24/12/2019

Sejarah Singkat Etnis Uighur di Xinjiang Cina

Potret kecantikan gadis Uighur

Polemik suku Uighur yang mendiami wilayah Xinjiang di China kini tentu saja menjadi sorotan banyak pihak. Ini karena perlakuan dari Cina seperti menahan warga suku Uighur di kamp-kamp khusus dan mendapat perlakuan diskriminatif.

Bahkan, sebuah komite PBB mendapat laporan soal ditahannya satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya di wilayah Xinjiang Barat pada Agustus 2018 lalu.

Xinjiang adalah provinsi yang didiami etnis muslim Uighur yang dulu wilayah ini disebut Republik Turkmenistan Timur sebelum diduduki China. Xinjiang saat ini merupakan daerah otonomi di dalam Republik Rakyat China (People's Republic of China). 

Wilayah minoritas Uighur ini adalah produk dari perluasan dinasti Qing (1644-1911) selama abad ke 18. Xinjiang berubah dari sebuah wilayah yang independen menjadi provinsi kekaisaran China di tahun 1880an. Setelah dinasty Qing berakhir, Xinjiang diduduki oleh Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army) pada tahun 1950. 

Xinjiang merupakan rumah dari etnis Uyghur yang hidup berdampingan dengan komunitas lain yang lebih sedikit jumlahnya seperti etnis Kazakh, Kirghiz, Mongol, Tajik, Rusia serta pendatang Han dan Hui dari China belahan timur. 

Wilayah minoritas Uighur ini adalah produk dari perluasan dinasti Qing (1644-1911) selama abad ke 18. Xinjiang berubah dari sebuah wilayah yang independen menjadi provinsi kekaisaran China di tahun 1880an. Setelah dinasty Qing berakhir, Xinjiang diduduki oleh Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army) pada tahun 1950. 

Xinjiang merupakan rumah dari etnis Uyghur yang hidup berdampingan dengan komunitas lain yang lebih sedikit jumlahnya seperti etnis Kazakh, Kirghiz, Mongol, Tajik, Rusia serta pendatang Han dan Hui dari China belahan timur.

Ekspansi China

Ekspansi China dimulai antara Perang Dunia Pertama dan Kedua dan berlanjut hingga awal 1960an. Selama proses ekspansi, beberapa negara merdeka secara sistematis dianeksasi oleh rezim Han China. China menduduki negara-negara merdeka seperti Turkmenistan Timur atau Xinjiang masa kini, Mongolia Dalam dan juga Manchuria. Dengan kebijakan yang sama, negeri tirai bambu juga mencaplok Tibet pada pertengahan tahun lima puluhan. 

Dengan demikian, untuk melacak asal usul Xinjiang saat ini, haruslah kembali ke sejarah masa lalu pada akhir 1920-an dan 1930an ketika Xinjiang adalah negara independen Turkmenistan Timur yang diduduki oleh China.

Ibukota Xinjiang, Urumqi secara historis dikenal sebagai Dihua atau Tihwa, karena nama "Urumqi" dalam bahasa Mongolia berarti "padang rumput yang indah". Padang rumput yang indah sekarang telah digantikan oleh sebuah kota metropolitan yang luas dan pusat perdagangan antara China dan Asia Tengah.

Urumqi adalah sebuah kota yang secara geografis terletak di sebuah lembah di antara wilayah TianShan, pegunungan yang memotong Xinjiang menjadi dua. Selama beberapa dekade terakhir Urumqi telah menjadi kota penuh sesak yang untungnya tidak jauh dari alam yang indah seperti Danau Surgawi (heavenly lake) atau Padang Rumput Selatan (southern grassland).

Tidak semua orang di China terlihat seperti "orang Asia". Ada 55 etnis minoritas yang diakui secara resmi di negara ini termasuk Uighur dan Russia.

Mayoritas etnis Uyghur di dunia berada di Xinjiang, dimana mereka mempraktekkan agama Islam, dan merupakan kelompok etnis yang beragam secara fisik mulai dari mirip orang dari Eropa Barat (Eropa, Timur Tengah) hingga penampilan layaknya bangsa Asia Timur.

Etnis Rusia juga salah satu dari 56 kelompok etnis yang secara resmi diakui oleh pemerintah China yang tinggal di Xinjiang, sesuai klasifikasi etnis di negeri tirai bambu tersebut. Mereka yang berada di daratan China adalah keturunan orang-orang Rusia yang menetap di sana sejak abad ke-17, dan mempertahankan kewarganegaraan China, bukan kewarganegaraan Rusia.

Selama abad ke-17, Kekaisaran Rusia meluncurkan beberapa serangan militer terhadap Kekaisaran Qing di China. Pada tahun 1644, sekelompok tentara Rusia dikalahkan oleh pasukan Qing. Selama Pertempuran Yagsi, hampir 100 orang Rusia menyerah kepada penguasa Qing, Kaisar Kangxi  mereka izin untuk bergabung dengan pasukan "Bordered Yellow Banner". Keturunan mereka ada sampai hari ini dan dikenal sebagai Albazinians.


Dirangkum dari berbagai sumber

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda