27/12/2019

Pengaruh Islam dalam Kebudayaan Cina



Negara China atau Tiongkok memiliki tradisi dan kebudayaan yang unik. Cina dengan jumlah penduduk yang terpadat di dunia yang, 147 orang per km persegi atau hampir 2 miliar penduduk  membuat tradisi dan kebudayaan semakin menguat.

Masyarakat China memiliki tradisi dan budayanya sendiri, yang bisa kita amati antara lain seperti kaligrafi, makanan, gaya berpakaian, bahasa, dan lainnya.

Terlepas itu, yang jarang diketahui orang, kebudayaan Islam mempunyai pengaruh dan kedudukan yang penting dalam kebudayaan Cina. Hal ini karena Islam pernah memberi sumbangan besar terhadap perkembangan sains dan teknologi negeri itu. Diantaranya adalah kalender yang diciptakan oleh umat Islam dan pernah digunakan di Cina dalam waktu yang panjang.

Selain itu ada alat pandu arah angkasa yang dicipta oleh seorang ahli ilmu falak yang bernama Zamaruddin pada Dinasti Yuan sangat popular di Cina. Ilmu matematika yang dikembangkan dari Arab telah diterima oleh orang Cina. Ilmu perobatan Arab juga menjadi sebagian ilmu perobatan Cina.

Umat Islam juga terkenal dengan pembuatan meriam di Cina, Dinasti Yuan menggunakan sejenis meriam yang dikenali sebagai meriam etnik Huizu yang dicipta oleh orang Islam Cina. Yang jelas, Islam tidak bisa dipisahkan begitu saja di negeri itu. 

Berdasarkan hasil penelitiannya, para ilmuan barat seperti W. Montgomery Watt, Marshall G.S Hodgson, dan John Obert Voll, menyimpulkan bahwa rahasia dibalikdaya hidup umat islamdan kegigihan mereka dalam mengambil peran-peran sosial tersebut disebabkan oleh kesadaran terhadap misi ketuhanan.

Kesadaran ketuhanan itu pada gilirannya membentuk sikap hidup umat islam untuk senantiasa bersikap positif, aktif dan kreatif terhadap dunia dan permasalahan manusia.

Cina adalah sebuah negara yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Oleh karena itu didutuhkan seorang da’i untuk berdakwah di negara tersebut.

Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang, (618-905M), dan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, bahwa Islam mulai datang ke negeri itu sekitar tahun 30H atau 651M (kurun ke 7 Masehi) melalui melalui satu utusan yang dikirim oleh Khalifah Usman bin Affan (memerintah kira-kira 12 tahun (23-35H/644-656M).

Saad kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di Cina. Masjid ini, kini menjadi masjid tertua yang ada di daratan Cina dan usianya sudah melebihi 1300 tahun.

Penduduk Islam tinggal di merata tempat di seluruh Cina, terutama di bagian barat laut Cina, termasuk provinsi Gansu, Qinghai, Shanxi, wilayah otonomi Xinjiang dan wilayah otonomi Ningxia.Dakwah Saad bin Abi Waqqas di Cina dapat dibilang berhasil hal ini dapat dibuktikan dengan peradaban dan kebudayaan Islam yang diterima dan sangat berpengaruh terhadap kebudayaan Cina.

*dikutip dari berbagai sumber

Label: ,

Sejarah Masuknya Islam di China


Berbagai teori yang dikemukakan tentang masuknya Islam di Negeri Cina, namun dari adanya hadis yang menyatakan tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina yang memperkuat bahwa Islam sudah ada sejak Rasulullah hidup.
Peranan dan posisi kedudukan umat Islam di kancah perpolitikan pada masa pemerintahan Dinasti Ming sangat berarti dan bahkan Tokoh-tokoh Cina Islam memiliki andil sangat besar dalam pembentukan kekaisaran Dinasti Ming, bahkan setelah pembetukan masih diberikan peran yang menempati posisi dalam pemerintahan.
Tokok-tokoh Muslim yang telah berjasa atas berkembangnya agama Islam di dataran Cina diataranya : Imam Hasan, Ma Huan,  Feng Xin, Gong Zhen, Cheng Ho Zheng He, Mr. Lee Tiek Tsing, Zamaruddin dan Wang Tai Yu.

Negara Cina dikenal sebagai negara tak bertuhan. Apalagi mengingat ideologi mereka saat ini, yaitu komunis. Namun demikian, Islam sudah pernah berkembang semenjak ratusan tahun lalu di negeri komunis ini. Berikut sejarah awal masuk Islam di Cina;

A. Masuknya Islam di Cina

Islam telah tersebar di Cina selama lebih 1300 tahun. Kini terdapat lebih dari 20 juta warga Muslim di negeri itu. Mereka tersebar 10 suku, termasuk etnik Huizu, Uygur, Kazakh, Kirgiz, Tajik, Uzbek, Tatar dan lain-lainnya.

Penduduk Islam tinggal di merata tempat di seluruh Cina, terutama di bagian barat laut Cina, termasuk provinsi Gansu, Qinghai, Shanxi, wilayah otonomi Xinjiang dan wilayah otonomi Ningxia.Menurut Lui Tschih, seorang penulis Muslim Cina pada abad ke 18 di dalam karyanya “Chee Chea Sheehuzoo” (perihal kehidupan Nabi), utusan itu diketuai oleh Panglima Besar Saad bin Abi Waqqas (seorang sahabat Nabi).

Kota Guangzhou di Cina ternyata menyimpan sejarah kebesaran Islam. Di kota yang disebut Khanfu oleh orang Arab ini, Islam pertama kali datang dan berkembang. Kota ini menjadi pusat pengembangan Islam di Cina karena keberadaan pelabuhan laut internasionalnya.
Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-905 M dan berdasarkan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, Islam pertama kali datang ke Cina sekitar tahun 30 H atau 651 M.
Khalifah Usman memerintah imperium Muslim selama kira-kira 12 tahun. Selama kekhalifaannya , imperium Arab meluas di Asia dan Afrika.
Disebutkan bahwa Islam masuk ke Cina melalui utusan yang dikirim oleh Khalifah Ustman bin Affan, yang memerintah selama 12 tahun atau pada periode 23-35 H / 644-656 M. 

Sementara menurut catatan Lui Tschih, penulis Muslim Cina pada abad ke 18 dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi), Islam dibawa ke Cina oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas.
Sebagian catatan lagi menyebutkan, Islam pertama kali datang ke Cina dibawa oleh panglima besar Islam, Saad bin Abi Waqqas, bersama sahabat lainnya pada tahun 616 M. Catatan tersebut menyebutkan bahwa Saad bin Abi Waqqas dan tiga sahabat lainnya datang ke Cina dari Abyssinia atau yang sekarang dikenal dengan Etiopia.
Setelah kunjungan pertamanya. Saad kemudian kembali ke Arab. Ia kembali lagi ke Cina 21 tahun kemudian atau pada masa pemerintahan Usman bin Affan, dan datang dengan membawa salinan Alquran. 

Usman pada masa kekhalifahannya memang menyalin Alquran dan menyebarkan ke berbagai tempat, demi menjaga kemurnian kitab suci ini.
Pada kedatangannya yang kedua di tahun 650, Saad bin Abi Waqqas kembali ke Cina dengan berlayar melalui Samudera Hindia ke Laut Cina menuju pelabuhan laut di Guangzhou. Kemudian ia berlayar ke Chang’an atau kini dikenal dnegan nama Xi’an melalui rute yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutera.
Bersama para sahabat, Saad datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan hangat oleh kaisar Dinasti Tang, Kao-Tsung (650-683). Namun Islam sebagai agama tidak langsung diterima oleh sang kaisar. 

Setelah melalui proses penyelidikan, sang kaisar kemudian memberikan izin bagi pengembangan Islam yang dirasanya cocok dengan ajaran Konfusius.
Namun sang kaisar merasa bahwa kewajiban sholat lima kali sehari dan puasa sebulan penuh terlalu keras baginya hingga akhirnya ia tidak jadi memeluk Islam. Meski demikian, ia mengizinkan Saad bin ABi Waqqas dan para sahabat untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat di Guangzhou. Oleh orang Cina, Islam disebut sebagai Yisilan Jiao atau agama yang murni. Sementara Makkah disebut sebagai tempat kelahiran Buddha Ma-hia-wu (atau Rasulullah Muhammad SAW).

Saad bin Abi Waqqas kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di Cina. Masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di daratan Cina dan usianya sudah melebihi 1300 tahun. Masjid ini terus bertahan melewati berbagai momen sejarah Cina dan saat ini masih berdiri tegak dan masih seindah dahulu setelah diperbaiki dan direstorasi.
Masjid Huaisheng ini kemudian dijadikan Masjid Raya Guangzhou Remember the Sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhammad SAW.Masjid ini juga dikenal dengan nama 

Masjid Guangta, karena masjid dengan menara elok ini yang letaknya di jalan Guangta.
Sebagian percaya bahwa Saad bin Abi Waqqas menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di Guangzhou, Cina. Sebuah pusara diyakini sebagai makamnya.
Namun sebagian lagi menyatakan bahwa Saad meninggal di Madinah dan dimakamkan di makam para sahabat. Meski tidak diketahui secara pasti dimana Saad bin Abi Waqqas meninggal dan dimakamkan dimana, namun dipastikan ia memiliki peranan penting terhadap perkembangan Islam di Cina.

Sebagian meyakini Abi Waqqas meninggal di Guangzhou, Cina. Sebuah pusara diyakini sebagai makamnya. Namun sebagian menyatakan beliau meninggal di Madinah dan dimakamkan di makam para sahabat.

B. Islam di Cina Pasca Saad din Abi Waqqas

Setelah masa itu , Islam berkembang dengan pesat di Cina dibanding daerah-daerah lain di luar kawasan Arab. Di negara ini, Islam berkembang melalui perdagangan. Itu sebabnya, Islam berkembang di daerah sekitar pelabuhan dan bandar-bandar besar di berbagai negara.

Selain Guangzhou, salah satu daerah yang menjadi pusat perkembangan Islam adalah Quanzhou. Kota yang menjadi titik awal jalur sutera ini juga menjadi bukti nyata keindahan toleransi antar umat beragam. Di kota ini, pemeluk Islam, Hindu, Budha, Manichaeisme, Taoisme, Nestoriaisme, dan berbagai kepercayaan lain di kota ini hidup damai dan berdampingan.

Quanzhou juga ramai dikunjungi peziarah Muslim dari Arab karena keberadaan makam suci dua orang yang dipercaya merupakan sahabat Rasulullah. Dalam bahasa Cina, sahabat ini bernama Sa-ke-zu dan Wu-ko-su. Selain makam, di Quanzhou juga terdapat salah satu masjid pertama yang ada di Cina, yaitu Masjid Qingjing. Masjid ini dibangun tahun 1009, dan desain masjid ini dibuat berdasar desain masjid di Damaskus, Suriah.
Di kota ini juga terdapat sekitar 10 ribu makam orang Arab dengan nama keluarga Guo di Pulau Baiqi, Quanzhou. Makam-makam ini ditulisi dengan huruf Cina dan Arab. Makam ini jelas makam orang Islam, dan banyak di antaranya yang ditulisi dengan kata Fanke Mu yang artinya adalah makam orang asing. Ini menjadi bukti banyaknya umat Islam dari luar Cina yang menetap di kota ini.

Sayangnya kini kejayaan sejarah kota ini hilang begitu saja. Di suatu masa, Quanzhou menjadi kota yang dipenuhi oleh masjid, kuil, dan biara. Namun kini semua itu hilang, dan yang tersisa hanyalah dinding yang nyaris roboh.


*Diambil dari beberapa sumber.

24/12/2019

Sejarah Singkat Etnis Uighur di Xinjiang Cina

Potret kecantikan gadis Uighur

Polemik suku Uighur yang mendiami wilayah Xinjiang di China kini tentu saja menjadi sorotan banyak pihak. Ini karena perlakuan dari Cina seperti menahan warga suku Uighur di kamp-kamp khusus dan mendapat perlakuan diskriminatif.

Bahkan, sebuah komite PBB mendapat laporan soal ditahannya satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya di wilayah Xinjiang Barat pada Agustus 2018 lalu.

Xinjiang adalah provinsi yang didiami etnis muslim Uighur yang dulu wilayah ini disebut Republik Turkmenistan Timur sebelum diduduki China. Xinjiang saat ini merupakan daerah otonomi di dalam Republik Rakyat China (People's Republic of China). 

Wilayah minoritas Uighur ini adalah produk dari perluasan dinasti Qing (1644-1911) selama abad ke 18. Xinjiang berubah dari sebuah wilayah yang independen menjadi provinsi kekaisaran China di tahun 1880an. Setelah dinasty Qing berakhir, Xinjiang diduduki oleh Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army) pada tahun 1950. 

Xinjiang merupakan rumah dari etnis Uyghur yang hidup berdampingan dengan komunitas lain yang lebih sedikit jumlahnya seperti etnis Kazakh, Kirghiz, Mongol, Tajik, Rusia serta pendatang Han dan Hui dari China belahan timur. 

Wilayah minoritas Uighur ini adalah produk dari perluasan dinasti Qing (1644-1911) selama abad ke 18. Xinjiang berubah dari sebuah wilayah yang independen menjadi provinsi kekaisaran China di tahun 1880an. Setelah dinasty Qing berakhir, Xinjiang diduduki oleh Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army) pada tahun 1950. 

Xinjiang merupakan rumah dari etnis Uyghur yang hidup berdampingan dengan komunitas lain yang lebih sedikit jumlahnya seperti etnis Kazakh, Kirghiz, Mongol, Tajik, Rusia serta pendatang Han dan Hui dari China belahan timur.

Ekspansi China

Ekspansi China dimulai antara Perang Dunia Pertama dan Kedua dan berlanjut hingga awal 1960an. Selama proses ekspansi, beberapa negara merdeka secara sistematis dianeksasi oleh rezim Han China. China menduduki negara-negara merdeka seperti Turkmenistan Timur atau Xinjiang masa kini, Mongolia Dalam dan juga Manchuria. Dengan kebijakan yang sama, negeri tirai bambu juga mencaplok Tibet pada pertengahan tahun lima puluhan. 

Dengan demikian, untuk melacak asal usul Xinjiang saat ini, haruslah kembali ke sejarah masa lalu pada akhir 1920-an dan 1930an ketika Xinjiang adalah negara independen Turkmenistan Timur yang diduduki oleh China.

Ibukota Xinjiang, Urumqi secara historis dikenal sebagai Dihua atau Tihwa, karena nama "Urumqi" dalam bahasa Mongolia berarti "padang rumput yang indah". Padang rumput yang indah sekarang telah digantikan oleh sebuah kota metropolitan yang luas dan pusat perdagangan antara China dan Asia Tengah.

Urumqi adalah sebuah kota yang secara geografis terletak di sebuah lembah di antara wilayah TianShan, pegunungan yang memotong Xinjiang menjadi dua. Selama beberapa dekade terakhir Urumqi telah menjadi kota penuh sesak yang untungnya tidak jauh dari alam yang indah seperti Danau Surgawi (heavenly lake) atau Padang Rumput Selatan (southern grassland).

Tidak semua orang di China terlihat seperti "orang Asia". Ada 55 etnis minoritas yang diakui secara resmi di negara ini termasuk Uighur dan Russia.

Mayoritas etnis Uyghur di dunia berada di Xinjiang, dimana mereka mempraktekkan agama Islam, dan merupakan kelompok etnis yang beragam secara fisik mulai dari mirip orang dari Eropa Barat (Eropa, Timur Tengah) hingga penampilan layaknya bangsa Asia Timur.

Etnis Rusia juga salah satu dari 56 kelompok etnis yang secara resmi diakui oleh pemerintah China yang tinggal di Xinjiang, sesuai klasifikasi etnis di negeri tirai bambu tersebut. Mereka yang berada di daratan China adalah keturunan orang-orang Rusia yang menetap di sana sejak abad ke-17, dan mempertahankan kewarganegaraan China, bukan kewarganegaraan Rusia.

Selama abad ke-17, Kekaisaran Rusia meluncurkan beberapa serangan militer terhadap Kekaisaran Qing di China. Pada tahun 1644, sekelompok tentara Rusia dikalahkan oleh pasukan Qing. Selama Pertempuran Yagsi, hampir 100 orang Rusia menyerah kepada penguasa Qing, Kaisar Kangxi  mereka izin untuk bergabung dengan pasukan "Bordered Yellow Banner". Keturunan mereka ada sampai hari ini dan dikenal sebagai Albazinians.


Dirangkum dari berbagai sumber