28/02/2019

Cerita Prabowo Pernah Jatuh Cinta dengan Seorang Perawat Hingga Ingin Dirikan Rumah Sakit

Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto rupanya menyimpan kisah cinta dengan seorang perawat yang tak jarang diketahui.

Prabowo. (Kricoom.id)

Ketua Umum Partai Gerinda, Prabowo Subianto mengaku pernah kepincut dengan perawat ketika muda dulu.

Ketertarikan Prabowo Subianto dengan wanita yang berprofesi sebagai perawat itu ketika ia masih bertugas di militer dulu.

Bahkan, Prabowo Subianto sampai pernah berniat mendirikan akademi keperawatan atau sekolah perawat ketika itu.

Dilansir TribunnewsBogor.com dari Tribunnews.com, bukan cuma sekolah perawat, namun ia juga ingin mendirikan rumah sakit saat itu.
Menurut Prabowo, ada emosional tersendiri di dalam dirinya jika bicara soal kesehatan.

Terlebih, Prabowo mengatakan jika ibunya juga dulu merupakan seorang perawat.

Hal itu disampaikan Prabowo saat menjadi pembicara acara dialog silaturahmi dengan komunitas kesehatan di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis, (28/2/2019).

"Saya mengatakan saya punya masalah emosional kalau bicara soal kesehatan karena ibu saya seorang perawat. Dan merupakan cita-cita saya, tugas panggilan saya dalam sisa hidup saya seandainya saya tidak di bidang politik, saya berniat mendirikan akademi perawat dan rumah sakit," ujar Prabowo.

Menurut Prabowo, hal itu ia lakukan untuk menghormati ibunya yang berprofesi sebagai perawat.

Saat kecil Prabowo mengaku sangat nakal dan sulit diatur.

"Waktu kecil saya memang sangat mungkin sulit diatur, jadi kalau enggak ada ibu saya mungkin saya enggak tahu kemana saya," katanya.

Meskipun demikian menurut Prabowo, saat kecil ia sangat takut oleh ibunya.

Hal itu bahkan diketahui oleh prajurit dan ajudannya dulu saat berdinas di militer.

"Sampai ada jokes dari ajudan-ajudan saya, waktu saya jadi tentara ini Komandan kita galaknya disini, tapi kalau dipanggil ibunya lari-lari ketakutan. Saya kira setiap anak seperti itu ya," kata Prabowo menceritakan masa lalunya.

Kembali ke kisah cintanya dengan seorang perawat.

Kisah cinta Prabowo kepada perawat yang dikaguminya itu tidak berjalan mulus.

"Saya juga pernah sakit waktu itu ya, sempat jatuh cinta juga dengan perawat," kata Prabowo.

Hanya saja cintanya tersebut tidak bertahan lama.

Namun, kisah cintanya tidak berjalan mulus.

Setelah sembuh dari sakit, Ia tidak ditakdirkan kembali bertemu dengan perawat tersebut karena langsung dikirim ke lapangan.

"Saya begitu sembuh kirim lagi ke daerah operasi jadi gak sempet ketemu lagi perawat itu," katanya.

Bukan hanya itu, Ikatan emosional dengan tenaga medis terjalin karena ibunya yakni Dora Marie Siregar merupakan seorang perawat.

Baca juga:
Mengenal Putri Leonor, Calon Ratu Spanyol

Ibunya tersebut bertemu dengan ayahnya Soemitro Djojohadikusumo di rumah sakit.
Oleh karena itu menurut Prabowo ia sangat menaruh perhatian paa kesehatan dan tenaga medis.

"Karena itu saya dalam perencanaan saya dalam pemikiran saya dalam perjuangan saya, saya selain tadi masalah emosional karena ibu saya dulu seorang perawat, ketemu bapak saya waktu bapak saya jadi pasien di rumah sakit, jadi mungkin perlu dibikin film, filmnya agak klise tapi ya begitulah," pungkasnya.

***
Artikel ini telah tayang di tribunnewsbogor.com dengan judul Cerita Prabowo Pernah Jatuh Cinta Pada Perawat Hingga Ingin Dirikan Rumah Sakit dan Sekolah

Label:

27/02/2019

Kelebihan dan Kekurangan Tehnik Pengumpulan Data: Observasi, Wawancara dan Kuesioner

Dalam penelitian sosial, metode pengumpulan data yang digunakan sangat membantu dan menentukan keberhasilan penelitian. Seorang peneliti sangat penting memahami metode apa yang mesti digunakan untuk mengumpulkan data. Ada beberapa macam metode penelitian sosial yang dipakai dalam ilmu sosial, diantaranya yaitu: Observasi, Wawancara dan Kuesioner.
 
Ilustrasi seorang peneliti

Adapun setiap metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Berikut kelebihan dan kekurangannya.

A. Metode Observasi
 
Kelebihan dari observasi adalah sebagai berikut:
1. Merupakan alat yang langsung untuk meneyelidiki bermacam-macam gejala. banyak aspek tingkah laku manusia dapat diselidiki melalui jalan observasi langsung.
2. Untuk subyek yang diselidiki observasi lebih sedikit tentunya bagi orang yang selalu sibuk, mungkin tidak keberatan untuk di amati, tapi mungkin keberatan untuk mengisi kuesioner-kuesioner.
3. Memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala.
4. Banyak kejadian penting yang tidak dapat diperoleh dengan pengamatan langsung.
 
Baca juga:
Jenis-jenis Penelitian Sosial

Dan kekurangannya adalah sebagai berikut:
1. Banyak kehidupan pribadi yang tidak terungkap, misalnya kehidupan pribadi yang rahasia.
2. Memungkinkan terjadinya ketidakwajaran apabila yang di oservasi mengetahui bahwa dirinya sedang di observasi.
3. Observasi banyak tergantung dari faktor yang tidak terkontrol.
4. Subyektifitas observer sukar dihindarkan.

B. Metode Wawancara
 
Kelebihannya:
1. Mempunyai nilai yang tinggi
2. Semua kesalahpahaman dapat dihindari
3. Pertanyaan yang telah disiapkan dapat dijawab oleh narasumber dengan penjelasanpenjelasan tambahan
4. Setiap pertanyaan dapat dikembangkan lebih lanjut
5. Informasi yang diperoleh langsung dari sumber pertama

• Kelemahan Wawancara
1. Data atau informasi yang dikumpulkan sangat terbatas
2. Memakan waktu dan biaya yang besar jika, dilakukan dalam suatu wilayah yang luas

C.  Kuesioner
 
• Kelebihan kuesioner sebagai berikut:
1. Tidak memerlukan hadirnya peneliti.
2. Pertanyaan dapat dibagikan secara serentak kepada responden.
3. Dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing menurut waktu senggang responden.
4. Dapat dibuat anonim sehingga responden bebas, jujur dan tidak malu-malu menjawab.
5. Dapat dibuat pertanyaan yang berstandar sehingga semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar-benar sama.

• Kelemahan kuesioner adalah sebagai berikut:
1. Responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak terjawab, padahal sukar diulangi diberikan kembali padanya.
2. Seringkali sukar dicari validitas datanya
3. Walaupun dibuat anonim, kadang-kadang responden sengaja memberikan jawaban yang tidak betul atau tidak jujur
4. Angket yang dikirim lewat pos seringkali tidak dikembalikan tertutama jika dikirim lewat pos menurut penelitian
5. Waktu pengembaliannya tidak sama-sama, bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat

 • Langkah Menyusun Angket

1. Menyusun matrik spesifik data
2. Menyusun angket
3. Try out (uji coba angket)
4. Revisi angket
5. Memperbanyak angket

Definisi Sampel
 
• Sample
Sampel (contoh) adalah sebagian anggota populasi yang diambil dengan menggunakan teknik tertentu yang disebut dengan teknik sampling. Teknik sampling sangat berguna karena beberapa alasan berikut, antara lain yaitu:
1. Mereduksi anggota populasi menjadi anggotas sampel yang mewakili populasinya (representatif), sehingga kesimpulan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Lebih teliti menghitung yang sedikit daripada yang banyak
3. menghemat waktu, tenaga dan biaya.

Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam mengambil sampel adalah sbb:
1. Tentukan dulu daerah generalisasinya. Banyak penelitian menurun mutunya karena generalisasi kesimpulannya terlalu luas. Penyebabnya karena peneliti ingin agar hasil penelitiannya berlaku secara meluas dan menganggap sampel yang dipilihnya sudah mewakili populasinya.
2. Berilah batas-batas yang tegas tentang sifat-sifat populasi. Populasi tidak harus manusia. Populasi dapat berupa benda-benda lainnya. Semua benda yang akan dijadikan populasi harus ditegaskan batas-batas karakteristiknya, sehingga dapat menghindari kekaburan dan kebingungan.
3. Tentukan sumber-sumber informasi tentang populasi. Ada beberapa sumber informasi yang dapat memberi petunjuk tentang karakteristik suatu populasi. Misalnya didapat dari dokumen.
4. Pilihlah teknik sampling dan hitunglah besar anggota sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Teknik pengambilan sampel dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Sampling random (probability sampling), yaitu pengambilan sampel secara acak (random) yang dilakukan dengan cara undian, ordinal atau tabel bilangan random atau dengan komputer.
2. Sampling non random (non probability sampling), yaitu pengambilan sampel secara tidak acak

1. Teknik Sampling Random
 
Terdiri atas 4 macam:
1. Teknik Sampling Sederhana (Simple random sampling)
Setiap unsur dalam seluruh populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih; dengan menggunakan undian, ordinal atau tabel bilangan random atau dengan komputer. Anggota sampel mudah dan cepat diperoleh, namun kadang tidak mendapatkan data populasi yang lengkap.

2. Teknik Sampling Bertingkat (Stratified Sampling)

Disebut juga teknik sampling berlapis, berjenjang dan petala. Digunakan apabila populasinya heterogen atau terdiri atas kelompok yang bertingkat. Dengan cara ini anggota sampel dapat lebih representatif, namun perlu usaha mengenali karakteristiknya.

3. Teknik Sampling Kluster (Cluster Sampling)
Disebut juga teknik sampling daerah, conditional sampling atau restricted sampling. Digunakan bila populasi tersebar dalam beberapa dearah, propinsi, kabupaten kecamatan dst. Pada setiap daerah diberi petak dan setiap petak diberi nomor. Nomor-nomor itu ditarik secara acak untuk menjadi sampelnya.

4. Teknik Sampling Sistematis (Systematical Sampling)
Sebenarnya merupakan treknik sampling sederhana yang dilakukan secara ordinal. Artinya, anggotas sampel dipilih berdasarkan urutan tertentu. Misalnya setiap kelipatan 5 atau 10 dari daftar poegawai suatu kantor. Keuntungannya dapat digunakan dengan mudah dan cepat namun kadang kurang mewakili populasi.

2. Teknik Sampling Nonrandom
 
Terdiri atas 3 macam:
a. Teknik Sampling Kebetulan (Accidental Sampling)
Teknik sampling kebetulan dilakukan apabila pemilihan anggota sampelnya dilakukan terhadap orang atau benda yang kebetulan ada atau dijumpai. Misalnya kita ingin meneliti pendapat masyarakat tentang kenaikan harga dan BBM, maka pertanyaan yang diajukan kepada mereka yang kebetulan dijumpai di pasar atau di tempat-tempat lainnya.
 
Keuntungan menggunakan teknik ini ialah murah, cepat dan mudah. Sedangkan kelemahannya ialah kurang representatif.

b. Teknik Sampling Bertujuan (Purposive Sampling)

Teknik ini digunakan apabila anggota sampel yang dipilih khusus berdasarkan tujuan penelitiannya. Sebagai contoh: untuk meneliti tentang peraturan lalu lintas, maka hanya mereka yang memiliki SIM atau yang tidak memiliki SIM saja yang dijadikan anggota sampel.
 
Keuntungan menggunakan teknik ini ialah murah, cepat mudah dan relevan dengan tujuan penelitiannya. Sedangkan kerugiannya ialah tidak representatif untuk mengambil kesimpulan secara umum (generalisasi).

c. Teknik Sampling Kuota (Quota Sampling)

Teknik ini digunakan apabila anggota sampel pada suatu tingkat dipilih dengan jumlah tertentu (kuota) dengan ciri-ciri tertentu. Teknik sampling kuota sering dikacaukan dengan teknik sampling bertujuan.
Keuntungan dan kelemahan menggunakan teknik ini adalah seperti halnya teknik sampling bertujuan tadi.

Label:

26/02/2019

Masalah Sosial pada Masyarakat Desa


Masyarakat pedesaan merupakan kelompok masyarakat yang ditandai dengan profesi yang homogen dan memiliki karakter khusus, yang salah satunya yaitu solidaritas tinggi. Masyarakat pedesaan juga dapat dilihat dari segi kehidupan bermasyarakatnya, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada sisi lainnya, sebagian karakteristik masyarakat pedesaan dapat digeneralisasikan dengan melihat pada kepemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yagn amat kuat yang hakekatnya.


Baca juga:
Makalah Sosiologi Pedesaan

Bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebgai masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat. 

Potret Kemiskinan di Indonesia (antarafoto)
 
Adapun yang menjadi ciri masyarakat desa antara lain, yaitu:
1.    Mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat.
2.    Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan.
3.    Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian.
4.   Bersifat homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adapt istiadat, dan sebagainya.

Namun demikian, pada masyarakat pedesaan juga terdapat beberapa masalah sosial yang sukar dicari solusinya.  Soerjono Soekanto mengatakan masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat. 


Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.

Masalah sosial disebabkan oleh beberapa  faktor, yakni antara lain:
1.    Faktor ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2.    Faktor budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3.    Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4.    Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.

Berikut masalah sosial pada masyarakat pedesaan:

1.    Masalah Pendidikan
 
Pendidikan semestinya haruslah mampu menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dan bermanfaat serta menjadikan masyarakat pedesaan lebih terbuka dan akses terhadap pendidikan. Seiring perkembangan zaman, pengertian pendidikan pun mengalami perkembangan. Sehingga, pengertian pendidikan menurut beberapa ahli (pendidikan) berbeda, tetapi secara esenssial terdapat kesatuan unsur-unsur atau faktor-faktor yang terdapat di dalamnya, yaitu bahwa pendidikan menunjukkan suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang didalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, anak didik, tujuan dan lainnya.

Umumnya masyarakat pedesaan kurang begitu sadar akan pentingnya pendidikan, Mereka lebih memilih mengajak anak-anak mereka berkebun atau bertani, ketimbang menyekolahkan mereka. Alhasil banyak dari masyarakat pedesaan yang buta tulis dan hitung. Oleh karena itu taraf hidup masyarakat pedesaan relatif.

Salah satu kendala yang telah disadari oleh pemerintah dalam bidang pendidikan di tanah air adalah kesenjangan dan ketidakadilan dalam mengakses terutama pendidikan. Hal ini yang menyebabkan kesadaran masyarakat di desa sangat kurang dan tidak antusias serta memahami akan pentingnya pendidikan. Selain itu, kendala lain negara berkembang termasuk Indonesia, untuk masa yang lama menghadapi empat hambatan besar dalam bidang pendidikan, antara lain yaitu:
a.    Peninggalan penjajah dengan masyarakat yang tingkat pendidikannya sangat rendah.
b. Anggaran untuk bidang pendidikan yang rendah dan biasanya kalah bersaing dengan kebutuhan pembangunan bidang lainnya.
c.   Anggaran yang rendah biasanya diarahkan pada bidang-bidang yang justru menguntungkan mereka yang relatif kaya.
d.  Karena anggaran rendah, dalam pengelolaan pendidikan biasanya timbul pengelolaan yang tidak efisien. Hal ini terlihat dimana pemerintah tidak saja mampu merancang penerapan kebijakan yang disukainya, tetapi juga menafsirkan ulang teks kebijakan sesuai preferensi kebijakannya, termasuk dalam bidang pendidikan. Dimana kebijakan disetujui, diterima, dan dilaksanakan oleh pranata pemerintah.

Manfaat pendidikan bagi masyarakat pedesaan sebagai instrumen pembebas, yakni membebaskan masyarakat pedesaan dari belenggu kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dan penindasan. Selain itu, pendidikan yang baik seharusnya berfungsi pula sebagai sarana pemberdayaan individu dan masyarakat desa khususnya guna menghadapi masa depan. Pendidikan difokuskan melalui sekolah, pesantren, kursus-kursus yang didirikan di pedesaan yang masyarakatnya masih ‘buta’ akan ilmu.

Masyarakat pedesaan yang terberdayakan sebagai hasil pendidikan yang baik dapat memiliki nilai tambah dalam kehidupan yang tidak dimiliki oleh masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Sehingga jelas, peranan pendidikan sebagai kebutuhan pokok yang mendasar dan haruslah terpenuhi bagi masyarakat pedesaan dalam manfaat lainnya untuk meningkatkan taraf hidup dan kesajahteraan hidup yang berkelanjutan.

2.    Masalah  Kemiskinan

Kemiskinan merupakan masalah yang sangat pelik pada masyarakat desa. Dalam upaya percepatan pembangunan desa di segala bidang masih terdapat beberapa kendala,antara lain masih tingginya angka penduduk miskin, walaupun dalam beberapa tahun terakhir angka kemiskinan sudah mulai menurun.

3.    Rendahnya Kualitas Sumber Daya Manusia


Peningkatan layanan pendidikan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan kompetensi anak didik. Output layanan pendidikan dengan pendekatan Indek Pembangunan Manusia (IPM) masih  menunjukkan kondisi yang jauh dari harapan. Dengan demikian untuk memajukan masyarakat desa sangat diperlukan terobosan dari pemerintah guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Desa.

Demikianlah beberapa masalah sosial pada masyarakat desa.

Label: ,

25/02/2019

Permasalahan Pada Masyarakat Perkotaan

Sosiologi perkotaan merupakan sebuah studi sosiologi yang mencoba memahami tentang kehidupan sosial dan interaksi manusia di wilayah metropolitan. Studi ini khusus  mempelajari struktur, proses, perubahan dan masalah di sebuah wilayah urban dan memberi masukan untuk perencanaan dan pembuatan kebijakan.

Baca juga:
Tidak jauh berbeda seperti bidang sosiologi yang lainnya, sosiolog perkotaan menggunakan analisis statistik, pengamatan, teori sosial, wawancara, dan metode lain untuk mempelajari berbagai topik, termasuk migrasi dan tren demografi, ekonomi, kemiskinan, hubungan ras, tren ekonomi, dan lainnya. 

Kemacetan

Berikut merupakan beberapa masalah perkotaan yang menjadi kajian sosiologi perkotaan, yaitu sebagai berikut:

 1.    Masalah Permukiman
 
Pada dasarnya kota terdiri dari bangunan tempat tinggal, perkantoran dan perniagaan. Gambaran tentang satu kota selalu berupa susunan bangunan fisik yang berjejer sepanjang jalan ekonomi, gugus perkantoran pemerintahan dan perniagaan, perkampungan atau permukiman warga kota, rumah ibadah dan pertamanan. Seluruh bangunan fisik ini biasanya berkembang lebih lambat dibanding dengan pertambahan penduduk kota, baik pertambahan penduduk kota secara alami maupun karena derasnya arus urbanisasi. Karena itu permukiman sebagai bagian dari lingkungan hidup dan merupakan lingkungan hidup buatan adalah salah satu hasil kegiatan manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Permukiman terdiri dari kumpulan rumah yang dilengkapi dengan prasarana lingkungan, dan berfungsi sebagai sarana tempat tinggal untuk beristirahat setelah melakukan tugas sehari-hari, tempat bernaung dan melindungi diri maupun keluarganya untuk mencapai kesejateraan dan kebahagiaan lahir dan batin.

Permukiman sebagai wadah kehidupan manusia bukan hanya menyangkut aspek fisik dan teknis saja tetapi juga aspek sosial, ekonomi dan budaya dari para penghuninya. Tidak hanya menyangkut kuantitas melainkan juga kualitas. Selama ini kawasan pemukiman baru lebih ditekankan pada aspek fisik bangunannya saja. Sedangkan permukiman lama yang sudah ada tumbuh dan berkembang dengan pesat tanpa terkendali karena kurang adanya tertib dan pengawasan pembangunan.

Menurunnya kualitas permukiman yang disertai dengan meningkatnya pencemaran lingkungan dan menipisnya sumber daya alam merupakan masalah penting bagi seluruh negara di dunia. Pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman merupakan prakondisi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab produktivitas manusia terutama sekali tergantung pada tersedianya wadah yang memadai untuk bekerja, beristirahat sekeluarga dan bermasyarakat.

2.    Masalah Lingkungan
 
Laju urbanisasi dan pembangunan kota yang tinggi akan membawa dampak tersendiri bagi lingkungan hidup di dalam maupun di sekitar kota. Perkembangan aktivitas ekonomi, social, budaya dan jumlah penduduk membawa perubahan besar dalam keseimbangan lingkungan hidup di kota. Aktivitas kota dan pertumbuhan penduduk tersebut telah menyita areal taman, tanah kosong, hutan ladang di sekelilingnya untuk tempat tinggal, tempat usaha, tempat pendidikan, kantor, ataupun tempat berolahraga dan untuk jalan. Hal ini otomatis memperburuk keseimbangan lingkungan mulai dari menciutnya areal tanaman, merosotnya daya absorbsi tanah yang kemudian sering berakibat banjir apabila hujan, sampai masalah sampah dengan segala akibatnya.

Demikian pula dengan perkembangan industri dan teknologi mencemari lingkungan dengan asap knalpopt kendaraan bermotor, jelaga dari cerobong pabrik, air buangan pabrik dan segala buangan produk obat-obatan anti hama seperti DDT dan lain-lain. Sampah plastik juga turut menambah permasalahan bagi lingkungan hidup karena tidak hancur lebur dengan tanah seperti sampah daun atau sampah lainnya yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Akibat atau bahaya yang ditimbulkan oleh pencemaran lingkungan secara garis besar merugikan manusia, terutama mereka yang tinggal di kota. Kota-kota di Indonesia dan beberapa kota dunia, umumnya menjadi pelanggan penyakit menular seperti kolera, thypus, sesak nafas dan lain-lain. Udara di kota menjadi panas dan berdebu.

Bahaya pencemaran lingkungan hidup di kota-kota Indonesia semakin hari semakin serius dan akan memberi dampak yang berbahaya pada jangka panjang jika tidak segera diambil langkah-langkah konkrit dalam menanggulangi masalah lingkungan hidup. Beberapa langkah yang dapat diambil oleh pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi masalalah lingkungan hidup antara lain (Marbun, 1994):
a.  Menciptakan peraturan standar yang mengatur segala seluk beluk persyaratan pendirian pabrik atau industri;
b. Adanya perencanaan lokasi industri yang tepat dan relokasi bagi industry yang pada saat ini dirasa sudah kurang tepat;
c. Memilih proses industri yang minim polusi dilihat dari segi bahan baku, reaksi kimia, penggunaan air, asap, peyimpanan bahan baku dan barang jadi, serta transportasi dan penyaluran cairan buangan;
d.  Pengelolaan sumber-sumber air secara berencana disertai pengamatan terhadap segala aspek yang berhubungan dengan pengolahan air tersebut berikut saluran irigasi yang teratur. Cairan buangan yang berasal dari pabrik yang belum dijernihkan jangan beracmpu dengan sungai yang biasanya banyak dipakai untuk kepentingan air minum dan air cuci;
e.  Pembuatan sistem pengolahan air limbah secara kolektif dari seluruh industri yang berada di daerah industri tertentu;
f. Penanaman pohon-pohon secara merata dan berencana di seluruh kota yang diharapkan dapat mengurangi debu, panas dan sekaligus menghisap zat kimia yang beterbangan diudara yang kalau mendarat di paru-paru atau bahan makanan dapat menimbulkan penyakit.
g. Peraturan dan penggunaan tanah berdasar rencana induk pembangunan kota sesuai dengan peruntukannya secara berimbang.
h. Perbaikan lingkungan sosial ekonomi masyarakat hingga mencapai taraf hidup yang memenuhi pendidikan, komunikasi dan untuk belanja seharihari.

Penduduk kota tidak akan sempat berpikir tentang masalah lingkungan hidup kalau tingkat kesejateraan mereka masih di bawah ratarata.

3.    Masalah Pendidikan dan Kesehatan
 
Pendidikan dan kesehatan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar. Kesehatan merupakan inti dari kesejahteraan, dan pendidikan adalah hal pokok untuk menggapai kehidupan yang memuaskan dan berharga; keduanya adalah hal yang fundamental untuk membentuk kemampuan manusia yang lebih luas yang berada pada inti pembangunan. Pendidikan memainkan peranan utama dalam membentuk kemampuan sebuah negara berkembang untuk menyerap teknologi modern untuk mengembangkan kapasitas agara tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan. Demikian pula halnya dengan kesehatan, kesehatan merupakan prasyarat bagi peningkatan produktivitas, sementara keberhasilan pendidikan juga bertumpu pada kesehatan yang baik. Oleh karena itu kesehatan dan pendidikan juga dapat dilihat sebagai komponen pertumbuhan dan pembangunan yang vital sebagai input fungsi produksi agregat. Peran gandanya sebagai input maupun output menyebabkan kesehatan dan pendidikan sangat penting dalam pembangunan ekonomi (Todaro dan Smith, 2006).

Karena perannya yang sangat penting maka pelayanan pendidikan dan kesehatan harus senantiasa ditingkatkan baik kuantitas maupun kualitasnya. Todaro dan Smith (2006) mengatakan pada tahun 1950, sebanyak 280 dari setiap 1.000 anak di semua negara berkembang meninggal sebelum mencapai usia lima tahun. Pada tahun 2002, angka tersebut telah menurun menjadi 120 per 1.000 di negara-negara miskin, dan 37 per 1.000 di negara-negara berpendapatan menengah, sementara negara-negara berpendapatan tinggi berhasil menekan angka tersebut menjadi 7 per 1.000 anak. Demikian pula halnya dengan pendidikan, sejak beberapa dekade terakhir kemampuan baca tulis (literacy) dan pendidikan dasar sudah dinikmati secara meluas oleh sebagian besar orang di negara-negara berkembang. PBB melaporkan bahwa walaupun masih terdapat 857 juta orang berusia di atas 15 tahun yang buta huruf di dunia pada tahun 2000, namun sekarang 80 persen penduduk dunia telah mampu membaca dan menulis dibandingkan dengan 63 persen pada tahun 1970.

Pendidikan dan kesehatan sebagai salah satu unsur modal manusia. Karena modal manusia adalah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seluruh rakyat suatu negara, termasuk juga kesehatan. Menurut Jhingan (2004) dalam proses pertumbuhan, lazimnya orang lebih menekankan arti penting akumulasi modal fisik. Harbison dan Meyers dalam Jhingan (2004) menjelaskan bahwa sekarang makin disadari bahwa pertumbuhan persediaan modal nyata sampai batas-batas tertentu tergantung pada pembentukan modal manusia yaitu proses peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seluruh rakyat suatu negara. Penanaman modal pada modal manusia (pendidikan dan kesehatan) sangatlah penting. Jhingan (2004) mengatakan kebutuhan investasi pada pembentukan modal manusia di dalam perekonomian terutama di negara terbelakang dan berkembang menjadi penting karena ternyata investasi modal fisik secara besar-besaran ternyata tidak mampu mempercepat laju pertumbuhan, lantaran sumber manusianya terbelakang.

Pertumbuhan sudah barang tentu dapat juga terjadi melalui pembentukan modal kovensional meskipun tenaga buruh yang ada kurang terampil dan kurang pengetahuan. Tetapi laju pertumbuhan tersebut akan sangat terbatas tanpa adanya faktor modal manusia. Karena itu, modal manusia diperlukan untuk menyiapkan tenaga-tenaga pemerintahan yang semakin penting untuk memperkenalkan system baru penggunaan lahan dan metode baru pertanian, untuk membangun peralatan baru komunikasi, untuk melaksanakan industrialisasi, dan untuk membangun sistem pendidikan. Dengan kata lain, pembaharuan atau proses perubahan dari masyarakat statis atau tradisional, memerlukan sejumlah besar modal manusia strategis.

Demikianlah beberapa permasalahan yang sering terjadi di perkotaan.

Label:

23/02/2019

Belajar dari Syaikh Barshisa, Ulama yang Mati Sebagai Kafir

Oleh Muhammad Syawal Djamil

 Dalam sejarah khazanah Islam, kita disuguhkan oleh sebuah kisah dimana pada suatu masa ada seorang ulama bernama Syaikh Barshisa yang memiliki kehebatan dalam hal kesholehan dan ketaqwaannya kepada Allah. Bahkan, malaikat pun terkagum melihatnya. Namun sayang di akhir hayatnya, Syaikh Barshisa meninggal dalam keadaan yang sangat hina dan kufur kepada Allah.

Ilustrasi (google)

Syaikh Barshisa hidup sebelum zamannya Rasulullah. Konon Syaikh Barshisa hidup pada masa Nabi Isa, A.S. Bagi yang pernah dan sedang mengenyam pendidikan di dayah atau pesantren, kisah ini tidak asing lagi, karena bisa dipastikan sang  guru (teungku) tidak pernah bosan menceritakan kepada murid-muridnya.

Syaikh Barshisa, sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab Jauhar Mauhub merupakan sosok yang dikenal sebagai ‘abid (ahli ibadah) dan juga memiliki karomah. Syaikh Barshisa memiliki puluhan ribu murid dengan berbagai kehebatan yang didapatkan darinya. Ada yang bisa terbang, berjalan di atas awan, dan berbagai kehebatan lahiriah lainnya.

Syahdan, suatu ketika datanglah sosok iblis yang menyerupai seorang manusia menghampiri dan mendekati tempat di mana Syaikh Barshisa beribadah. Iblis tersebut berniat merusak keimanan dan menyesatkan Syaikh Barshisa dari jalan Allah. Iblis pun menjelma sebagai seorang pemuda dan beribadah layaknya orang ‘abid. Dia kuat berpuasa dan tidak henti beribadah. Syeikh Barshisa yang sudah ratusan tahun beribadah tidak pernah melihat seorang pemuda yang sangat takjub dan sungguh-sungguh dalam hal ibadah. Tidak makan, tidak minum dan tidak tidur.

Syaikh Barshisah merasa “mendapat saingan” dan heran terhadap pemuda tersebut, apa gerangan 
rahasianya hingga dia kuat beribadah. Dalam percakapannya, Syaikh Barshisa bertanya pada pemuda tersebut, bagaimana caranya agar kuat dalam beribadah. Pemuda tersebut menyodorkan sebuah jawaban, bahwa untuk mendapat motivasi dan kekuatan dalam beribadah, maka disarankannya melakukan apa yang dilarang oleh Allah. Setelah melakukan yang dilarang Allah, lalu bertaubat, maka kenikmatan dalam beribadahpun akan didapat. Begitulah kata iblis kepada Syaikh Barshisa.

Karena Syaikh Barshisa bingung terhadap larangan Allah yang mesti dia lakukan, iblis memberikannya tiga pilihan: membunuh, berzina atau meneguk arak (minuman memabukkan). Akhirnya, Syaikh Barshisa pun merealisasikan bujukan iblis tersebut dengan memilih minum arak, yang dibelinya dari seorang perempuan. Menurut Syaikh Barshisa dari ketiga pilihan larangan Allah tersebut minuman araklah yang paling ringan dosa dan tidak terlalu besar efeknya.

Setelah meneguk menimuan arak, Syaikh Barshisa pun mabuk berat, sehingga dalam pengaruh arak Syaikh Barshisa memperkosa perempuan penjual arak tersebut. Tak hanya memperkosa, Syaikh Barshisa juga membunuhnya. Akhirnya ketiga dosa besar dilakukan oleh Syaikh Barshisa.
Karena ketahuan sama orang-orang sudah melakukan pembunuhan, Syaikh Barshisa ditangkap dan dibawa kepada Sultan untuk diadili, sehingga dihukumlah Syaikh Barshisa oleh Sultan sesuai dengan kesalahannya, yaitu dipukuli sebanyak 80 kali jilid karena minum arak dan 100 kali karena berzina, kemudian Syaikh Barshisa diberikan hukuman qisas karena telah membunuh.

Ketika sedang dalam puncak penyiksaannya, datanglah iblis dalam wujud rupanya yang asli dan membujuk agar Syaikh Barshisa melakukan sujud kepada iblis dengan cara menundukkan kepalanya, agar penyiksaan dan penderitaan Syaikh Barshisa berakhir. Syaikh Barshisa pun mengamini permintaan iblis tersebut. Dan, tepat ketika itu Allah mencabut nyawa Syaikh Barshisa, sehingga Syaikh Barshisa meninggal dalam keadaan kufur.

Nah, apa hikmah atau iktibar (pembelajaran) yang bisa diambil dari Syaikh Barshisa? Tentunya ada banyak sekali pembelajaran yang bisa dipetik. Apa yang dilakukan dan didapatkan pada akhir hayat Syaikh Barshisa merupakan sebuah bentuk hikmah atau pembelajaran yang bisa kita renungi untuk seterusnya kita aplikasikan dalam menjalani kehidupan dunia yang semakin carut-marut ini.

Dalam konteks kehidupan kita, minuman sejenis arak dan memabukkan semakin ragam jenisnya. Narkoba dengan berbagai bentuknya seperti heroin, sabu-sabu, ganja, dan sebagainya, merupakan barang memabukkan yang beredar begitu bebas ditengah kehidupan masyarakat dewasa ini.

Meskipun dalam pandangan Islam telah dikatakan bahwa hukum mengonsumsi narkoba adalah haram, namun masih ada juga yang mencoba mita kieh atau mencari celah hukum terhadap narkoba tersebut dengan mengatakan tidak haram, dengan alasan tidak haram selama mengonsumsinya tidak sampai membuat mabuk.

Berbagai riset yang dilakukan didunia kesehatan, disebutkan bahwa narkoba memiliki resiko yang besar terhadap kesehatan manusia. Efek narkoba tidak hanya terhadap kesehatan atau secara biologis saja, melainkan juga berdampak terhadap psikologisnya. Seseorang yang sudah terpengaruh oleh narkoba, maka syaraf diotaknya tidak berfungsi dengan baik. Tak ayal, seseorang yang sudah dipengaruhi oleh narkoba melakukan tindakan-tindakan yang minus moral dan membinasakan.

Baca juga:
Dewasa ini diberbagai media, sederetan kasus kriminal seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan penganiayaan, pelakunya diketahui merupakan pemakai narkoba. Masih belum lekang dari ingatan kita, beberapa waktu lalu di Aceh Utara seorang oknum pimpinan dayah ditetapkan sebagai tersangka karena terindikasi melakukan pencabulan terhadap santrinya. Dalam proses interogasi oleh pihak kepolisian, ternyata oknum pimpinan dayah tersebut diketahui memakai narkoba, (Acehtrend.co, 29/09/2017).

Dengan demikian, sudah semestinya kita sadar akan bahaya narkoba. Narkoba harus dijadikan sebagai musuh bersama. Tugas memberantas narkoba bukanlah semata-mata tugas pemerintah namun juga kita masyarakat biasa. Dan, semoga kita tidak lagi berlaku apatis terhadap lingkungan yang sudah digerogoti oleh narkoba. 

***
Artikel ini sudah dimuat di AcehTrend

Label:

Sosiologi Perkotaan: Mempelajari Masyarakat Kota


Sosiologi perkotaan adalah studi sosiologi tentang kehidupan sosial dan interaksi manusia di wilayah metropolitan. Studi ini adalah disiplin sosiologi norma yang mempelajari struktur, proses, perubahan dan masalah di sebuah wilayah urban dan memberi masukan untuk perencanaan dan pembuatan kebijakan.

 Kemacetan, problema pada masyarakat perkotaan (palembang.tribunnews.com)

Sosiologi perkotaan mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari antara lain mata pencaharian hidup, pola hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, dan pola pikir dalam menyikapi suatu permasalahan. Studi ini adalah disiplin sosiologi norma yang mempelajari struktur, proses, perubahan dan masalah di sebuah wilayah urban dan memberi masukan untuk perencanaan dan pembuatan kebijakan.

Seperti bidang sosiologi yang lainnya, sosiologi perkotaan juga menggunakan analisis statistik, pengamatan, teori sosial, wawancara, dan metode lain untuk mempelajari berbagai topik, seperti migrasi dan demografi, ekonomi, kemiskinan, hubungan ras, dan lainnya

Baca juga:
Teori atau Pendekatan Sosiologi Dalam Kajian Ekonomi
Perbedaan Teori Karl Marx, Emil Durkheim dan Max Weber Tentang Produksi

Pengertian Kota Menurut Para Ahli

Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Kota bisa dibilang sebagai tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan[2]. Berikut pengertian kota menurut beberapa ahl :

1.      Max Weber berpendapar bahwa “suatu tempat adalah kota apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Barang-barang itu harus dihasilkan oleh penduduk dari pedalaman dan dijualbelikan di pasar itu. Jadi menurut Max Weber, ciri kota adalah adanya pasar, dan sebagai benteng, serta mempunyai sistem hukum dan lain-lain tersendiri, dan bersifat kosmopolitan.

2.      Cristaller dengan “central place theory”-nya menyatakan kota berfungsi menyelenggarakan penyediaan jasa-jasa bagi daerah lingkungannya. Jadi menurut teori ini, kota diartikan sebagai pusat pelayanan. Sebagai pusat tergantung kepada seberapa jauh daerah-daerah sekitar kota memanfaatkan penyediaan jasa-jasa kota itu. Dari pandangan ini kemudian kota-kota tersusun dalam suatu hirarki berbagai jenis.

3.      Sjoberg berpendapat bahwa , sebagai titik awal gejala kota adalah timbulnya golongan literati (golongan intelegensia kuno seperti pujangga, sastrawan dan ahli-ahli keagamaan), atau berbagai kelompok spesialis yang berpendidikan dan nonagraris, sehingga muncul pembagian kerja tertentu. Pembagian kerja ini merupakan ciri kota.

4.      Wirth, mendifinisikan kota sebagai pemukiman yang relatif besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Akibatnya hubungan sosialnya menjadi longgar acuh dan tidak pribadi (impersonal relation)

5.      Karl Marx dan F.Engels memandang kota sebagai “persekutuan yang dibentuk guna melindungi hak milik dan guna memperbanyak alat-alat produksi dan alat -alat yang diperlukan agar anggota masing-masing dapat mempertahankan diri”. Perbedaan antara kota dan pedesaan menurut mereka adalah pemisahan yang besar antara kegiatan rohani dan materi.

6.      Harris dan Ullman , berpendapat bahwa kota merupakan pusat pemukiman dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Kota-kota sekaligus merupakan paradoks. Pertumbuhannya yang cepat dan luasnya kota-kota menunjukkan keunggulan dalam mengeksploitasi bumi, tetapi di pihak lain juga berakibta munculnya lingkungan yang miskin bagi manusia. Yang perlu diperhatikan, menurut Harris dan Ullman adalah bagaimana membangun kota di masa depan agar keuntungan dari konsentrasi pemikiman tidak mendatangkan kerugian atau paling tidak kerugian dapat diperkecil.

7.      Menurut ahli Geografi Indonesia, Prof. Bintarto, (1984:36) “kota dapat diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai benteng budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala pemutusan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya.”

8.      Menurut Arnold Tonybee, sebuah kota tidak hanya merupakan pemukiman khusus tetapi merupakan suatu kekomplekan yang khusus dan setiap kota menunjukkan perwujudan pribadinya masing-masing.

Pengertian Masyarakat Perkotaan
 Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan. Sebenarnya perbedaan tersebut tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana karena dalam masyarakat modern, seberapapun kecilnya desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Pembedaan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan, pada hakikatnya bersifat gradual. Agak sulit untuk memberikan batasan yang dimaksudkan dengan perkotaan karena adanya hubungan konsentrasi penduduk dengan gejala-gejala sosial yang dinamakan urbanisme.

Masyarakat perkotaan yang mana kita ketahui itu selalu identik dengan sifat yang individual, egois, matrealistis, penuh kemewahan, dikelilingi gedung-gedung yang menjulang tinggi, perkantoran yang mewah, dan pabrik-pabrik yang besar. Asumsi dasar kita tentang kota adalah tempat kesuksesan seseorang.

Masyarakat  perkotaan lebih dipahami sebagai kehidupan komunitas yang memiliki sifat kehidupan dan ciri-ciri kehidupannya berbeda dengan masyarakat pedesaan. Akan tetapi kenyataannya di perkotaan juga masih banyak terdapat beberapa kelompok pekerja-pekerja di sektor informal, misalnya tukang becak, tukang sapu jalanan, pemulung sampai pengemis. Dan bila kita telusuri masih banyak juga terdapat perkampungan-perkampungan kumuh tidak layak huni.

1.      Ciri-ciri Masyarakat Kota
a. Hubungan   dengan  masyarakat   lain   dilakukan   secara   terbuka   dengan suasana yang saling memepengaruhi.
b.      Keprcayaan yang kuat akan Ilmu Pengetahuan Teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c.       Masyarakatnya   tergolong   ke   dalam  macam-macam   profesi yang   dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan, keterampilan dan kejuruan.
d.      Tingkat pendidikan formal pada umumnya tinggi dan merata
e.       Hukum yang berlaku adalah hukum tertulis yang sangat kompleks.

Kehidupan Masyarakat perkotaan

Secara sosiologis penekanannya pada pola hubungan serta kesatuan masyarakat industri, bisnis, dan  wirausaha lainnya dalam struktur yang lebih kompleks.

Sedangkan secara fisik,  kota dinampakkan dengan adanya gedung-gedung yang menjulang tinggi, hiruk pikuknya kendaraan, pabrik, kemacetan, kesibukan warga masyarakatnya, persaingan yang tinggi, polusinya, dan sebagainya.

Masyarakat di perkotaan secara sosial kehidupannya cendrung heterogen, individual, persaingan yang tinggi yang sering kali menimbulkan pertentangan atau konflik. Munculnya sebuah asumsi yang menyatakan bahwa masyarakat kota itu pintar, tidak mudah tertipu, cekatan dalam berpikir, dan bertindak, dan mudah menerima perubahan, itu tidak selamanya benar, karena secara implisit dibalik semua itu masih ada masyarakatnya yang hidup di bawah standar kehidupan sosial. Untuk lebih memahami secara rinci mengenai kehidupan masyarakat perkotaan, berikut diuraikan beberapa ruang lingkup dari perkotaan:

a.       Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam
Bagi masyarakat kota cendrung mengabaikan kepercayaan yang berkaitan dengan kekuatan alam serta pola hidupnya lebih mendasarkan pada rasionalnya.
Dan bila dilihat dari mata pencahariannya masyarakat kota tidak bergantung  pada kekuatan alam, melainkan bergantung pada tingkat kemampuannya (capablelitas) untuk bersaing dalam dunia usaha. Gejala alam itu bisa dipahami secara ilmiah dan secara rasional dapat dikendalikan.

b.      Pekerjaan atau Mata Pencaharian
Kebanyakan masyarakatnya bergantung pada pola industri (kapitalis), bentuk mata pencaharian yang primer seperti sebagai pengusaha, pedagang, dan buruh industri. Namun ada sekelompok masyarakat yang bekerja pada sektor informal misalnya pemulung, pengemis dan pengamen.

c.       Ukuran Komunitas
Umumnya masyarakat perkotaan lebih heterogen dibandingkan masyarakat pedesaan. Karena mayoritas masyarakatnya berasal dari sosiokultural yang berbeda-beda, dan masing-masing dari mereka mempunyai tujuan yang bermacam-macam pula, diantaranya ada yang mencari pekerjaan atau ada yang menempuh pendidikan. Jumlah penduduknya masih relatif besar.

d.      Kepadatan penduduk
Tingkat kepadatan di kota lebih tinggi bila dibandingkan di desa, hal ini disebabkan oleh kebanyakan penduduk di daerah perkotaan awalnya dari berbagai daerah.

e.       Homogenitas dan Heterogenitas
Dalam struktur masyarakat perkotaan yang sering sekali nampak adalah heterogenitas dalam ciri-ciri sosial, psikologis, agama, dan kepercayaan, adat istiadat dan perilakunya. Dengan demikian struktur masyarakat perkotaan sering mengalami interseksi sosial, mobilitas sosial, dan dinamika sosial.

f.       Diferensiasi Sosial
Di daerah perkotaan, diferensiasi sosial relatif tinggi, sebab tingkat perbedaan agama, adat istiadat, bahasa, dan sosiokultural yang dibawa oleh para pendatang dari berbagai daerah cukup tinggi.

g.      Pelapisan Sosial
Lapisan sosialnya lebih didominasi oleh perbedaan status dan peranan di dalam struktur masyarakatnya. Di dalam struktur masyarakat modern lebih menghargai prestasi daripada keturunan.

h.      Mobilitas Sosial
Mobilitas pada masyarakat perkotaan lebih dinamis daripada masyarakat pedesaan. Kenyataan itu adalah sebuah kewajaran sebab perputaran uang lebih banyak terjadi di daerah perkotaan daripada di pedesaan.

i.        Interaksi Sosial
Dalam interaksi pada masyarakat perkotaan lebih kita kenal dengan yang namanya gesseslchaft yaitu kelompok patembayan. Yang mana ada hubungan timbal balik dalam bentuk perjanjian-perjanjian tertentu yang orientasinya adalah keuntungan atau pamrih. Sehingga hubungan yang terjadi hanya seperlunya saja.

j.        Pengawasan Sosial
Dikarenakan masyarakatnya yang kurang saling mengenal satu sama lain dan juga luasnya wilayah kultural perkotaan di tambah lagi keheterogenitasan masyarakatnya yang membuat sistem pengawasan sosial perilaku antar anggota masyarakatnya makin sulit terkontrol.

k.      Pola Kepemimpinan
Kepemimpinanya didasarkan pada pertanggung jawaban secara rasional atas dasar moral dan hukum. Dengan demikian hubungan antar pemimpin dan warga masyarakatnya berorientasi pada hubungan formalitas.

l.        Standar Kehidupan
Standar kehidupannya di ukur dari barang-barang yang dianggap punya nilai (harta benda). Mereka lebih mengenal deposito atau tabungan. Karena menurut mereka menyimpan uang dalam bentuk deposito dianggap lebih praktis dan mudah. Ditambah lagi kepemilikan barang-barang mewah lainnya.

m.    Kesetiakawanan Sosial
Ikatan solidaritas sosial dan kesetiakawanan lebih renggang, ikatan ini biasa disebut dengan patembayan. Artinya , pola hubungan untung rugi lebih dominan daripada kepentingan solidaritas dan kesetiakawanan.

n.      Nilai dan Sistem Nilai
Nilai dan sistem nilai di dalam struktur masyarakat perkotaan lebih bersifat formal, berdasarkan aturan-aturan yang resmi seperti hukum dan perundang-undangan.

C.        Keruangan Kota Jika dilihat dari Beberapa Aspek

Dalam konteks ruang kota merupakan suatu sistem yang tidak berdiri sendiri, karena secara internal kota merupakan satu kesatuan sistem kegiatan fungsional di dalamnya, sementara secara eksternal kota dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.

Kota ditinjau dari aspek fisik merupakan kawasan terbangun yang terletak saling berdekatan atau terkonsentrasi, yang meluas dari pusatnya hingga ke wilayah pinggiran atau wilayah geografis yang dominan oleh struktur binaan.

Baca juga:
Materi Lengkap Sosiologi Kesehatan: Definisi, Ruang Lingkup, dan Teori-teorinya 

Kota ditinjau dari aspek sosial merupakan konsentrasi penduduk yang membentuk satu komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas melalui konsentrasi dan spesialisasi tenaga kerja, seperti produksi rumahan (Home Industry) dan UKM.

Kota ditinjau dari aspek ekonomi memiliki fungsi sebagai penghasil produksi barang dan jasa untuk mendukung kehidupan penduduknya dan untuk keberlangsungan kota itu sendiri.

Di indonesia kawasan perkotaan di bedakan berdasarkan strata administrasinya yakni :
1.      Kawasan perkotaan berstatus administratif daerah kota
2.      Kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari daerah kabupaten
3.      Kawasan perkotaan baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah kawasan pedesaan menjadi kawasan perkotaan, dan
4.      Kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih daerah yang berbatasan

***
Referensi:
Olahan dari beberapa sumebr

Label:

18/02/2019

Materi Lengkap Sosiologi Kesehatan: Definisi, Ruang Lingkup, dan Teori-teorinya

Sosiologi kesehatan mempelajari interaksi antara masyarakat dan kesehatan, lebih khususnya bagaimana konsepsi dan pemaknaan kesehatan dan penyakit menurut masyarakat sehingga mempengaruhi gaya hidup, perilaku, dan semua praktik kehidupan dalam kesehariannya. Sosiologi kesehatan juga mengkaji bagaimana kehidupan sosial mempengaruhi angka kelahiran dan kematian dalam populasi.

Aktivitas dunia kedokteran (erabaru.net)

Isu kesehatan sering kali dilekatkan pada konteks biologis dan natural atau alamiah. Sosiologi mengasumsikan bahwa dominasi ilmu alam dalam bidang kesehatan tidak membawa kita pada pemahaman menyeluruh tentang isu kesehatan. Ilmu sosiologi memperagakan bagaimana kondisi kesehatan termasuk penyakit sebenarnya juga dipengaruhi oleh kondisi sosio-ekonomi dan status sosial individu dalam masyarakat. Dengan kata lain, variabel sosial berperan dalam mempengaruhi kondisi kesehatan individu dan masyarakat.

Baca juga:

Postingan ini akan mengulas tentang apa itu sosiologi kesehatan, ruang lingkupnya, dan teorinya. Di beberapa kampus, nama mata kuliah sosiologi kesehatan sering kali disinonimkan dengan sosiologi kedokteran atau sosiologi medis. Jika dilihat dari objek kajiannya bisa dikatakan mirip, meskipun secara definitif berbeda.

Pengertian sosiologi kesehatan

Sebagaimana telah disinggung di paragraf awal, sosiologi kesehatan dapat dideskripsikan sebagai studi sosiologis tentang kesehatan. Secara spesifik, sosiologi kesehatan mempelajari bagaimana hubungan antara pola-pola kehidupan sosial terhadap angka kelahiran atau kematian dan sebaliknya. Sosiologi kesehatan juga mempelajari bagaimana hubungan antara berbagai institusi sosial seperti keluarga, sekolah, pekerjaan, agama, ras dan lainnya mempengaruhi kesehatan dan mendasari pengambilan keputusan terkait cara penanganan kesehatan.

Sosiolog Georg Ritzer dalam Encyclopedia of Sociology menyebutkan bahwa bibit pemikiran yang mengatakan sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu dapat diaplikasikan pada bidang kesehatan dikembangkan di Eropa Barat. Salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan sosiologi kesehatan adalah fisikawan Jerman Rudolf Virchow. Virchow berpendapat bahwa obat-obatan dulunya masuk dalam ilmu sosial, oleh karenanya harus digunakan untuk meningkatkan kondisi sosial masyarakat.

Obat-obatan sebagai sebuah ilmu sosial bukanlah sebuah teknik pengobatan melainkan sebuah pendekatan terhadap masalah kesehatan. Virchow yakin bahwa di masa depan, yaitu di kondisi kontemporer saat ini, kurikulum mengenai sosiologi kesehatan akan masuk ke dalam sekolah-sekolah seiring meningkatanya kesadaran individu tentang pentingnya menganalisis aspek sosial dalam memahami masalah kesehatan.

Sosiologi menyarankan bahwa setiap problem masyarakat sebaiknya dipahami secara kontekstual, termasuk ketika masyarakat sedang bermasalah dengan kesehatannya. Kita mengetahui bahwa suatu masyarakat tertentu, dari kelas sosial tertentu akan memahami terminologi kesehatan dengan cara tertentu pula. Sebagian masyarakat menaruh perhatian yang lebih pada aspek kesehatan, sebagaian yang lain memiliki tingkat kesadaran yang kurang.

Beberapa variabel sosial untuk menganalisis kesehatan seseorang yang bisa disebutkan tak terbatas jumlahnya, mulai dari jenis kelamin, usia, pendapatan, pendidikan, etnis, tempat tinggal, sampai tingkat integrasi sosial. Sebagai contoh, di Indonesia konsumsi herbal sebagai obat-obatan alternatif begitu tinggi. Tidak hanya orang desa, namun juga orang kota yang tinggal di perumahan yang mengonsumsi herbal. Tidak hanya orang miskin namun juga orang kaya. Sosiologi kesehatan menaruh perhatian pada beberapa aspek dalam rangka menganalisis bagaimana masyarakat berupaya menangani problem yang berhubungan dengan kesehatan.

Agar pembahasan kita tentang sosiologi kesehatan lebih spesifik, kita akan masuk pada ruang lingkupnya. Dalam mata kuliah sosiologi kesehatan dan sosiologi kedokteran, beragam isu terkait bisa menjadi objek kajian. Berikut ruang lingkup sosiologi kesehatan:
Ruang lingkup sosiologi kesehatan

    Penyakit dan kesehatan

Kajian mengenai kesehatan selalu berhubungan dengan penyakit. Sering kali orang dikatakan sehat pada level tertentu, apabila tidak menderita suatu penyakit pada level tertentu. Subdisiplin ini konsen pada pembahasan bagaimana seseorang atau masyarakat bisa dikatakan sehat atau sakit. Sebagai contoh, orang dikatakan sakit apabila tidak dapat menjalankan peran sosial sebagaimana mestinya.

    Pelayanan kesehatan
Bagaimana masyarakat memilih atau terpaksa memilih pelayanan kesehatan yang ada merupakan salah satu kajian dalam subdisiplin ini. Pelayanan kesehatan tidak hanya dilihat sebagai prosedur teknis dalam menangani pasien dan berapa biayanya, namun juga peran insitusi sosial yang menyediakannya, dari negara, rumah sakit, hingga keluarga.

    Kriminalitas dan kekerasan

Kriminalitas dalam kaca mata sosiologi kesehatan dapat dilihat baik sebagai pemicu stress suatu masyarakat atau output dari kondisi masyarakat itu sendiri. Kriminalitas dan kekerasan merupakan masalah sosial yang berhubungan erat dengan adanya suatu penyakit baik pada tataran individual atau pun kolektif

    Kondisi mental

Bagaimana aspek mental seseorang mempengaruhi perilakunya sehingga berdampak pada stabilitas sosial masyarakat dan sebaliknya masuk dalam ruang lingkup sosiologi kesehatan. Diskusi yang cukup sering dibahas berangkat dari definisi ”normal”. Apakah suatu kondisi normal benar-benar dapat direfleksikan pada perilaku yang dipraktikkan oleh mayoritas, sehingga konsekuensinya, individu yang tidak ikut arus dapat dikatakan tidak normal atau menyimpang.

    Intervensi kesehatan berbasis masyarakat

Ruang lingkup ini membahas tentang bagaimana kolektivitas dan integrasi sosial menjadi determinan kondisi kesehatan suatu masyarakat dan juga menentukan pilihannya dalam menyelesaikan problem kesehatan. Intervensi untuk menangani masyalah kesehatan didasari oleh pengetahuan akan kondisi sosial masyarakat tersebut.

    Pengetahuan dan kekuasaan

Sosiologi kesehatan menaruh perhatian pada hubungan yang timpang antar aktor sosial di bidang kesehatan, misalnya relasi antara dokter dan pasien. Dokter dilengkapi pengetahuan akan suatu penyakit yang diderita pasien melalui pemahaman terhadap gejalanya, sedangkan pasien seringkali ditempatkan pada posisi yang tidak tau apa-apa. Relasi yang timpang ini rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

    Kebijakan kesehatan masyarakat

Subdisiplin ini juga mendiskusikan tentang bagaimana memformulasikan kebijakan terkait kesehatan masyarakat yang tepat sasaran. Tidak hanya apa saja bentuk kebijakannya, tetapi juga siapa aktor yang mengeksekusinya, siapa target intervensinya, apa dampak yang mungkin ditimbulkannya dan lain sebagainya.

    Distribusi informasi medis
Informasi menjadi salah satu elemen yang mempengaruhi seberapa tinggi pengetahuan seseorang terhadap suatu kondisi kesehatan atau penyakit yang dialaminya. Informasi tentang obat-obatan, penyakit dan kesehatan bisa menjadi wilayah dominasi aktor-aktor tertentu, seperti apoteker, dokter, tabib, sampai dukun. Kini di era internet, informasi tersebar luas sehingga berpotensi mengubah distribusi pengetahuan di bidang kesehatan.

Di luar ruang lingkup yang sudah disebutkan di atas, objek kajian sosiologi kesehatan tentunya masih banyak lagi. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk di bidang medis, subdisiplin ini juga terus berkembang. Isu lain yang kini berkembang misalnya, medical tourism dan digital health. Kita lanjut pembahasan pada teori-teori sosiologi yang dapat diaplikasikan pada sosiologi kesehatan.

Teori-teori sosiologi kesehatan

    Teori fungsionalisme
Teori ini melihat kesehatan sebagai salah satu elemen penting sebagai prasyarat berfungsinya sistem sosial masyarakat. Menderita penyakit dianggap sebagai gangguan terhadap berfungsinya peran sosial, sehingga kehidupan sosial tidak bisa berjalan ”normal” sebagaimana mestinya.

Misalnya, seorang ayah memiliki peran sosial sebagai pemberi nafkah keluarga. Ketika ayah sakit dan tidak dapat bekerja, maka unit keluarga tersebut akan terganggu stabilitas finansialnya. Akibatnya, anak tidak bisa makan, tidak bisa bermain, tidak bisa sekolah. Kehidupan sosial menjadi terganggu.

    Teori marxist
Teori ini melihat kesehatan dan juga penyakit sebagai hasil dari operasionalisasi ekonomi kapitalis. Ekonomi kapitalis memproduksi komoditas yang mempengaruhi kondisi lingkungan material. Proses produksi tersebut menghasilkan penyakit seperti polusi, skizofenia, dan sebagainya sehingga menuntut manusia untuk mengonsumsi ”efek samping” dari produksi komoditas tersebut agar tetap sehat, dari makanan sampai obat-obatan yang juga diproduksi oleh industri kapitalis.

Sistem ekonomi kapitalis juga menentukan ketidakmerataan distribusi sumber daya yang pada gilirannya mempengaruhi kesehatan. Sebagai contoh, pendapatan dan kekayaan merupakan faktor determinan kualitas standar hidup manusia. Distribusi yang tidak merata menentukan pola ketidakmerataan tingkat kesehatan di masyarakat secara luas.

    Teori interaksionisme simbolik

Teori ini melihat kesehatan atau penyakit sebagai suatu ”identitas sosial” yang melekat pada seseorang sebagai hasil reaksi penilaian orang lain melalui interaksi sosial. Sebagai contoh, diagnosa suatu penyakit merupakan hasil interaksi simbolik antar aktor yang terlibat. Caranya, misalnya kita berperilaku sebagaimana orang gila. Ketika terjadi interaksi, yaitu masyarakat melihat perilaku kita, maka kita akan mendapat label orang gila. Kita secara interaksional didiagnosa sakit jiwa padahal pura-pura.

Baca juga:
Obat-obatan yang dikonsumsi pasien, dilihat dari kaca mata teori ini maka juga dipengaruhi oleh pemaknaan simbol-simbol. Sebagai contoh, dalam interaksi antara dokter dan pasien, dokter berusaha memahami penyakit yang diderita pasien melalui simbol-simbol berupa gejala yang muncul.

    Teori konstruksi sosial

Teori ini melihat kesehatan dan penyakit sebagai produk dari konstruksi sosial. Maksudnya, suatu kondisi tubuh yang dinamakan ”sehat” atau ”sakit” merupakan ”fakta-fakta” yang secara kreatif diproduksi melalui interaksi dan interpretasi terhadap fakta-fakta tersebut. Proses interpretasi berlangsung secara subjektif, lalu dinegosiasikan sehingga menjadi intersubjektif.

Sebagai contoh, seorang penyandang disabilitas dimata masyarakat dilihat sebagai orang yang ”kekurangan”. Kekurangan ini merupakan ”fakta” yang diproduksi oleh interaksi dan interpretasi suatu kondisi faktual. Misalnya, penyandang disabilitas tersebut dilahirkan tanpa jari kelingking. Tanpa jari kelingking tersebut merupakan fakta yang diinterpretasi menjadi ”kekurangan”. Teori ini melihat bahwa ”kekurangan” tersebut merupakan label hasil negosiasi aktor-aktor (mayoritas yang punya jari kelingking) terhadap minoritas.

***
Sumber:
Sosiologi.com

Label:

17/02/2019

Pendidikan Islam Pasca Kemerdekaan Indonesia

Sesudah Jepang kalah dan suasana proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945) mewarnai kegiatan hidup sebagian terbesar rakyat Indonesia, maka keadaan pendidikan pada umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya, mengalami semacam ketidaktentuan. Guru-guru agama terutama mereka yang selama pendudukan Jepang mengajar di sekolah-sekolah agama yang diurus oleh Muhammadiyah dan pemerintah pendudukan Jepang, sebahagian besar mengundurkan diri dari dunia pendidikan dan beralih ke lapangan pekerjaan lain, yang ada hubungannya dengan suasana proklamasi kemerdekaan itu. 

Potret kehidupan masyarakat Indonesia masa kolonial (jokowarino.id)

Mereka menjadi pelopor organisasi pemuda, yang kemudian menjadi organisasi kelasykaran. Tokoh-tokoh pemuka Muhammadiyah seperti Ahmad Makkarausu, Makkaraeng Dg. Jarung, Makkatang Dg. Siballi, Mohammad Noor, Gazali Syahlan, Nasaruddin Rachmat dan lain-lain pada saat-saat itu berperanan sangat penting dalam menggelorakan suasana kemerdekaan. Sebagian mereka terjun dalam lapangan politik dan sebagian besar lainnya terjun ke lapangan kelasykaran atau perlawanan bersenjata menghadapi kedatangan NICA (Belanda). 

Dalam kesibukan menghadapi gelora kemerdekaan dan kekurangan tenaga yang berpengalaman untuk mengorganisasi kembali sekolah-sekolah Islam, masih juga terdapat tenaga-tenaga yang tidak melepaskan sama sekali kegiatannya dalam lapangan pendidikan. Sekolah-sekolah Muhammadiyah yang pada zaman pendudukan Jepang ditutup atau diambil alih oleh kekuasaan Jepang dengan pembentukan sekolah-sekolah Kokyo Gakuin Jamiatul Islamiah, dibuka kembali dengan tenaga-tenaga guru yang masih ada. Satu perguruan Islam yang mengambil alih Kokyo Gakuin didirikan dan diberi nama Perguruan Islam,20 di bawah pimpinan K.H. Darwis Zakariah. 

Sekolah-sekolah itu, yang berkedudukan di kota Makassar, pada umumnya juga menjadi tempat pertemuan pemuda-pemuda kelasykaran. Di negeri-negeri pedalaman, di mana Muhammadiyah mempunyai pengaruh yang kuat sejak sebelum perang, para pemukanya menjadi pejoang-pejoang kemerdekaan. Sekolah-sekolah Muhammadiyah tingkat sekolah dasar dibangun atau dibuka kembali dengan semangat yang lebih kuat karena dorongan suasana kemerdekaan. Pemuda-pemuda kepanduan Hizbul—Wathan, berperanan amat aktif dalam organisasi pemuda dan kelasykaran.

1. Parewa Sara' dan Pembangunan Islam

 
Tetapi di samping itu terdapat juga usaha-usaha para ulama yang masih terikat pada keadaan zaman kerajaan Bugis—Makassar zaman lampau. Mereka itu terutama para Kadhi dengan bawahannya, yang disebut parewa sara' di negeri Zelfbestuur (Bone, Gowa, Soppeng, Sidenreng dan lain-lain). Mereka bersikap pasif terhadap gelora kemerdekaan proklamasi 17 Agustus 1945. Mereka pada umumnya mengikuti sikap Raja-raja Zelfbestuur setempat, yang pada mulanya tidak atau kurang bersimpati kepada Republik Indonesia, kecuali Raja Bone Andi Mappanyukki dan Datu Luwu Andi Jemma, yang pro Republik. (Kedua Raja ini ketika NICA dapat mengembalikan kekuasaan Belanda di Sulawesi Selatan dipecat dari jabatannya). 

Para ulama yang tergolong dalam apa yang disebut parewa sara1 itu dalam lapangan pendidikan agama Islam, tetap juga berusaha mengembangkan dakwah Islam menurut cara zaman lampau, yaitu menggunakan sarana mesjid dan tempat kediaman mereka untuk mendidik muridmurid yang mendatanginya. Setelah NICA dapat mengembalikan kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda, dengan mempergunakan tenagatenaga bumiputera Bugis—Makassar, maka bahagian terbesar pemuka-pemuka masyarakat, terutama kalangan pemimpin Muhammadiyah ditangkap atau ditawan. Mereka yang tidak tertawan, menggabungkan diri ke dalam kubu perlawanan seperti di Polombangkeng atau berangkat ke pulau Jawa, menggabungkan diri ke badan-badan perjuangan di sana.

 Raja-raja Zelfbestuur Bone dan Lawu (Andi Mappanyukki dan Andi Jemma) seperti disebut di bagian depan dipecat dari jabatannya. Andi Pabbenteng diangkat sebagai Raja Bone dan segera memihak NICA (Belanda). Dengan raja-raja Zelfbestuur lainnya yang pro Belandajdirintislah pembentukan Hadat Tinggi Sulawesi Selatan dalam rangka ketata-negaraan NIT (Negara Indonesia Timur). Raja Bone Andi Pabbenteng, menjadi Ketua Hadat Tinggi dan Raja Gowa, Andi Ijo menjadi Wakil Ketuanya. Adapun negeri-negeri yang pada zaman Hindia Belanda bukan negeri Zelfbestuur, pada zaman itu dijadikannya juga negeri Kesatuan Adat. Kepala negerinya disebut Ketua Hadat, dan menjadi anggota Hadat Tinggi. Arung Matoa Wajo, Datu Soppeng dan Addatuang Sidenreng, menyusun kembali aparat adat dengan berpedoman kepada struktur kekuasaan zaman kerajäan Bugis— Makassar, abad XVI — XVII yang lalu. Pada zaman ini Bone dan Gowa nampak menjadi pemegang peranan kepeloporan. 

Dengan terbentuknya Hadat Tinggi untuk seluruh daerah Sulawesi Selatan dan Kesatuan Adat sebagai negerinegeri bawahannya, maka organisasi sara'pun direncanakan untuk mengikuti struktur organisasi adat itu. Parewa sara' atau pejabat-pejabat sara', yang terdiri atas Kadhi sebagai penghulu, Khatib, Imam, Amil dan sebagainya sebagai bawahan organiknya, diadakan pada tiap-tiap Kesatuan Adat negeri. Dalam tahun 1947, Hadat Tinggi Sulawesi Selatan mengambil prakarsa untuk membentuk Sara' Tinggi Sulawesi Selatan. Organisasi Sara' Tinggi Sulawesi Selatan itu, akan mendampingi Hadat Tinggi dalam mengurus hal-hal yang bertalian dengan urusan keagamaan di Sulawesi Selatan, seperti Pengadilan Sara ' Tinggi dan sebagainya.

 Seorang Ketua Sara' Tinggi akan membawahi segenap Parewa Sara' yang terdapat di negeri-negeri adat bawahan, sebagaimana adanya dengan organisasi Hadat Tinggi, yang membawahi segenap Ketua Adat negeri di Sulawesi Selatan. Sebuah pertemuan yang dihadiri oleh para Kadhi dan Ulama dari semua negeri Kesatuan Adat Sulawesi Selatan diadakan pada tahun 1948, maksudnya untuk merealisasi gagasan pembentukan Sara' Tinggi itu. Pertemuan yang juga dihadiri oleh para Ketua Adat dan Pimpinan Hadat Tinggi mendapat tantangan yang kuat dari para ulama yang tidak tergolong dalam parewa sara' atau pejabat sara'. Gagasan untuk membentuk organisasi Sara' Tinggi atau Majelis Islam Tinggi, yang meliputi seluruh negeri di Sulawesi Selatan tidak dapat terwujud, karena sebahagian besar ulama terkemuka di Sulawesi. Selatan yang tidak terikat pada kedudukan parewa sara' tidak sependapat dengan gagasan itu. 

Ulama-ulama dari kalangan Muhammadiyah dan yang pro Republik Indonesia, mulai memusatkan perhatiannya kepada pengembangan pendidikan Islam dan pembangunan sarana-sarana untuk tempat pendidikan dan ibadat. Seorang ulama yang berasal dari Sumatra Barat yang dibawa Belanda ke Australia pada masa pendudukan Jepang (ia masih dalam pembuangan) kembali ke Indonesia dengan bantuan NICA dan menetap di Makassar, dapat dianggap seorang di antara banyak ulama di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar, yang mempelopori kembali kegiatan pendidikan dan dakwah Islam pada zaman NIT. Ulama itu ialah Haji Mokhtar Luthfi. Beliau menjadi tenaga yang kuat dalam pembangunan Mesjid Raya Makassar dan bersama-sama dengan para pengasuh Perguruan Islam di Makassar, serta para pemuka Muhammadiyah menggembleng mubaligh-mubaligh Islam. 

Usaha-usaha pendidikan melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah dan perguruan-perguruan Islam lainnya, mulai dibangun kembali baik di kota Makassar, maupun dibeberapa tempat di Sulawesi Selatan. Ulama-ulama dari Jawa dan Sumatra didatangkan untuk mengajar pada sekolah-sekolah Muallimin Muhammadiyah baik di kota Makassar, maupun di pedalaman Sulawesi Selatan. Nama-nama ulama seperti S.S. Majidi, yang pada masa sulitsulitnya keadaan politik di daerah ini, dengan segala kemampuannya mencurahkan perhatian dalam lapangan pendidikan Islam di pedalaman Sulawesi Selatan. Beliau berdiam di desa Ponre (Bulukumba) tempat madrasahnya didirikan bersama-sama masyarakat setempat. 

Di Gowa, atas inisiatif Daengta Kalia ri Gowa (Kadhi Gowa) dengan mendapat dukungan dari Kerajaan Gowa dan pegawai-pegawai sara' dalam kerajaan Gowa, berhasil mendirikan persatuan pegawai sara' Gowa. Organisasi ini berhasil mendirikan Madrasah dibeberapa tempat dalam daerah Gowa, yang sejajar dengan Sekolah Dasar Umum. Pada madrasah-madrasah itu diberikan pendidikan dasar agama. Sebahagian besar muridnya adalah juga murid-murid Sekolah Dasar Umum yang bersekolah pada pagi hari. Pada sore harinya mereka memperoleh pendidikan agama dari maf drasah-madrasah. Pengajian-pengajian di rumah-rumah guru agama dan di mesjid-mesjid, berlangsung terus sebagai biasa. 
Di Singkang (Wajo), walaupun Arung Matoa Wajo termasuk anggota Hadat Tinggi Sulawesi Selatan yang terkemuka, orang-orang bangsawan Wajo lainnya yang tidak terikat dalam struktur baru kekuasaan Tana Wajo masih dapat mengembangkan usaha-usahanya untuk mengembangkan pendidikan Islam yang bebas dari sekalian pengaruh politik. Haji As'ad, ulama paling terkemuka di Sulawesi Selatan pada waktu itu tetap melanjutkan usahanya membina murid-muridnya dalam Madrasatul Arabiah Islamiah (MAI) yang bebas dari pengaruh aliran-aliran politik yang sedang berkecamuk memperebutkan pengaruh di kalangan masyarakat. Pendidikan agama yang diselenggarakan oleh Haji As'ad dengan murid-muridnya yang terkemuka, menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh pemuda-pemuda dari segenap pelosok Sulawesi Selatan, bahkan ada yang datang dari kepulauan Indonesia lainnya, terutama Kalimantan. 

***
Sumber:
Dr. Taufik Abdullah. 1983. Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali

Label: