31/10/2018

Macam – macam Norma Sosial

Norma sosial yang berlaku di masyarakat sangatlah beragam. Menurut kajian sosiologi, bermacam-macam norma sosial itu dapat dikelompokkan menjadi beberapa pengertian berikut.
a.    Norma Agama
Norma agama, yaitu norma yang berasal dari Tuhan, berisi perintah, larangan, dan anjuran yang menyangkut hubungan antarmanusia, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Contohnya, tindakan berpuasa di kalangan umat muslim serta ajaran untuk tidak merugikan orang lain. Orang yang melanggar norma agama akan mendapat dosa. 

 (sumber gambar: nusantaranews.co)

b. Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan berasal dari hati nurani sehingga seseorang dapat membedakan antara perbuatan yang dianggap baik dengan perbuatan yang dianggap buruk. Contoh norma kesusilaan antara lain anak harus menghormati orang tuanya atau setiap orang dilarang melakukan hubungan seksual di luar nikah. Orang yang melanggar norma kesusilaan akan dikucilkan secara fisik dan batin. 

c. Norma Kesopanan
Norma kesopanan mengarah pada tingkah laku yang dianggap wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Norma kesopanan, yaitu norma yang berasal dari hati nurani tiap manusia dalam masyarakat. Wujud norma kesopanan itu berupa aturan dan kebiasaan yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat agar dipandang baik, tertib, dan menghargai sesamanya. Misalnya berpakaian rapi, berlaku jujur, makan dengan menggunakan tangan kanan, dan sebagainya. Pelanggaran terhadap norma ini akan dikenai celaan, kritik, dan lain-lain. 

d. Norma Kebiasaan
Norma kebiasaan menunjuk pada perbuatan yang diulang-ulang karena disenangi oleh banyak orang. Contohnya, jika bepergian ke tempat yang jauh, kita membelikan oleh-oleh untuk keluarga dan tetangga dekat. Sanksi bagi pelanggar norma kebiasaan berupa celaan atau pengucilan. 

e. Norma Hukum
Norma hukum, yaitu norma yang berasal dari pemerintah berupa peraturan, instruksi, ketetapan, keputusan, dan undang-undang. Contohnya, perintah memakai helm standar bagi pengendara motor atau Undang-Undang Nomor 22 tentang Pemerintahan Desa. Pelanggaran terhadap norma hukum akan dikenai denda, penjara, bahkan hukuman mati.

**
Sumber Referensi:
Ruswanto. 2009. Sosiologi SMA / MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Joko Sri Sukardi dan Arif Rohman.  2009. Sosiologi  : Kelas X untuk SMA / MA . Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Label:

Definisi Norma dan Jenis-jenis Norma

Manusia mempunyai pelbagai kebutuhan yang harus dipenuhi agar kehidupannya sejahtera. Namun karena kemampuannya terbatas, individu harus bekerja sama dengan individu lain guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Kerja sama antarindividu mensyaratkan adanya aturan yang akan menjamin tertibnya tata hubungan sosial. Aturan ini dikenal sebagai norma sosial. Jadi, norma sosial menurut Soerjono Soekanto (1989) sebagai aturan yang berlaku di dalam masyarakat yang disertai dengan sanksi bagi individu atau kelompok bila melanggar aturan tersebut. Sanksi bisa berupa teguran, denda, pengucilan, atau hukuman fisik. Individu wajib mematuhi norma yang telah dirumuskan. 

 (sumber gambar: Serambi Indonesia -Tribun News.com)

Norma sosial dibutuhkan untuk mewujudkan nilai-nilai sosial. Ketika masyarakat menyepakati perlunya persatuan dan kebersamaan di antara warga masyarakat, dibuatlah suatu aturan bersikap serta bertindak yang dapat mewujudkan nilai persatuan dan kebersamaan itu. Setiap individu mesti mengatur sikap dan tindakannya saat berinteraksi dengan pihak lain. Dia harus bersikap sopan, menjaga kehormatan orang lain, dan tidak merendahkan harga diri sesamanya. Inilah satu bentuk norma yang berkaitan dengan nilai persatuan dan kebersamaan dalam hidup masyarakat.

Norma Berdasarkan Kekuatan Mengikatnya

Supaya interaksi sosial berlangsung secara tertib, masyarakat merumuskan sejumlah norma sosial. Mula-mula norma-norma tersebut terbentuk secara tidak sengaja. Namun lambat laun norma-norma sosial itu sengaja disusun oleh warga masyarakat. Norma-norma yang hidup di masyarakat mempunyai kekuatan mengikat yang berbedabeda. Ada norma yang daya ikatnya lemah. Ada pula norma sosial yang mempunyai daya ikat kuat. Karena daya ikatnya yang kuat, maka warga masyarakat tidak berani melanggar norma tersebut.

Berdasarkan kekuatan mengikatnya, Soerjono Soekanto (1989) menuliskan empat norma, yaitu cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat-istiadat (custom). Urutan tersebut disusun dari norma yang paling lemah daya ikatnya hingga norma yang berkekuatan mengikat paling kuat. 

a.    Cara (Usage)
Cara menunjuk pada suatu bentuk perbuatan. Cara lebih menonjol dalam hubungan antarindividu dalam masyarakat. Suatu penyimpangan terhadap cara tidak akan mengakibatkan hukuman yang berat. Individu yang melanggar cara hanya sekadar dicela oleh individu yang lain. Contoh cara ialah melipat lembar halaman buku untuk menandai bagian buku yang telah dibaca. 

b.    Kebiasaan (Folkways)
Kebiasaan diartikan sebagai perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama karena banyak orang menyukai perbuatan tersebut. Sedangkan menurut R.M. Mac Iver dan Charles H. Page seperti dikutip Soerjono Soekanto (1989), kebiasaan merupakan perikelakuan yang diakui dan diterima oleh masyarakat. Kebiasaan mempunyai kekuatan mengikat yang lebih besar daripada cara. Perbuatan menghormati orang yang lebih tua usianya adalah contoh kebiasaan di masyarakat. 

c.    Tata kelakuan (Mores)
Menurut Mac Iver dan Page seperti dikutip Soerjono Soekanto (1989), kebiasaan yang diterima sebagai norma-norma pengatur berarti telah meningkat menjadi tata kelakuan (mores). Tata kelakuan digunakan oleh masyarakat secara sadar maupun tidak sadar untuk mengawasi warga masyarakat. 

d.    Adat-Istiadat (Custom)
Tata kelakuan yang kekal dan menyatu dengan pola-pola perilaku masyarakat dapat meningkat kekuatan mengikatnya menjadi adatistiadat (custom). Anggota masyarakat yang melanggar adatistiadat akan menderita sanksi berat dari masyarakat. Soerjono Soekanto (1989) mencontohkan adat-istiadat yang melarang terjadinya perceraian antara suami istri yang berlaku pada umumnya di daerah Lampung. Suatu perkawinan dimaknai sebagai kehidupan bersama yang sifatnya abadi dan hanya terputus jika salah satu meninggal dunia (cerai mati). Apabila terjadi perceraian, maka tidak hanya yang bersangkutan yang tercemar namanya.


**
Sumber Referensi:
Ruswanto. 2009. Sosiologi SMA / MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Joko Sri Sukardi dan Arif Rohman.  2009. Sosiologi  : Kelas X untuk SMA / MA . Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Label:

Peran dan Fungsi Nilai Sosial Dalam Interaksi Sosial

Apakah seorang siswa yang meyakini nilai kejujuran akan menyontek saat ulangan? Jawaban atas pertanyaan itu hampir semuanya mengatakan ”tidak akan”. Mengapa demikian? Karena keyakinan pada nilai kejujuran mendorong siswa tersebut untuk tidak bersikap curang dalam ujian. Di sisi lain, siswa tersebut akan belajar untuk memahami materi ujian. Dari satu pengamatan sederhana itu, kalian dapat melihat hubungan antara nilai sosial dengan tindakan seseorang. Bagaimana hubungan antara kedua hal itu?

 Peran Nilai Sosial

Nilai sosial menjadi petunjuk arah bersikap dan bertindak. Lihat saja tindakan siswa yang urung menyontek karena memegang teguh nilai kejujuran. Dia meyakini kejujuran mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia sehingga bertekad untuk berlaku jujur dalam hidupnya. Inilah peran pertama nilai sosial. 

 (sumber gambar: Google.com)

Hal ini berkaitan erat dengan pemahaman bahwa nilai juga menjadi pemandu serta pengontrol sikap dan tindakan manusia. Individu akan membandingkan sikap dan tindakannya dengan nilai tersebut. Dari sini individu dapat menentukan bahwa tindakannya itu benar atau salah. Dengan nilai, kalian dapat menentukan bahwa menyontek tidak sesuai dengan nilai kejujuran yang diyakininya. 

Nilai juga dapat memotivasi manusia. Hal itu dapat dilihat pada kehidupan guru di lingkungan masyarakat. Sebagian besar guru menempatkan diri sebagai pribadi yang mesti memberikan teladan bagi orangorang di sekitarnya. Karena pemahaman tersebut, sang guru berusaha menjaga tindakan-tindakan agar sesuai dengan harapan masyarakat. Dia tidak segan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. 

Begitu juga yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Di sana, sering dijumpai para wanita Bali yang bekerja di proyek pembangunan gedung, atau pekerjaan-pekerjaan yang identik dilakukan kaum pria. Ini bukan sesuatu yang tabu bagi masyarakat Bali, karena mereka meyakini bahwa kerja merupakan yajna (upacara) sehingga setiap orang harus bekerja sesuai dengan darmanya. Keyakinan tersebut mendorong para wanita Bali untuk melakukan pekerjaan apa pun, walau di tempat lain pekerjaan itu tidak lazim dilakukan para wanita.

Fungsi Nilai

Nilai memang memegang peranan penting dalam setiap kehidupan sebab nilai-nilai menjadi orientasi dalam setiap tindakan melalui interaksi sosial. Nilai sosial itulah yang menjadi sumber dinamika masyarakat. Apabila nilai-nilai sosial itu lenyap dari masyarakat maka seluruh kekuatan akan hilang. 

Lebih detailnya, fungsi nilai dalam interaksi sosial sebagai berikut. 
 a. Nilai berfungsi mengatur cara-cara berpikir dan bertingkah laku secara ideal. Hal ini terjadi karena anggota masyarakat selalu dapat melihat cara bertindak dan bertingkah laku yang terbaik, dan dapat mempengaruhi dirinya sendiri.
b. Nilai mengembangkan seperangkat alat yang siap dipakai untuk menetapkan harga sosial dari pribadi/grup. Nilai-nilai ini memungkinkan sistem stratifikasi dalam masyarakat.
c. Nilai dapat berfungsi sebagai alat pengawas dengan daya tahan dan daya mengikat tertentu. Mereka mendorong, menuntun, dan kadangkadang menekan manusia untuk berbuat yang tidak baik.
d. Nilai dapat berfungsi sebagai alat solidaritas di kalangan anggota grup dan masyarakat. e. Nilai merupakan penentu terakhir bagi manusia dalam memenuhi peranan-peranan sosialnya. Mereka menciptakan minat dan memberi semangat pada manusia untuk mewujudkan apa yang diminta dan diharapkan, menuju terciptanya cita-cita.

Demikianlah pembahasan mengenai materi Peran dan Fungsi Nilai Sosial Dalam Interaksi Sosial. Semoga bermanfaat

**
Sumber Referensi:
Ruswanto. 2009. Sosiologi SMA / MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Joko Sri Sukardi dan Arif Rohman.  2009. Sosiologi  : Kelas X untuk SMA / MA . Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.


Label:

Sumber-sumber Nilai dan Jenis Nilai Sosial

Keadilan diyakini oleh masyarakat Indonesia sebagai suatu hal yang penting. Pentingnya keadilan dalam kehidupan sosial disebabkan karena keadilan mencerminkan pengakuan atas kesamaan harkat dan martabat seluruh warga negara. Barangsiapa melanggar aturan, dia akan dihukum setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan. Ketentuan itu juga berlaku bagi para petinggi negara. Ketika keadilan ditegakkan, semestinya tidak ada petinggi negara yang bisa memelintir hukum untuk kepentingan sendiri. Mereka yang dipercaya rakyat untuk mengelola negara harus bertindak sesuai dengan aturan. Para petinggi negara semestinya berjuang agar kesejahteraan rakyat meningkat. Bukan malah menyengsarakan rakyat. 

Keadilan hanyalah salah satu contoh nilai sosial yang diyakini masyarakat. Tentu saja terdapat banyak sekali nilai sosial yang dijadikan pedoman berinteraksi antarwarga. Mengingat banyaknya nilai sosial itu, wajar apabila kita bertanya: Dari mana warga masyarakat mendapatkan nilai-nilai sosial itu? 

 (sumber gambar: ThaiBlogs.Info) 

Sumber Nilai

Dalam kajian sosiologi, nilai sosial yang diyakini individu dapat bersumber dari Tuhan, masyarakat, dan individu. Untuk memahaminya lebih jauh, simaklah paparan berikut.
a.    Tuhan
Sebagian besar nilai sosial yang dimiliki masyarakat bersumber dari Tuhan. Nilai sosial ini disampaikan melalui ajaran-ajaran agama. Nilai-nilai sosial dari Tuhan memberikan pedoman cara bersikap dan bertindak bagi manusia. Contohnya, nilai tentang hidup sederhana, kejujuran, berbuat baik kepada sesama makhluk, dan keberanian membela kebenaran. Para ahli menyebut nilai yang bersumber dari Tuhan sebagai nilai Theonom. 

b. Masyarakat
Ada juga nilai sosial yang berasal dari kesepakatan sejumlah anggota masyarkat. Nilai sosial yang berasal dari hasil kesepakatan banyak orang ini disebut nilai heteronom. Contohnya, Pancasila berisi ajaran nilai yang harus dipedomani oleh seluruh warga negara dan para penyelenggara negara di Indonesia. Pancasila merupakan rumusan hasil kesepakatan para pendiri negara. 

c. Individu
Selain Tuhan dan masyarakat, nilai sosial juga bisa bersumber dari rumusan seseorang. Orang itu merumuskan suatu nilai, kemudian nilai tersebut dipakai masyarakat sebagai acuan bersikap dan bertindak. Perumusan nilai tersebut biasanya dilakukan oleh individu yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan warga masyarakat yang lain. Nilai sosial yang berasal dari individu disebut nilai otonom. Contoh nilai otonom adalah konsep trias politica yang dirumuskan oleh J.J. Rousseau. Konsep trias politica mengajarkan perlunya pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif dalam penyelenggaraan negara. Sekarang, konsep trias politica menjadi bagian penting dari demokrasi yang diterapkan di sebagian besar negara di dunia.

Jenis-jenis Nilai Sosial 

Menurut Prof. Dr. Notonagoro, nilai dapat dibagi atas tiga jenis sebagai berikut.
1) Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia.
2) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat hidup dan mengadakan kegiatan.
3) Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian dibedakan lagi menjadi empat macam, yaitu:
a) nilai moral (kebaikan) yang bersumber dari unsur kehendak atau kemauan (karsa, etika); b) nilai religius, yang merupakan nilai ketuhanan, kerohanian yang tertinggi dan mutlak;
c) nilai kebenaran (kenyataan) yang bersumber dari unsur akal manusia; dan
d) nilai keindahan, yang bersumber dari unsur rasa manusia atau perasaan (estetis).

Demikianlah pembahasan mengenai materi sumber-sumber nilai dan jenis nilai sosial. Semoga bermanfaat.

**
Sumber Referensi:
Ruswanto. 2009. Sosiologi SMA / MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Joko Sri Sukardi dan Arif Rohman.  2009. Sosiologi  : Kelas X untuk SMA / MA. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.


Label:

Definisi Nilai dan Ciri-Ciri Nilai

Pengertian Nilai

Dalam pengertian sehari-hari nilai diartikan sebagai harga (taksiran harga), ukuran, dan perbandingan dua benda yang dipertukarkan. Dapat juga diartikan angka kepandaian (nilai ujian, nilai rapor), kadar, mutu, dan bobot. Tetapi dalam Sosiologi, nilai mengandung pengertian yang lebih luas daripada pengertian sehari-hari. Nilai merupakan sesuatu yang baik, yang diinginkan, dicita-citakan, dan dianggap penting oleh warga masyarakat.

Nilai terbentuk dari apa yang benar, pantas, dan luhur untuk dikerjakan dan diperhatikan. Nilai bukanlah keinginan, melainkan apa yang diinginkan, jadi bersifat subjektif. Nilai juga bersifat relatif sebab apa yang menurut kita sudah benar dan baik belum tentu disebut nilai. Penentuan suatu nilai harus didasarkan pada pandangan dan ukuran orang banyak. Misalnya, Joko beryanyi di kamarnya untuk menghibur diri. Menurut pendapat Joko bernyanyi adalah sesuatu yang sangat bernilai. Meskipun ia beryanyi di kamarnya sendiri dengan suara yang merdu, belum tentu perbuatan itu bernilai bagi masyarakat di sekelilingnya. 

 (sumber gambar: Google.com)

Koentjaraningrat (1981) mengartikan nilai sosial sebagai konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat penting dalam hidup. Sementara itu, Charles F. Andrian (1992) mendefinisikan nilai sosial sebagai konsep-konsep umum mengenai sesuatu yang ingin dicapai, serta memberikan petunjuk mengenai tindakan-tindakan yang harus diambil.

Secara sederhana, nilai sosial dapat diartikan sebagai sesuatu yang baik, diinginkan, diharapkan, dan dianggap penting oleh masyarakat. Hal-hal tersebut menjadi acuan warga masyarakat dalam bertindak. Jadi, nilai sosial mengarahkan tindakan manusia. Misalnya, bila orang menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam bergaul dengan sesama, maka ia akan berusaha berlaku jujur. Atau, tengoklah para pahlawan tanpa tanda jasa. Gaji dan tingkat kesejahteraan mereka sebagai seorang guru di negeri ini rendah. Namun guru-guru masih dengan sabar dan ikhlas mendidik siswa setiap hari. Hal ini tidak akan terjadi bila beliau tidak mendasarkan tindakannya kepada nilai pengabdian yang diyakininya. Nilai tersebut terus menyalakan pelita semangat guru untuk tetap bertahan menjadi seorang pendidik.

Berbagai rumusan yang telah dikemukakan oleh para sosiolog tentang nilai sosial sebagai berikut.
a. Young merumuskan nilai sosial, yaitu sebagai asumsi-asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa yang penting.
b. Green, melihat nilai sosial itu sebagai kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap objek, ide, dan orang perorangan.
c. Woods, menyatakan bahwa nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk umum dan telah berlangsung lama yang mengarah pada tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari. 

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dirumuskan bahwa nilai sosial adalah petunjuk secara sosial terhadap objek-objek, baik bersifat material maupun non material. 

Ciri-ciri Nilai

Beberapa ciri-ciri nilai sosial sebagai berikut.
1) Nilai sosial merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi di antara para anggota masyarakat. Nilai tercipta secara sosial bukan secara biologis atau bawaan sejak lahir.
2) Nilai sosial dipelajari dan bukan bawaan lahir. Proses belajar dan pencapaian nilai-nilai itu sejak kanak-kanak melalui proses sosialisasi keluarga.
3) Nilai sosial ditularkan dari suatu kelompok ke kelompok yang lain, melalui berbagai macam proses sosial. Bila nilai itu berwujud kebudayaan, dapat ditularkan melalui akulturasi, difusi, dan sebagainya.
4) Nilai memuaskan manusia dan mengambil bagian dalam usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial.
5) Masing-masing nilai mempunyai efek yang berbeda terhadap orang perorangan dan masyarakat sebagai keseluruhan.
6) Nilai dapat mempengaruhi pengembangan pribadi dalam masyarakat baik positif dan negatif.

Demikianlah pembahasan mengenai materi Definisi Nilai dan Ciri-Ciri Nilai. Semoga bermanfaat



**
Sumber Referensi:
Ruswanto. 2009. Sosiologi SMA / MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Joko Sri Sukardi dan Arif Rohman.  2009. Sosiologi  : Kelas X untuk SMA / MA . Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Label:

24/10/2018

Teori Tentang Masuknya Hindu Buddha di Indonesia


Seperti yang telah diulas pada artikel sebelumnya terdapat beberapa teori yang menjelaskan tentang adanya pengaruh kebudayaan Hindu ke Indonesia. Meskipun masih silang pendapat, namun teori ini banyak dipakai oleh ilmuwan dalam menyingkap proses masuknya kebudayaan India tersebut. 


  (Sumber gambar: Lelungan.net)

Beberapa pendapat (teori) tersebut dijelaskan pada uraian berikut:
1.    Teori Ksatria

 
Dalam kaitan ini R.C. Majundar berpendapat, bahwa munculnya kerajaan atau pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia disebabkan oleh peranan kaum ksatria atau para prajurit India. Para prajurit diduga melarikan diri dari India dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. Namun, teori Ksatria yang dikemukakan oleh R.C. Majundar ini kurang disertai dengan bukti-bukti yang mendukung. Selama ini belum ada ahli arkeolog yang dapat menemukan bukti-bukti yang menunjukkan adanya ekspansi dari prajurit-prajurit India ke Kepulauan Indonesia. Kekuatan teori ini terletak pada semangat petualangan para kaum ksatria.

2.    Teori Waisya

 
Teori ini terkait dengan pendapat N.J. Krom yang mengatakan bahwa kelompok yang berperan dalam dalam penyebaran Hindu-Buddha di Asia Tenggara, termasuk Indonesia adalah kaum pedagang. Pada mulanya para pedagang India berlayar untuk berdagang. Pada saat itu jalur perdagangan ditempuh melalui lautan yang menyebabkan mereka tergantung pada musim angin dan kondisi alam. Bila musim angin tidak memungkinkan maka mereka akan menetap lebih lama untuk menunggu musim baik. Para pedagang India pun melakukan perkawinan dengan penduduk pribumi dan melalui perkawinan tersebut mereka mengembangkan kebudayaan India. Menurut G. Coedes, yang memotivasi para pedagang India untuk datang ke Asia Tenggara adalah keinginan untuk memperoleh barang tambang terutama emas dan hasil hutan.

3.    Teori Brahmana

 Teori tersebut sesuai dengan pendapat J.C. van Leur bahwa Hindunisasi di Kepulauan Indonesia disebabkan oleh peranan kaum Brahmana. Pendapat van Leur didasarkan atas temuan-temuan prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Bahasa dan huruf tersebut hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Selain itu adanya kepentingan dari para penguasa untuk mengundang para Brahmana India. Mereka diundang ke Asia Tenggara untuk keperluan upacara keagamaan. Seperti pelaksanaan  upacara inisiasi yang dilakukan oleh para kepala suku agar mereka menjadi golongan ksatria. Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang dikemukan oleh Paul Wheatly bahwa para penguasa lokal di Asia Tenggara sangat berkepentingan dengan kebudayaan India guna mengangkat status sosial mereka.

4.    Teori Arus Balik

 
Teori ini lebih menekankan pada peranan bangsa Indonesia sendiri dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Artinya, orang-orang di Kepulauan Indonesia terutama para tokohnya yang pergi ke India. Di India mereka belajar hal ihwal agama dan kebudayaan Hindu-Buddha. Setelah kembali mereka mengajarkan dan menyebarkan ajaran agama itu kepada masyarakatnya. 

Pandangan ini dapat dikaitkan dengan pandangan F.D.K. Bosch yang menyatakan bahwa proses Indianisasi di Kepulauan Indonesia dilakukan oleh kelompok tertentu, mereka itu terdiri dari kaum terpelajar yang mempunyai semangat untuk menyebarkan agama Buddha. Kedatangan mereka disambut baik oleh tokoh masyarakat. Selanjutnya karena tertarik dengan ajaran Hindu-Buddha mereka pergi ke India untuk memperdalam ajaran itu. Lebih lanjut Bosch mengemukakan bahwa proses Indianisasi adalah suatu pengaruh yang kuat terhadap kebudayaan lokal. 

                                                                                                               (Sumber gambar: Google.com)
Berdasarkan teori-teori yang dikemukan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa masyarakat di Kepulauan Indonesia telah mencapai tingkatan tertentu sebelum munculnya kerajaan yang bersifat Hindu-Buddha. Melalui proses akulturisasi, budaya yang dianggap sesuai dengan karakteristik masyarakat diterima dengan menyesuaikan pada budaya masyarakat setempat pada masa itu.

**
Sumber:  
Sejarah Indonesia / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.-- Edisi Revisi Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.

Label:

Pengaruh Kebudayaan Hindu Buddha di Indonesia

(sumber gambar: eventzero.org)

Satu diantara bangsa yang berinteraksi dengan penduduk kepulauan di Indonesia adalah bangsa India. Interaksi itu terjalin sejalan dengan meluasnya hubungan perdagangan antara India dan Cina. Hubungan itu yang mendorong pedagang-pedagang India dan Cina datang ke kepulauan di Indonesia. Menurut van Leur, barang yang diperdagangkan dalam pasar internasional saat itu adalah barang komoditas yang bernilai tinggi. Barang-barang itu berupa logam mulia, perhiasan, berbagai barang pecah belah, serta bahan baku yang diperlukan untuk kerajinan. Dua komoditas penting yang menjadi primadona pada awal masa sejarah di Kepulauan Indonesia adalah gaharu dan kapur barus. Kedua komoditi itu merupakan bahan baku pewangi yang paling digemari oleh bangsa India dan Cina. Interaksi dengan kedua bangsa itu membawa perubahan pada bentuk tatanegara di beberapa daerah di Kepulauan Indonesia. Juga perubahan dalam susunan kemasyarakatan dan sistem kepercayaan. Sejak saat itu pula pengaruh-pengaruh Hindu-Buddha berkembang di Indonesia.

Baca juga:
Kebudayaan Masyarakat Indonesia Sebelum dan Sesudah Masuk Kebudayaan Hindu Budha

Tanda-tanda tertua adanya pengaruh kebudayaan Hindu di Indonesia berupa prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Sungai Cisedane dekat Kota Bogor saat ini. Juga di Jawa Barat dekat Kota Jakarta. Disamping itu kita juga dapat melihat peninggalan kebudayaan Hindia itu di sepanjang pantai Kalimantan Timur, yaitu di daerah Muara Kaman, Kutai. Menurut para ahli sejarah kuno, kerajaan-kerajaan yang disebut dalam prasastiprasasti itu adalah kerajaan Indonesia asli, yang hidup makmur bersumber dari perdagangan dengan negara-negara di India Selatan. Interaksi dengan orang-orang dari negara lain itulah yang kemudian mempengaruh cara pandang para raja-raja saat itu untuk mengadopsi konsep-konsep Hindu dengan cara mengundang para ahli dan para pendeta dari golongan Brahmana (pendeta) di India Selatan yang beragama Wisnu atau Brahma.

Bukti Budaya India Masuk Ke Indonesia 
 Beberapa bukti menunjukkan, setelah budaya India masuk, terjadi banyak perubahan dalam tatanan kehidupan. Berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan, kerajaan tertua di Muarakaman, Kalimatan Timur, yaitu Kerajaan Kutai mendapat pengaruh yang kuat dari budaya India yaitu budaya yang dikembangkan oleh Bangsa Arya di lembah Sungai Indus. Percampuran budaya itu kemudian melahirkan kerajaan yang bersifat Hindu di Nusantara. Baik itu yang mencakup dalam sistem religi, sistem kemasyarakatan, dan bentuk pemerintahan. Suatu hal yang sangat penting dalam pengaruh Hindu adalah adanya konsepsi mengenai susunan negara yang amat hirarkis dengan pembagian-pembagian dan fraksi-fraksi yang digolongkan ke dalam empat atau delapan bagian besar yang bersifat sederajat dan tersusun secara simetris. Semua bagianbagian itu diorientasikan ke atas, yaitu sang raja dianggap sebagai keturunan dewa. Raja dianggap keramat dan puncak dari segala hal dalam negara dan pusat alam semesta.

Kebudayaan Hindu di zaman itu mempunyai kekuatan yang besar dan serupa dengan zaman modern saat ini, seperti kebudayaan Barat ataupun kebudayaan Korea yang hampir mempengaruhi seluruh kehidupan semua bangsa-bangsa di dunia. Demikian halnya dengan kebudayaan intelektual agama Hindu pada masa itu yang mempunyai pengaruh kuat di Asia Tenggara.

Sebelum kebudayaan India masuk, pemerintahan desa dipimpin oleh seorang kepala suku yang dipilih oleh anggota masyarakat. Seorang kepala suku merupakan orang pilihan yang mengetahui tentang adat istiadat dan upacara pemujaan roh nenek moyangnya dengan baik. Ia juga dianggap sebagai wakil nenek moyangnya. Ia harus dapat melindungi keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya. Karena itulah larangan dan perintahnya dipatuhi oleh warganya. Setelah masuknya budaya India, terjadi perubahan. Kedudukan kepala suku digantikan oleh raja seperti halnya di India. 

Raja memiliki kekuasaan yang sangat besar. Kedudukan raja tidak lagi dipilih oleh rakyatnya, akan tetapi diturunkan secara turun temurun. Raja merupakan penjelmaan dewa yang seringkali disembah oleh rakyatnya. Para Brahmana agama Hindu tidak dibebani untuk menyebarkan agama Hindu di Indonesia. Pada dasarnya seseorang tidak dapat menjadi Hindu, tetapi seseorang itu lahir sebagai Hindu. Mengingat hal tersebut, maka menjadi menarik dengan adanya agama Hindu di Indonesia. Bagaimana dapat terjadi bahwa orangorang Indonesia yang pasti pada mulanya tidak dilahirkan sebagai Hindu dapat beragama Hindu. 

Demikian pula dengan sistem kemasyarakatan. Sistem kemasyarakatan yang dikembangkan oleh bangsa Arya yang berkembang di Lembah Sungai Indus adalah sistem kasta. Sistem kasta mengatur hubungan sosial bangsa Arya dengan bangsa-bangsa yang ditaklukkannya. Sistem ini membedakan masyarakat berdasarkan fungsinya. Golongan Brahmana (pendeta) menduduki golongan pertama. Ksatria (bangsawan, prajurit) menduduki golongan kedua. Waisya (pedagang dan petani) menduduki golongan ketiga, sedangkan Sudra (rakyat biasa) menduduki golongan terendah atau golongan keempat. Sistem kepercayaan dan kasta menjadi dasar terbentuknya kepercayaan terhadap Hinduisme. Penggolongan seperti inilah yang disebut caturwarna.

 Awal hubungan dagang antara penduduk Kepulauan Nusantara dan India bertepatan dengan perkembangan pesat dari agama Buddha. Pendeta-pendeta Buddha menyebarkan ajarannya keseluruh penjuru dunia melalui jalur perdagangan tanpa menghitungkan kesulitan-kesulitan yang ditempuhnya. Mereka mendaki Himalaya untuk menyebarkan ajaran Buddha di Tibet. Dari Tibet mereka melanjutkan ke arah utara hingga sampai ke Cina. Kedatangan mereka itu biasanya disampaikan terlebih dahulu, sehingga ketika tiba di tempat tujuan mereka dapat bertemu dengan kalangan istana. Mereka biasanya mengajarkan agama dengan penuh ketekunan. Mereka juga membentuk sebuah sanggha dengan biksubiksu setempat, sehingga muncul suatu ikatan  langsung dengan India, tanah suci agama Buddha.


 (sumber gambar: lelungan.net)

Kedatangan para biksu dari India ke negara-negara lain itu, memunculkan keinginan para penduduk daerah setempat untuk pergi ke India mempelajari agama Buddha lebih lanjut. Para biksu lokal itu kemudian kembali dengan membawa kitabkitab suci, relik, dan kesan-kesan. Bosch menyebut gejala ini dengan “arus balik”. Pengaruh Buddha di Indonesia dapat dijumpai pada beberapa temuan arkeologis. Satu bukti adalah ditemukannya arca Buddha terbuat dari perunggu di daerah Sempaga, Sulawesi Selatan. Menurut ciri-cirinya, arca Sempaga memperlihatkan langgam seni arca Amarawati dari India Selatan. Arca sejenis juga ditemukan di daerah Jember, Jawa Timur dan daerah Bukit Siguntang Sumatra Selatan. Di daerah Kota Bangun Kutai, Kalimantan Timur, juga ditemukan arca Buddha. Arca Buddha itu memperlihatkan ciri seni area dari India Utara. Kalau begitu kapan kebudayaan Hindu-Buddha dari India itu masuk ke Kepulauan Indonesia?

Terdapat berbagai pendapat mengenai proses masuknya Hindu-Buddha atau sering disebut Hindunisasi. Namun, sampai saat ini masih ada perbedaan pendapat mengenai cara dan jalur proses masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu-Buddha di Kepulauan Indonesia.


**
Sumber Referensi:
Sejarah Indonesia / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.-- Edisi Revisi Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.

Label:

Kelas Sosial dan Simbol-simbol Status dalam Masyarakat

                                                                       (Bill Gate, orang terkaya didunia. Sumber gambar: express.co.uk)

Setalah kita membahas tentang jenis-jenis status sosial. Sekarang kita akan membahas mengenai kelas-kelas sosial beserta simbol statusnya. Nah, manteman, sebagaimana yang sudah kita bahasa pada beberapa artikel sebemunya. Dalam kehidupan masyarakat terdapat jenjang (stratifikasi sosial) yang merupakan penggolongan seseorang sesuai dengan status sosialnya. 

Penggolongan tersebut jika didasari oleh kriteria  ekonomi maka disebut kelas sosial. Kelas sosial ini terbagi atas tiga jenjang; kelas sosial atas, menengah, dan bawah. Pada umumnya istilah kelas sosial lebih menunjukkan pada kelompok kelas sosial atas. Yaitu mereka yang merupakan golongan orang-orang yang kaya dan bergengsi. 

Dalam kehidupan masyarakat, semakin tinggi kelas sosialnya, maka akan semakin tinggi pula prestise (gengsi) yang dimilikinya. Oleh karena itu, mereka membentuk ciri tertentu agar tampak berbeda dengan kelas sosial yang lain. Ciri-ciri tersebut merupakan kebanggaan bagi pemiliknya.

Ciri-ciri atau tanda tertentu yang dapat menunjukkan kelas sosial dalam istilah sosial disebut  dengan simbol status. Berikut terdapat beberapa simbol status pada masyarakat kelas atas, antara lain yaitu:
a.    Tempat tinggal
Kelas sosial atas biasanya tinggal di perumahan elite yang mewah dan memiliki prestise tinggi. Orang yang tinggal di perumahan mewah menunjukkan bahwa ia adalah kelompok orang kaya. Perumahan yang mewah dengan semua fasilitasnya akan memberikan kebanggaan bagi pemiliknya. Dengan melihat tempat tinggalnya, orang sudah dapat menilai kelas sosial seseorang.

b.    Kekayaan
Kekayaan menjadi unsur utama yang sering ditonjolkan seperti mobil mewah, perhiasan, dan sebagainya. Kekayaan menjadi bagian terpenting dalam kelompok sosial karena dianggap sebagai simbol kesuksesan. Mobil mewah seperti merk jaguar sangat langka di Indonesia karena harganya yang mahal dan jumlahnya yang terbatas. Mobil ini memberi kebanggaan tersendiri bagi orang yang memiliki dan memakainya.

c.    Penghasilan
Pada umumnya kelas sosial atas memiliki penghasilan yang tinggi. Mereka pada umumnya para eksekutif yang bekerja dalam bidang pekerjaan tertentu dan menjadi orang yang sukses. Ada hubungan yang erat antara penghasilan dengan jenis pekerjaan. Kelompok sosial atas mempunyai pekerjaan yang elite dengan penghasilan yang tinggi.

d.    Pakaian
Pakaian yang digunakan oleh kelompok sosial atas adalah pakaian yang bagus dan mahal. Mereka bangga mengenakan pakaian produksi luar negeri seperti baju buatan Italia, parfum dari Prancis, dan sebagainya.

                                                                                                                 (sumber gambar: golfdigest.com)

e.    Hobi atau kegemaran
Kegemaran atau hobi kelompok sosial atas adalah kegiatan-kegiatan yang memerlukan biaya yang besar, seperti shopping ke luar negeri, olahraga golf, dan sebagainya.  Setiap orang mempunyai jenis kegemaran tertentu. Ada kegiatan tertentu yang dapat dilakukan oleh orang umum, tetapi juga menjadi status simbol kelas sosial atas, misalnya memancing. Memancing merupakan kegemaran dari setiap orang tanpa batas kelas sosial. Tetapi memancing menjadi hobby elit ketika dilakukan oleh golongan kelas sosial atas. Mereka memancing Blue Marlyn di laut lepas dengan menggunakan kapal pesiar mewah.

Nah, manteman itulah beberapa simbol status sosial pada masyarakat kelas atas. Sekarang sudah tahukan cara membedakannya, mana yang dikatakan kelas sosial rendah dan kelas sosial tinggi. Semoga bermanfaat ya

Label:

21/10/2018

Jenis-Jenis Status Sosial

Manteman, coba perhatikan masyarakat disekitar kalian? Ada orang yang sangat dihormati, ada orang yang biasa saja, dan ada pula yang tidak dihormati. Pernahkah kalian berpikir, mengapa ada kenyataan yang demikian? Hal tersebut karena dipengaruhi oleh status sosial. 

Status sosial yang lebih tinggi akan berpengaruh pula pada sikap dan rasa penghargaan yang tinggi diberikan oleh masyarakat. Status sosial yang rendah berpengaruh pada sikap dan penghargaan rendah yang diberikan oleh masyarakat. Oleh karena itu, setiap orang akan berusaha untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi.

Nah, berikut terdapat beberapa jenis status sosial yang ada dalam masyarakat, yaitu:
a.    Ascribed status
Ascribed status, yaitu status sosial yang diperoleh dengan sendirinya atau otomatis akan didapatkan karena faktor keturunan. Contohnya anak seorang bangsawan akan menjadi bangsawan pula dan mendapatkan kehormatan dari masyarakat karena status sosial yang diwariskan dan yang dimiliki oleh orang tuanya. Contoh lain, pada lingkungan masyarakat Aceh, status Teuku dan Cut akan diperoleh dari orangtuanya yang keturunan Bangsawan, dan lain sebagainya.


(Pangeran Inggris beserta anggota keluarnya. Sumber gambar: express.co.uk)

b.    Achieved status
Achieved status, yaitu status yang diperoleh melalui usaha yang disengaja atau perjuangan khusus. Contohnya untuk menjadi sarjana harus melalui perjuangan terlebih dahulu, diikuti usaha  dengan keras untuk memperoleh gelar akademisnya. Tingkatan pendidikan dalam masa yang panjang harus juga dilalui untuk mencapainya yang juga memerlukan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya.

(Sumber gambar: independents.co.uk)

c.    Assigned status
Assigned status, yaitu  status yang diberikan oleh masyarakat sebagai tanda penghargaan atas jasanya. Pada dasarnya status  yang diperoleh adalah akibat dari status yang telah diperolehnya terlebih dahulu. Contohnya  seorang pahlawan yang dihargai oleh masyarakat atas jasa  perjuangannya. Untuk menjadi seorang yang disebut pahlawan tentu ia harus berjuang mencapai statusnya dengan semua pengorbanan atau pengabdian, baik jiwa maupun raga.



                                                                                                           (Sumber gambar: salafynew.com)
 
Nah, demikianlah pembahasan singkat mengenai jenis-jenis status sosial dalam masyarakat. Semoga bermanfaat ya.

Label:

Pengaruh Diferensiasi dan Stratifikasi Sosial dalam Masyarakat

(Sumber gambar: wmutx.org)

Manteman, perlu diketahui bersama segala sesuatu yang ada dan muncul dalam masyarakat pasti membawa pengaruhnya, baiknya itu positif maupun negatif. Begitu juga dengan sistem stratifikasi dan diferensiasi yang ada dalam masyarakat.

Keberadaan sistem diferensiasi dan stratifikasi sosial dalam masyarakat membawa pengaruh tersendiri bagi kehidupan sosial terutama struktur sosial. Diferensiasi sosial dalam masyarakat mengacu pada perbedaan atau penggolongan masyarakat secara horizontal. Perbedaan-perbedaan ini dapat dilihat dari adanya keragaman suku dan etnik, keragaman agama, keragaman profesi atau pekerjaan, dan lain sebagainya. 

Dampak dari keragaman horizontal ini maka muncullah masyarakat majemuk. Secara umum masyarakat majemuk ditandai dengan berkembangnya sistem nilai dari kesatuan-kesatuan sosial yang menjadi bagian-bagiannya dengan penentuan para anggota secara tegas dalam bentuknya yang relatif murni, serta oleh timbulnya konflik-konflik sosial atau setidaknya oleh kurangnya integrasi dan saling ketergantungan di antara kesatuan-kesatuan sosial yang menjadi bagian-bagiannya. Namun tidak selamanya masyarakat majemuk mempunyai dampak negatif. Struktur masyarakat yang majemuk tentunya memiliki khazanah budaya yang kaya. 

Selain itu, adanya diferensiasi sosial  menjadikan masyarakat seolah-olah terkotak-kotak. Situasi ini mendorong munculnya sikap primordialisme. Dalam sosiologi primordialisme diartikan sebagai perasaan kesukuan seseorang yang berlebihan. Pada dasarnya sikap primordialisme berfungsi untuk pelestarian budaya kelompok sendiri, namun mampu pula memunculkan sikap etnosentrisme. Sikap etnosentrisme merupakan sikap yang memandang budaya orang lain dari kacamata budaya sendiri akibatnya dapat memunculkan sebuah konflik sosial.

 (Sumber gambar: theconversation.com)

Sedangkan sistem stratifikasi sosial menjadikan struktur masyarakat memiliki kesenjangan sosial. Hal ini dikarenakan dalam sistem stratifikasi memuat lapisan-lapisan sosial masyarakat yang berdasarkan tinggi rendahnya kedudukan. Tingkatan-tingkatan ini diibaratkan sebagai sebuah anak tangga. Karenanya di dalam masyarakat terdapat penggolongan secara vertikal, yaitu kelompok masyarakat yang lebih tinggi atau lebih rendah apabila dibandingkan dengan kelompok lain. 

Dengan kata lain, segolongan kelompok orang-orang dalam suatu strata, jika dibandingkan dengan orang-orang dari kelompok strata lain akan terlihat jelas perbedaan-perbedaan yang ada. Contoh: perbedaan hak, penghasilan, pembatasan, dan kewajiban. Perbedaan ini sering kali memunculkan sikap penindasan terhadap kelompok lainnya. Kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan lebih tinggi memiliki hak dan keuntungan serta fasilitas-fasilitas yang lebih banyak dibanding dengan kelompok-kelompok masyarakat yang menempati strata lebih rendah. Bertumpu dari keadaan ini, akhirnya kehidupan masyarakat berstratifikasi akan menampakkan gejala yang membuat hidup dirasa sebagai penindasan oleh kelompok-kelompok besar masyarakat.

Nah, itulah manteman pengaruh dari adanya sistem diferensiasi dan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Semoga bermanfaat ya

Label:

19/10/2018

Jenis-jenis Atau Tipe Stratifikasi Sosial

Manteman, sebagaimana yang sudah diulas pada artikel sebelumnya bahwa struktur sosial membagi masyarakat menjadi beberapa kelompok atau lebih, yang tentunya menempati posisi yang tidak sama dalam pelapisan sosial atau stratifikasi sosial

Nah, dalam sosiologi dikenal tiga sistem stratifikasi sosial, antara lain yaitu:
a.     Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification)
Stratifikasi sosial tertutup adalah jenis stratifikasi di mana anggota dari setiap strata tidak memiliki peluang atau sulit mengadakan mobilitas vertikal. Satu-satunya jalan untuk masuk dalam stratifikasi ini melalui kelahiran atau keturunan. Wujud nyata dari stratifikasi ini adalah sistem kasta di Bali. Kaum Sudra tidak dapat pindah posisi ke lapisan Brahmana. Atau masyarakat rasialis, kulit hitam (Negro) yang dianggap di posisi rendah tidak bisa pindah kedudukan di posisi kulit putih.

 
b.    Stratifikasi Sosial Terbuka (Opened Social Stratification)
Stratifikasi sosial adalah jenis stratifikasi yang membuka peluang untuk setiap anggota melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal. Stratifikasi sosial terbuka bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Pada umumnya, sistem pelapisan ini, memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk naik ke strata yang lebih tinggi, atau turun ke strata yang lebih rendah. Selain itu, sistem pelapisan terbuka memberikan perangsang lebih besar kepada setiap anggota masyarakat untuk dijadikan landasan pembangunan masyarakat. Contoh, seorang yang miskin karena usaha dan kerja keras dapat menjadi kaya, atau sebaliknya. 


 
c.    Stratifikasi Campuran
Stratifikasi campuran diartikan sebagai sistem stratifikasi yang membatasi kemungkinan berpindah strata pada bidang tertentu, tetapi membiarkan untuk melakukan perpindahan lapisan pada bidang lain. Contoh: seorang raden yang mempunyai kedudukan terhormat di tanah Jawa, namun karena sesuatu hal ia pindah  ke Jakarta dan menjadi buruh. Keadaan itu menjadikannya memiliki kedudukan rendah maka ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.



Demikianlah manteman mengenai jenis-jenis stratifikasi sosial. Semoga bermanfaat ya

Label:

18/10/2018

Situs Manusia Purba Terkenal di Indonesia

(Sumber gambar: Metrobali.com)

Manteman, pernahkah kalian mendengar tentang manusia purba? Di Indonesia sudah ditemukan beberapa lokasi yang dapat dikunjungi dan sudah diteliti oleh ilmuan bahwa terdapat jejak-jejak dan peninggalan manusia purba.

Peninggalan manusia purba tersebut untuk sementara ini yang paling banyak ditemukan berada di Pulau Jawa. Meskipun di daerah lain tentu juga ada, tetapi para peneliti belum berhasil menemukan tinggalan tersebut atau masih sedikit yang berhasil ditemukan. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa situs penemuan penting fosil manusia purba di Indonesia, yaitu sebagai berikut:

1.    Sangiran
 
Sangiran pertama kali ditemukan oleh P.E.C. Schemulling tahun 1864, dengan laporan penemuan fosil vertebrata dari Kalioso, bagian dari wilayah Sangiran. Di dalam buku Harry Widianto dan Truman Simanjuntak, Sangiran Menjawab Dunia diterangkan bahwa Sangiran merupakan sebuah kompleks situs manusia purba dari Kala Pleistosen yang paling lengkap dan  paling  penting di Indonesia, dan bahkan di Asia. Lokasi tersebut merupakan pusat perkembangan manusia dunia,yang memberikan petunjuk tentang keberadaan manusia sejak 150.000 tahun yang lalu.

Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa yang berupa cekungan besar di pusat kubah akibat adanya erosi di bagian puncaknya. Kubah raksasa itu diwarnai dengan perbukitan yang bergelombang. Kondisi deformasi geologis itu menyebabkan tersingkapnya berbagai lapisan batuan yang mengandung fosil-fosil manusia purba dan binatang, termasuk artefak.

2.    Trinil, Ngawi, Jawa Timur

Trinil adalah sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, masuk wilayah administrasi  Kabupaten  Ngawi,  Jawa  Timur. Tinggalan purbakala telah lebih dulu ditemukan di daerah ini  jauh  sebelum von Koeningswald menemukan Sangiran pada 1934. Namun, ekskavasi yang dilakukan  oleh  Eugene Dubois di Trinil telah membawa penemuan  sisa-sisa  manusia purba yang sangat berharga bagi dunia pengetahuan. Penggalian Dubois dilakukan pada endapan alluvial Bengawan Solo. Dari lapisan ini ditemukan atap tengkorak Pithecanthropus erectus, dan beberapa buah tulang paha (utuh dan fragmen) yang menunjukkan pemiliknya telah berjalan tegak.
(Museum tempat disimpannya fosil manusia purba. Sumber gambar: Kita punya)

Tengkorak Pithecanthropus erectus dari Trinil sangat pendek tetapi memanjang ke belakang. Volume otaknya sekitar 900 cc, di  antara otak kera (600 cc) dan otak manusia modern (1.200-1.400 cc). Tulang kening sangat menonjol dan di bagian belakang mata, terdapat penyempitan yang sangat jelas, menandakan otak yang belum berkembang. Pada bagian  belakang kepala terlihat bentuk yang meruncing yang diduga pemiliknya merupakan perempuan.

Nah itulah situs atau tempat-tempat peninggalan manusia purba di Indonesia. Selain tempat-tempat diatas  juga ditemukan jejak manusia purba di Perning, Mojokerto, Jawa Timur; Ngandong, Blora, Jawa Tengah; dan Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah dan juga di Aceh (Takengon). Temuan tengkorak yang diperkirakan berusia ratusan tahun seperti di salah satu guha di Aceh, saat ini sedang dalam pengkajian para ilmuwan untuk dikaji disimpulkan sejarahnya.

Label:

17/10/2018

Teori Big Bang (Tentang Penciptaan Bumi) dan Sejarah Evolusi Alam Semesta

(sumber gambar: india.com)
 
Manteman,  sudah tahu belum bagaimana bumi ini tercipta? Nah, jika belum tahu silahkan simak baik-baik artikel ini.bSebenarnya belum ada yang tahu secara pasti bagaimana awal mula bumi ini tercipta. Namun beberapa ilmu sudah mulai berusaha untuk menyingkap proses penciptaan bumi. Makanya dilingkungan kita sekarang sudah berkembang banyak teori dan penjelasan tentang penciptaan bumi, mulai dari mitos sampai kepada penjelasan agama dan ilmu pengetahuan.

Kali ini kita akan melihat proses penciptaan bumi melalui pendekatan ilmu pengetahuan, yakni asumsi-asumsi ilmiah, yang kiranya juga tidak perlu bertentangan dengan ajaran agama. Salah satu di antara teori ilmiah tentang terbentuknya bumi adalah Teori  “Dentuman Besar” (Big Bang). Teori ini menyatakan bahwa alam semesta mulanya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh ruang jagad raya yang kemudian meledak dengan satu dentuman yang amat dahsyat. Ledakan dahsyat itu juga menimbulkan gelembung-gelembung alam semesta yang menyebar dan menggembung ke seluruh penjuru, sehingga membentuk galaksi, bintang-bintang, matahari, planet-planet, bumi, bulan dan meteorit. 

Bumi kita hanyalah salah satu titik kecil saja di antara tata surya yang mengisi jagad semesta. Di samping itu banyak planet lain termasuk bintang-bintang yang menghiasi langit yang tak terhitung jumlahnya. Boleh jadi ukurannya jauh lebih besar dari planet bumi. Bintang-bintang berkumpul dalam suatu gugusan, meskipun antarbintang berjauhan letaknya di angkasa. Sistem alam semesta dengan semua benda langit sudah tersusun secara menakjubkan dan masing-masing beredar secara teratur dan rapi pada sumbunya masing-masing.

Selanjutnya terjadilah proses evolusi alam semesta itu, yang memakan waktu sangat lama sampai berjuta tahun. Terjadinya evolusi bumi sampai adanya kehidupan memang memakan waktu yang sangat panjang. Ditandai oleh peristiwa alam yang menonjol, seperti munculnya gunung-gunung, benua, dan makhluk hidup yang paling sederhana. 

 (sumber gambar: goodfon.ru)

Sedangkan proses evolusi bumi tersebut oleh ilmuwan dibagi menjadi beberapa periode, yaitu sebagai berikut:
 
a. Azoikum (Yunani: a = tidak; zoon = hewan), yaitu zaman sebelum adanya kehidupan. Pada saat ini bumi baru terbentuk dengan suhu yang relatif tinggi. Waktunya diperkirakan lebih dari satu miliar tahun lalu.
b. Palaezoikum, yaitu zaman purba tertua. Pada masa ini sudah meninggalkan fosil flora dan fauna. Berlangsung kira-kira 350.000.000 tahun.
c. Mesozoikum, yaitu zaman purba tengah. Pada masa ini hewan mamalia (menyusui), hewan amfibi, burung dan tumbuhan berbunga mulai ada. Lamanya kira-kira 140.000.000 tahun.
d.   Neozoikum, yaitu zaman purba baru, yang dimulai sejak 60.000.000 tahun yang lalu. Zaman ini dapat dibagi lagi menjadi dua tahap (Tersier dan Quarter). Zaman es mulai menyusut dan makhluk-makhluk tingkat tinggi dan manusia mulai hidup.
 
Nah, demikianlah manteman artikel singkat mengenai teori bigbang dan sejarah evolusi alam Semesta. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung.

Label:

Kenapa Setiap Suku Bangsa Memiliki Bahasa yang Berbeda-beda

(sumber gambar: google.com)

Manteman, pernahkah kalian berpikir mengapa setiap suku bangsa itu memiliki bahasa yang berbeda-beda? Misal suku Aceh dengan bahasa Aceh-nya, suku Jawa dengan bahasa Jawa-nya, suku Batak denga bahasa Batak-nya, suku Indian di Amerika Serikat dengan bahasa khasnya, dan beragama banyak bahasa lainnya didunia.



Baca juga:

Situs Manusia Purba dan Penemuan Fosil di Indonesia

Ilmuwan Sosial sudah menyimpulkan bahwa salah satu dasar pembedaan diferensiasi sosial adalah bahasa. Karena bahasa merupakan alat komunikasi antar sesama manusia memiliki ciri berbeda dan khas, tidak ada tinggi rendah dalam mengelompokkannya. 

Nah, langsung saja Manteman, menurut ilmuan sosial perbedaan bahasa tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain yaitu: 


1). Pengaruh bahasa Asing 

Beberapa wilayah yang berinteraksi dengan masyarakat asing akan menyerap beberapa istilah asing kedalam bahasa daerahnya. Penyerapan bahasa asing terjadi karena adanya istilah-istilah baru yang sebelumnya tidak ada dalam pembedaharaan bahasa daerah. Indonesia menerima banyak pengaruh bahasa asing dari beberapa negara seperti Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. Bahasa asing yang paling banyak diserap oleh bahasa daerah di Indonesia yaitu bahasa Belanda, Inggris dan Portugis. 

2). Perbedaan Wilayah 

Perbedaan wilayah seringkali menjadi batas penggunaan bahasa daerah, maksudnya bahasa daerah hanya digunakan di daerahnya saja karena bahasa merupakan salah satu ciri identitas suatu daerah. Misalnya, bahasa Sunda hanya digunakan oleh masyarakat daerah Jawa Barat, bahasa Jawa hanya digunakan oleh masyarakat Jawa Tengah atau Jawa Timur saja. Wilayah yang terpencil, biasanya memiliki bahasa lebih terbatas lagi karena keterbatasan pemahaman mereka terhadap lingkungannya. 

3). Latar Belakang Sejarah yang Berbeda 

Latar belakang sejarah berpengaruh terhadap bahasa daerah suatu masyarakat. Sebagai contoh, bahasa Sunda di Banten merupakan perpaduan antara bahasa Sunda dan bahasa Jawa, hal ini terjadi karena latar belakang sejarah masyarakat Banten pernah berinteraksi dengan masyarakat Jawa pada jaman kerajaan Mataram. 

 (Sumber gambar: ru.wikipedia.org)

4). Lingkaran Hukum Adat dan Kemasyarakatan yang Berlainan. 

Lingkaran hukum adat sekaligus menjadi batas pemakaian bahasa yang digunakan oleh masyarakatnya, karena bahasa tersebut menjadi ciri identitas dari suatu lingkaran hukum adat. Setiap lingkaran hukum adat akan memiliki bahasa sendiri. 

Nah, demikianlah manteman pembahasan singkat mengenai penyebab bahasa yang berbeda-beda didunia. Sekarang manteman sudah tahukan penyebabnya. Untuk itu silahkan dikunjungi terus blog belajar ini ya. Terima kasih

Label: ,