27/06/2019

3 Manfaat Belajar Sosiologi



Sosiologi berasal dari Bahasa Latin yang terdiri dari dua kata, yakni ‘socius’ dan ‘logos’ yang artinya ‘teman’ atau ‘masyarakat’ dan ‘ilmu pengetahuan’. Jadi, Sosiologi dapat dimaknai sebagai  ilmu yang berbicara tentang kemasyarakatan  atau pola-pola interaksi yang ada di dalam masyarakat.

Terdapat beberapa manfaat yang bisa diperoleh dalam mempelajari Sosiologi. Berikut ini adalah manfaatnya, antara lain yaitu;

1. Memahami keragaman budaya masyarakat

Salah satu unsur dalam masyarakat yang menjadi objek kajian sosiologi adalah budaya. Karena setiap masyarakat memiliki budayanya masing-masing. Budaya masyarakat ada yang tradisional dan ada yang modern. Sosiologi mempelajari budaya masyarakat yang sangat kompleks. Kompleksitas menyiratkan adanya keragaman yang rumit.

Dengan mempelajari sosiologi, pembelajar tentunya juga mempelajari aneka ragam budaya masyarakat. Pengetahuan akan keragaman ini bisa digunakan untuk menumbuhkan sikap toleran terhadap budaya lain di masyarakat.

2. Menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi

Mempelajari sosiologi adalah mempelajari kehidupan sosial orang-orang yang berbeda dengan kita. Perbedaan tersebut bisa meliputi segala aspek. Diferensiasi sosial adalah kenyataan yang ada di masyarakat. Perbedaan perilaku dan tindakan sosial sering dapat kita pahami dengan cara merefleksikan diri kita ketika berada di posisi orang lain. 

Upaya refleksi ini bisa meningkatkan rasa empati yang tinggi. Tak jarang ketika belajar sosiologi, kita didorong untuk ”berjalan memakai sepatu orang lain”, artinya merasakan apa yang orang lain rasakan.

3. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis

Sosiologi mengajarkan anak didiknya untuk tidak menerima kenyataan begitu saja tanpa refleksi dan peneyelidikan lebih lanjut. Realitas sosial yang ada di sekitar kita tidak terjadi begitu saja, melainkan hasil interaksi kehidupan sosial yang diciptakan manusia. 

Sebagai contohnya, realitas sosial di masyarakat mengatakan bahwa acara TV alay digemari masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ratingnya yang tinggi. Pembelajar sosiologi tidak akan menerima argumen itu begitu saja. Sosiologi mengajarkan kita untuk melakukan refleksi dengan bertanya, misalnya, siapa saja pihak yang diuntungkan dengan argumentasi tersebut, apakah masyarakat kita menonton acara alay karena pilihan mereka atau karena tidak ada acara lain, apakah  komisi penyiaran tidak punya wewenang menentukan jenis acara, apakah acara alay memiliki nilai positif, dan sebagainya.

3. Mendorong terciptanya integrasi sosial

Manfaat sosiologi sebagai pendorong terwujudnya integrasi sosial bisa dipahami dalam konteks kebangsaan yang multikultur dan multietnis. Terkait dengan apa yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa sosiologi mengajarkan keragaman budaya pada pembelajarnya, pembelajar sosiologi diajarkan pula untuk berintegrasi secara sosial ditengah keragaman budaya. 

Pengetahuan akan keragaman bisa menjadi fondasi spirit toleransi antar budaya dan etnis. Saling kepahaman antar masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda merupakan modal besar untuk menciptakan integrasi atau kesatuan sosial. Integrasi sosial merupakan bentuk kehidupan sosial yang solid dan harmonis.


Ketiga manfaat sosiologi yang telah diulas di atas tentunya hanya secuil saja dari banyak manfaat lain yang bisa didapatkan. Pembelajar sosiologi atau pembelajar ilmu sosial pada umumnya akan menerima manfaat secara langsung bila menekuni apa yang dipelajarinya. 

Manfaat tersebut bisa dirasakan pada level personal dan bisa pula sampai pada level masyarakat ketika ilmu yang sudah dipelajari diamalkan. Pengamalan ilmu pengetahuan tentu tidak boleh hanya menguntungkan diri pribadi, melainkan harus bisa dirasakan oleh masyarakat banyak.

Semoga bermanfaat.

Label: ,

26/06/2019

Mengenal Social Climber; Sebuah Penyakit Jiwa, Ingin Terlihat Kaya di Media Sosial


Social Climber merupakan istilah yang tidak begitu asing lagi di telinga kita. Istilah ini merujuk kepada orang yang mencari pengakuan di dunia maya (social media) yang lebih tinggi dari kondisi atau status yang sebenarnya. Mencuatnya istilah 'Social Climber' tak lain seiring dengan ramainya pemberitaan kasus penipuan di media sosial.

Sepintas jika dicermati, para pengidap perilaku social climber ini dapat kita kenali karena memiliki gaya hidup yang lebih glamour dan selalu ingin terlihat mewah didepan orang banyak; supaya dibilang orang kaya, keren, mewah dan sebagainya. Mereka pun dengan khayalannya, berusaha untuk meningkatkan status sosial dengan  menghalalkan berbagai cara.

Baca juga: Mengenal Skizofrenia 

Bila tidak terlihat kaya, mereka pun akan merasa khawatir, depresi dan tidak percaya diri. Contoh yang sering dijumpai, mereka selalu menggunakan barang brand mahal, meski kenyataannya tidak benar-benar mampu untuk membelinya.

Dilansir Psychology Today, perilaku pengidap social climber biasanya berasal dari rasa kurang percaya diri dan tendensi ekstrem untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Meski dari luar terlihat atraktif dan mudah membaur dengan orang lain, sebenarnya social climber cenderung tidak percaya diri dan merasa diri mereka kurang bila dibandingkan dengan orang lain.

Para pengidap social climber akan selalu melihat orang lain lebih baik dari diri mereka dalam hal karier, penampilan, dan karakter diri. Jadi karena social climber kurang percaya diri, mereka akan menggunakan eksistensi orang lain untuk meningkatkan rasa percaya diri.

Karena itulah, tak heran pengidap social climber tidak ingin berteman dengan orang lain yang mereka anggap memiliki status sosial lebih rendah. Krisis identitas dan gaya hidup juga menjadi salah satu alasan social climber semakin banyak muncul di masyarakat. Peran media sosial dalam keberadaan social climber pun banyak berpengaruh.

Baru-baru ini, sebuah kasus yang menjerat seorang perempuan bernama Marieta Safitri menjadi buah bibir di jagat maya karena disebut telah menipu banyak orang hingga ratusan juta rupiah dengan modus menjanjikan promo tiket pesawat murah melalui agen travel yang dibuatnya bernama Roxy Tour Travel. Sekarang, Marieta Safitri yang berstatus mahasiswi tersebut telah dilaporkan ke Polda Jatim atas dugaan kasus penipuan tersebut. Ternyata, uang ratusan juta hasil penipuan ini digunakan untuk berjalan-jalan ke luar negeri dan membeli barang-barang mewah untuk dipamerkan di media sosialnya.

Marieta Safitri merupakan satu dari banyak contoh berseliwerannya pengidap social climber di sekeliling kita. Nah, pertanyaannya bagaimana sih mengenali atau mendeteksi tanda-tanda social climber itu? Jangan-jangan kamu termasuk salah satunya. Berikut ciri-cirinya:

1. Selalu Ingin Terdepan di Media Sosial
Pengidap Social climber paling suka menggunggah foto kegiatan kesehariannya baik itu foto di mall, tempat fitness, café, restoran atau tempat mewah lainnya. Ironisnya, keadaan para pengidap social climber tidak sesuai dengan realitanya. Penyakit suka pamer segala sesuatu hal itu tak lain untuk menunjukkan eskistensinya seolah berasal dari kalangan atas, padahal dia dari golongan menengah ke bawah.

2. Terobsesi pada Pujian di Media Sosial
Pengidap Social climber memiliki satu obsesi yang sukar dipahami logikan, yakni pujian terhadap upload foto keren di media sosial, terutama Instagram. Mereka merasa senang ketika orang lain memberikan ‘like’ kepadanya dan menuliskan comment tentang bertapa kerennya mereka. Sehingga, mereka akan lebih suka menghabiskan harinya untuk foto-foto sebagus mungkin dengan jalan-jalan ke tempat bagus atau makan di restoran yang bergaya.

3. Selektif dalam Memilih Teman
Untuk mendapatkan pengakuan sosial, pengidap Social climber akan berusaha untuk ikut masuk ke dalam lingkaran pertemanan kelas atas; yang mereka inginkan. Dalam perjalanan menuju ke sana, mereka akan selektif memilih teman dan tidak ingin berbasa-basi dengan orang lain yang mereka anggap berstatus sosial lebih rendah.

4. Ingin Menjadi Pusat Perhatian
Salah satu hal yang diinginkan oleh pengidap Social climber adalah rasa kagum dari orang lain. Jika orang lain memperhatikan mereka, ini akan membuat mereka senang dan puas. Tidak ada yang lebih membanggakan mereka ketimbang pujian dan semacamnya dari orang banyak. Karena itu, tak sungkan mereka akan berusaha memakai sesuatu yang menjadi pusat perhatian orang banyak. Tentu yang memiliki brand dan mewah.

5. Menutupi Identitas dan Informasi Pribadi
Tanda-tanda lain dari pengidap Social climber ialah menutup identitas pribadinya. Segala macam informasi pribadi seperti, kehidupan asli yang mereka jalani, dan sebagainya disembunyikan dari publik. Jadi, ketika ada temannya yang mau datang ke rumahnya, mereka memiliki seribu alasan tersebab takut identitasnya terbongkar.

Apakah penyakit social climber berbahaya?

Social climber merupakan benih penyakit kejiwaan yang sangat berbahaya. Para pengidap penyakit social climber bisa melakukan hal-hal negatif sekalipun agar ia bisa tampil mewah. Sebagai contohnya saja, pegawai negeri golongan I menginginkan hidup dengan rumah megah, mobil mewah, barang-barang keseharian yang berharga puluhan sampai ratusan juta, tentu gaji dari menjadi PNS tidak bisa mencukupi, dan jalan pintasnya kemungkinan korupsi. Dan tak jarang kita dapati ada juga PNS yang menggadaikan sesuatu yang berharga dimiliki yaitu SK PNSnya hanya untuk mendapatkan sesuatu yang mampu mendapat status kaya di lingkungan sekitarnya.

Menjadi orang kaya memang tidak ada salahnya, namun harus melalui proses dan perjuangan terlebih dahulu. Selain itu, yang perlu disadari ialah memilih hidup sederhana dan apa adanya  akan membuat hidup lebih tenang dan bahagia.

Pertanyaan selanjutnya yang sering muncul ialah, bisakah keluar dari status Social Climber? Tentu bisa, dan berikut adalah cara sederhananya:

1.Tampil Apa Adanya
Dengan tampilan yang apa adanya, tanpa perlu membohongi diri sendiri kita juga mampu hidup bahagia. Artinya, tidak perlu membohongi diri sendiri, bergaya sesuai dengan isi dompetmu.

2. Tidak Memilih Kelompok Pertemanan
Jika kamu tidak cocok dengan suatu kelompok tertentu, tidak perlu dipermasalahkan. Orang yang cocok akan terhubung dengan sendirinya denganmu, jika memang kamu mempunyai kemiripan visi dan goal dengan mereka.

3. Berpikir untuk Masa Depan
Ya, berpikir panjang dan sadar bahwa investasi untuk masa depan adalah hal yang lebih penting, seperti persiapan masa tua, untuk masa pensiun. Ini membutuhkan persiapan yang matang. Masa tua adalah masa seseorang sudah tidak produktif dan saatnya menggunakan uang yang kita peroleh saat muda.

Tentu semua kita tidak menginginkan jika masa tuanya teringkih dan mengemis pada anak. Beruntung jika anak mau mengayomi kita yang sudah tak berdaya dari segi finansial, namun bagaiman jika anak finansialnya juga tidak mumpuni? Nah.