrinya.

Namun, dengan sekali hentakan Syam’un dapat menghancurkan rantai tersebut.
Lalu Syam’un Al-Ghazi segera menarik tangannya dan memotong rantai itu. Kemudian istrinya pun segera membujuk suaminya agar mau menceritakan rahasia kekuatan tubuh yang dimiliki suaminya. Akhirnya Syam’un Al-Ghazi  bercerita juga, jika sebenarnya ia adalah seorang wali dari sekian banyak WALIYULLAH yang hidup di dunia ini.

Syam’un Al-Ghazi  berkata “Wahai istriku aku wali diantara wali kekasih Allah, segala perkara dunia ini tidak ada yang sanggup mengalahkan diriku, aku punya rambut panjang ini, ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkanku dalam perkara dunia kecuali rambutku ini,” jelas Syam’un.

Syam’un Al-Ghazi  memang memiliki rambut yang panjang dan panjangnya digambarkan bahwa ujung rambutnya akan menyentuh tanah saat ia berdiri.

Karena sudah mengetahui kelemahan suaminya, akhirnya pada saat syamun tidur mulailah istrinya mengikat tangan Syam’un Al-Ghazi  dengan 4 helai rambutnya dan mengikat pula kakinya dengan 4 helai rambut milik Syam’un, sementara ia tetap dalam tidurnya.

Setelah bangun, Syam’un Al-Ghazi  bertanya, “Wahai istriku, siapakah yang mengikatku ini?” “Aku, untuk mengujimu,” jawab istrinya yang mulai ketakutan.

Setelah itu Syam’un Al-Ghazi  berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan itu, namun dia tidak berdaya untuk memotongnya. Si istri langsung memberitahukan kepada kaum kafir tentang hal ini. Nabi Syam’un al-Ghazi as lalu dibawa ke istana kehadapan raja para kafirun. namun dia tidak berdaya untuk memotongnya. Si istri langsung saja memberitahukan kepada kaum kafir tentang hal ini.

Syam’un al-Ghazi as dibawa ke istana kehadapan raja para kafirun. Lalu diikat pada tiang utama istana dan dipertontonkan kepada khalayak istana. Mulailah mereka menyiksa Syam’un Al-Ghazi. Mereka memotong kedua telinga, bibir, kedua tangan dan kakinya. Tidak hanya itu, Syam’un Al-Ghazi juga disiksa dengan dibutakan kedua matanya,

Mereka menyiksa Syam’un Al-Ghazi  dengan tujuan agar beliau mati secara perlahan-lahan. Istrinya yang jahat, ikut pula menyaksikan penyiksaan tersebut tanpa rasa belas kasihan.

Pertolongan Allah SWT pun datang, Begitu hebatnya siksaan tersebut, membuat Allah SWT lewat perantaraan malaikat jibril berbicara dengan suaranya yang hanya bisa didengar oleh  Syam’un al-Ghazi as, “Hai Syam’un apa yang engkau inginkan, Aku akan menindak mereka.” Nabi menjawab, “Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku hingga aku mampu menggerakkan tiang istana ini, dan akan kuhancurkan mereka dengan kekuatan dari Allah !. Bismillah. La haula wa la quwwata illa billah!

Do’a Syam’un al-Ghazi as dikabulkan Allah SWT. Allah SWT memberi kekuatan kepada Syam’un Al-Ghazi  yang kekuatannya tidak bisa dibayangkan dan melebihi kekuatan dari rambutnya sendiri. (baca juga: Tiga peristiwa besar di Bulan Ramadhan)

Maka dengan seizin Allah,  Syam’un al-Ghazi menggoyangkan tiang istana tersebut, Syam’un hanya beringsut sedikit saja, putuslah tali rambut itu bahkan dan tiang itupun rubuh menimpa raja bersama seluruh khalayak istana termasuk istrinya yang durhaka dan orang-orang yang telah menyiksanya. Tiangnya juga ikut roboh dan hancur lebur. istana yang dijadikan tempat pembantaian itu juga turut hancur dan atapnya menimpa orang-orang kafir dan semuanya mati.

Begitu juga dengan istrinya, juga ikut tertimpa reruntuhan gedung istana raja kafir. Mereka semua mati tertimpa reruntuhan bangunan istana dan terkubur didalamnya. Hanya Syam’un sendiri yang selamat, lalu Allah mengembalikan seluruh anggota badan yang telah terpotong dan menyembuhkan segala sakitnya.

Syam’un Al-Ghazi  bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua kebatilan dan kekufuran selama 1000 bulan tanpa henti. Syam’un Al-Ghazi menyibukkan diri dalam beribadah kepada Allah. Malam hari dilalui dengan memperbanyak shalat malam, sedangkan siangnya beliau berpuasa. Syam’un Al-Ghazi menjalankan ibadahnya selama seribu bulan hingga ajalnya tiba. Sungguh tidak terbayangkan pahala yang didapatkan oleh Syam’un Al-Ghazi terhadap ibadah yang sudah dilakukannya.

Namun demikian, ada yang lebih baik lagi dan pahalanya lebih besar dibandingkan ibadah yang dilakukan oleh Syam’un Al-Ghazi, yakni pahala beribadah di malam lailatul qadar. Lailatul Qadar lazimnya terjadi pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan, dan datang pada malam yang ganjil. Barangsiapa yang berhasil dan mendapat kesempatan beribadah di malam tersebut, maka pahalanya lebih besar dibandingkan pahala hasil ibadah dan perjuangan Syam’un Al-Ghazi  selama 1000 bulan.

Nah, berangkat dari kisah itulah makanya saat tiba bulan Ramadhan para penceramah tidak bosan-bosannya memotivasi para pendengar untuk berburu Lailatul Qadar. Itu dikarenakan Lailatur Qadar adalah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan lainnya.


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda