19/02/2025

Misteri Mesjid-Mesjid Tertua di Aceh, Warisan Sejarah yang Tak Terduga!"

Masjid-masjid kuno di Aceh memiliki arsitektur khas yang menggunakan material dari alam sekitar, seperti batu gunung, tanah liat, kayu, dan daun rumbia. Atapnya berbentuk tumpang dan pelana (Syafwandi, 1988:41).

Masjid Baiturrahman Aceh

Sejarah perkembangan masjid di Indonesia beriringan dengan proses penyebaran Islam. Pembangunan masjid mengikuti pola perkembangan dan kebutuhan masyarakat pada masanya. Dari Aceh, Islam menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, menjadikan masjid-masjid di Aceh sebagai yang tertua di Nusantara. Seiring waktu, model "Masjid Aceh" dikenal luas dan menjadi inspirasi bagi pembangunan masjid di berbagai wilayah Indonesia, termasuk masjid yang disebut "Masjid Para Wali" di Jawa. Hal ini menunjukkan adanya hubungan historis antara para wali di Jawa dengan ulama dari Aceh.

Baca selengkapnya »

Label:

Apakah Kopiah Riman dan Kupiah Meukutob bisa menjadi tren teknologi masa depan?


Perajin kupiah riman

Inovasi dalam Teknologi Tradisional Aceh

Teknologi modern berkembang pesat, tetapi teknologi tradisional tetap memiliki nilai ilmiah yang menarik untuk diteliti. Di Aceh, dua teknologi tradisional yang semakin mendapat perhatian adalah Kopiah Riman dan Kupiah Meukutob. Keduanya bukan sekadar penutup kepala, tetapi memiliki keunggulan material dan desain yang menarik untuk dikaji lebih dalam dari perspektif sains dan teknologi.

Baca selengkapnya »

Label:

30/09/2023

Begini Sejarah Terbentuknya ASEAN

 


Asean merupakan singkatan dari Association of Southeast Asian Nations. Jika dalam bahasa Indonesia ASEAN disebut sebagai perhimpunan bangsa-bangsa yang terletak di Asia. Sejarah awal berdirinya ASEAN adalah pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok Thailand melalui deklarasi Bangkok
Baca selengkapnya »

Label: , ,

27/12/2019

Pengaruh Islam dalam Kebudayaan Cina



Negara China atau Tiongkok memiliki tradisi dan kebudayaan yang unik. Cina dengan jumlah penduduk yang terpadat di dunia yang, 147 orang per km persegi atau hampir 2 miliar penduduk  membuat tradisi dan kebudayaan semakin menguat.

Masyarakat China memiliki tradisi dan budayanya sendiri, yang bisa kita amati antara lain seperti kaligrafi, makanan, gaya berpakaian, bahasa, dan lainnya.

Terlepas itu, yang jarang diketahui orang, kebudayaan Islam mempunyai pengaruh dan kedudukan yang penting dalam kebudayaan Cina. Hal ini karena Islam pernah memberi sumbangan besar terhadap perkembangan sains dan teknologi negeri itu. Diantaranya adalah kalender yang diciptakan oleh umat Islam dan pernah digunakan di Cina dalam waktu yang panjang.

Selain itu ada alat pandu arah angkasa yang dicipta oleh seorang ahli ilmu falak yang bernama Zamaruddin pada Dinasti Yuan sangat popular di Cina. Ilmu matematika yang dikembangkan dari Arab telah diterima oleh orang Cina. Ilmu perobatan Arab juga menjadi sebagian ilmu perobatan Cina.

Umat Islam juga terkenal dengan pembuatan meriam di Cina, Dinasti Yuan menggunakan sejenis meriam yang dikenali sebagai meriam etnik Huizu yang dicipta oleh orang Islam Cina. Yang jelas, Islam tidak bisa dipisahkan begitu saja di negeri itu. 

Berdasarkan hasil penelitiannya, para ilmuan barat seperti W. Montgomery Watt, Marshall G.S Hodgson, dan John Obert Voll, menyimpulkan bahwa rahasia dibalikdaya hidup umat islamdan kegigihan mereka dalam mengambil peran-peran sosial tersebut disebabkan oleh kesadaran terhadap misi ketuhanan.

Kesadaran ketuhanan itu pada gilirannya membentuk sikap hidup umat islam untuk senantiasa bersikap positif, aktif dan kreatif terhadap dunia dan permasalahan manusia.

Cina adalah sebuah negara yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Oleh karena itu didutuhkan seorang da’i untuk berdakwah di negara tersebut.

Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang, (618-905M), dan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, bahwa Islam mulai datang ke negeri itu sekitar tahun 30H atau 651M (kurun ke 7 Masehi) melalui melalui satu utusan yang dikirim oleh Khalifah Usman bin Affan (memerintah kira-kira 12 tahun (23-35H/644-656M).

Saad kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di Cina. Masjid ini, kini menjadi masjid tertua yang ada di daratan Cina dan usianya sudah melebihi 1300 tahun.

Penduduk Islam tinggal di merata tempat di seluruh Cina, terutama di bagian barat laut Cina, termasuk provinsi Gansu, Qinghai, Shanxi, wilayah otonomi Xinjiang dan wilayah otonomi Ningxia.Dakwah Saad bin Abi Waqqas di Cina dapat dibilang berhasil hal ini dapat dibuktikan dengan peradaban dan kebudayaan Islam yang diterima dan sangat berpengaruh terhadap kebudayaan Cina.

*dikutip dari berbagai sumber

Label: ,

02/10/2019

Artikel Lengkap; Kebudayaan


Pengertian Kebudayaan

Kata kebudayaan berasal dari kata budh dalam bahasa Sansekerta yang berarti akal, kemudian menjadi kata budhi (tunggal) atau budhaya (majemuk), sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil pemikiran atau akal manusia. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kebudayaan berasal dari kata budi dan daya. Budi adalah akal yang merupakan unsure rohani dalam kebudayaan, sedangkan daya berarti perbuatan atau ikhtiar sebagai unsure jasmani sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil dari akal dan ikhtiar manusia.

Kebudayaan = cultuur (bahasa belanda) = culture (bahasa inggris) = tsaqafah (bahasa arab), berasal dari perkataan latin : “colere” yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”.

Dalam disiplin ilmu antropologi budaya, kebudayaan dan budaya itu diartikan sama (Koentjaraningrat, 1980:195). Namun dalam IBD dibedakan antara budaya dan kebudayaan, karena IBD berbicara tentang dunia idea tau nilai, bukan hasil fisiknya. Secara sederhana pengertian kebudayaan dan budaya dalam IBD mengacu pada pengertian sebagai berikut :

Kebudayaan dalam arti luas, adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Kebudayaan dalam arti sempit dapat disebut dengan istilah budaya atau sering disebut kultur yang mengandung pengertian keseluruhan sistem gagasan dan tindakan.

Kebudayaan ataupun yang disebut peradaban, mengandung pengertian luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hokum, adat-istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat (Taylor, 1897:19).

Kebudayaan terdiri atas berbagai pola, bertingkah laku mantap, pikiran, perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh symbol-simbol yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia, termasuk di dalamnya perwujudan benda-benda materi, pusat esensi kebudayaan terdiri atas tradisi cita-cita atau paham, dan terutama keterikatan terhadap nilai-nilai. Ketentuan-ketentuan ahli kebudayaan itu sudah bersifat universal, dapat diterima oleh pendapat umum meskipun dalam praktek, arti kebudayaan menurut pendapat umum ialah suatu yang berharga atau baik (Bakker, 1984:21).

Ki Hajar Dewantara

Kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Koentjaraningrat

Mengatakan bahwa kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar serta keseluruhan dari hasil budi pekertinya.

L. Kroeber dan C.Kluckhohn (1952:34)

Dalam bukunyan Culture, a critical review of concepts and definitions mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya.

Malinowski

Malinowski menyebutkan bahwa kebudayaan pada prinsipnya berdasarkan atas berbagai system kebutuhan manusia. Tiap tingkat kebutuhan itu menghadirkan corak budaya yang khas. Misalnya, guna memenuhi kebutuhan manusia akan keselamatannya maka timbul kebudayaan yang berupa perlindungan, yakni seperangkat budaya dalam bentuk tertentu, seperti lembaga kemasyarakatan.

B Taylor (1873:30) dalam bukunya Primitive Culture kebudayaan adalah suatu satu kesatuan atau jalinan kompleks, yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, susila, hokum, adat-istiadat dan kesanggupan-kesanggupan lain yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Hasil buah budi (budaya) manusia itu dapat kita bagi menjadi 2 macam:

1) Kebudayaan material (lahir), yaitu kebudayaan yang berwujud kebendaan.
misalnya : rumah, gedung, alat-alat senjata, mesin-mesin, pakaian dan sebagainya.

2) Kebudayaan immaterial (spiritual=batin), yaitu : kebudayaan, adat istiadat, bahasa, ilmu pengetahuan dan sebagainya.

Unsur Kebudayaan

Unsur kebudayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bagian suatu kebudayaan yang dapat digunakan sebagai satuan analisis tertentu. Dengan adanya unsur tersebut, kebudayaan disini lebih mengandung makna totalitas daripada sekedar penjumlahan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Menurut Kluckhohn ada tujuh unsure dalam kebudayaan universal, yaitu system religi dan upacara keagamaan, system organisasi kemasyarakatan, system pengetahuan, system mata pencaharian hidup, system tekhnologi dan peralatan, bahasa, serta kesenian. Untuk lebih jelas, masing-masing diberi uraian sebagai berikut:

1) Sistem religi dan upacara keagamaan, merupakan produk manusia sebagai homo religious. Manusia yang memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, tanggap bahwa di atas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang Mahabesar yang dapat “menghitam-putihkan” kehidupannya. Oleh karena itu, manusia takut sehingga menyembah-Nya dan lahirlah kepercayaan yang sekarang menjadi agama. Untuk membujuk kekuatan besar tersebut agar mau menuruti kamauan manusia, dilakukan usaha yang diwujudkan dalam system religi dan upacara keagamaan.

2) Sistem organisasi kemasyarakatan, merupakan produk dari manusia sebagai homo socius. Manusia sadar bahwa tubuhnya lemah. Namun, dengan akalnya manusia membentuk kekuatan dengan cara menyusun organisasi kemasyarakatan yang merupakan tempat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, yaitu meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

3) Sistem pengetahuan, merupakan produk dari manusia sebagai homo sapiens. Pengetahuan dapat diperoleh dari pemikiran sendiri, disamping itu dapat juga dari pemikiran orang lain. Kemampuan manusia untuk mengingat apa yang telah diketahui, kemudian menyampaikannya kepada orang lain melalui bahasa menyebabkan pengetahuan ini menyebar luas.

4) Sistem mata pencaharian hidup, yang merupakan produk dari manusia sebagai homo economicus menjadikan tingkat kehidupan manusia secara umum terus meningkat.

5) Sistem teknologi dan peralatan, merupakan produksi dari manusia sebagai homo faber. Bersumber dari pemikirannya yang cerdas serta dibantu dengan tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan erat, manusia dapat menciptakan sekaligus mempergunakan suatu alat. Dengan alat-alat ciptaannya itu, manusia dapat lebih mampu mencukupi kebutuhannya daripada binatang.

6) Bahasa, merupakan produk dari manusia sebagai homo longuens. Bahasa manusia pada mulanya diwujudkan dalam bentuk tanda (kode), yang kemudian disempurnakan dalam bentuk bahasa lisan, dan akhirnya menjadi bahasa tulisan.

7) Kesenian, merupakan hasil dari manusia sebagai homo esteticus. Setelah manusia dapat mencukupi kebutuhan fisiknya maka manusia perlu dan selalu mencari pemuas untuk memenuhi kebutuhan psikisnya.

Perlu dimengerti bahwa unsur-unsur kebudayaan yang membentuk struktur kebudayaan itu tidak berdiri lepas dengan lainnya. Kebudayaan bukan hanya sekedar merupakan jumlah dari unsur-unsurnya saja, melainkan merupakan keseluruhan dari unsur-unsur tersebut yang saling berkaitan erat (integrasi), yang membentuk kesatuan yang harmonis. Masing-masing unsur saling mempengaruhi secara timbale-balik. Apabila terjadi perubahan pada salah satu unsur, maka akan menimbulkan perubahan pada unsur yang lain pula.

Wujud Kebudayaan

Selain unsur kebudayaan, masalah lain yang juga penting dalam kebudayaan adalah wujudnya. Pendapat umum mengatakan ada dua wujud kebudayaan. Pertama, kebudayaan bendaniah (material) yang memiliki cirri dapat dilihat, diraba, dan dirasa. Sehingga lebih konkret atau mudah dipahami. Kedua, kebudayaan rohaniah (spiritual) yang memiliki ciri dapat dirasa saja. Oleh karena itu, kebudayaan rohaniah bersifat lebih abstrak dan lebih sulit dipahami. Koentjaraningrat dalam karyanya kebudayaan. Mentaliter, dan pembangunan menyebutkan bahwa paling sedikit ada tiga wujud kebudayaan, yaitu :

1) Sebagai suatu kompeks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya.

2) Sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.

3) Sebagai benda-benda hasil karya manusia. (koentjaraningrat, 1974:15).

Wujud pertama adalah wujud ideal kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba dan difoto. Letaknya dalam alam pikiran manusia. Ide-ide dan gagasan manusia ini banyak yang hidup dalam masyarakat dan member jiwa kepada masyarakat. Gagasan-gagasan itu tidak terlepas satu sama lain melainkan saling berkaitan menjadi suatu system, disebut system budaya atau culture system, yang dalam bahasa Indonesia disebut adat istiadat.

Wujud kedua adalah yang disebut system social, yaitu mengenai tindakan berpola manusia itu sendiri. Sistem social ini bersifat konkrit sehingga bias diobservasi, difoto dan didokumentir.

Wujud ketiga adalah yang disebut kebudayaan fisik, yaitu seluruh hasil fisik karya manusia dalam masyarakat. Sifatnya sangat konkrit berupa benda-benda yang bias diraba, difoto dan dilihat. Ketiga wujud kebudayaan tersebut di atas dalam kehidupan masyarakat tidak terpisah satu dengan yang lainnya.

Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki system nilai. Menurut C.Kluckhohn (1961:38) dalam karyanya Variations in Value Orientation, system nilai budaya dalam semua kebudayaan yang ada di dunia sebenarnya berkisar pada lima masalah pokok dalam kehidupan manusia, yaitu :

1) Hakikat dari hidup manusia (manusia dan hidup, disingkat MH)

2) Hakikat dari karya manusia (manusia dan karya, disingkat MK)

3) Hakikat kedudukan manusia dalam ruang waktu (manusia dan waktu, disingkat MW)

4) Hakikat hubungan manusia dengan sesamanya (manusia dan manusia, disingkat MM).

Demikianlah pembahasan mengenai kebudayaan secara lengkap.

Label:

21/04/2019

Penampilan Orang Aceh Dulu; Kuku dan Keris Memiliki Simbol Sosial



 

ORANG Aceh (bahasa Aceh: Ureuëng Acèh) merupakan sebuah sebutan atau nama bagi suku yang mendiami wilayah pesisir dan sebagian pedalaman Provinsi Aceh, Indonesia. Orang Aceh memiliki beberapa nama lain yang sebelumnya melekat sebagai identitas orang Aceh sebagai sebuah suku yaitu Lam Muri, Lambri, Akhir, Achin, Asji, A-tse dan Atse. Sedangkan, bahasa yang digunakan oleh orang Aceh adalah bahasa Aceh, yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat dan berkerabat dekat dengan bahasa Cham yang dipertuturkan di Vietnam dan Kamboja. Orang  Aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa yang menetap di tanah Aceh. Pengikat kesatuan budaya suku Aceh terutama ialah dalam bahasa, agama, dan adat khas Aceh.  Oleh karena demikian, tidak ada karakteristik fisik khas pada orang Aceh.

Salah satu hal yang masih mengandung tanda tanya dalam khazanah Aceh adalah mengenai penampilan atau gaya berbusana (pakaian) orang Aceh jaman dulu. Apakah orang Aceh dulu sudah berpenampilan sebagaimana yang dianjurkan dalam Islam? Atau sesuai dengan konsep syariah Islam --seperti yang hendak diterapkan pada warga Aceh di era modern ini, yakni mengikuti kaidah Islam.

Beberapa Sejarahwan yang memiliki perhatian terhadap Aceh mengungkapkan, bahwa Islam sudah ada di Aceh sejak abad 13. Namun demikian, penerapan aturan yang berlandaskan syariat Islam bukanlah sejak masa itu. Seorang ahli berkebangsaan Pranciss, Francois de Vitre, yang datang ke Aceh pada 26 Juli 1602 menggambarkan bagaimana mereka berpakaian dan merias diri. Menurut Francois, orang Aceh dulu kebanyakan orang Aceh mengenakan ikat pinggang yang dililitkan pada tubuh untuk menutupi kemaluan. Sedangkan bagian tubuh lain dibiarkan terbuka.

Sementara para bangsawan dan pedagang juga melilitkan pinggang dengan menggunakan kain katun atau sutera pada tubuh hingga lutut. Mereka juga memakai sejenis topi yang sangat lebar, dengan lengan yang juga lebar dan terbuka di bagian depan. Orang Aceh juga diketahui memiliki kebiasaan unik, yaitu suka memakai sorban.. Sorban itu diikat seperti gulungan sedemikian rupa hingga ujung kepalanya tak tertutup.Dan di pundaknya memakai baju atau rompi dengan lengan yang lebar dan ketat di bagian pergelangannya.Tak lupa juga, sebuah “lunghee” melilit pinggang, pedang panjang di sisi, yang bergantung pada sabuk yang diselempangkan, (Historia.Id).

Selain itu, orang Aceh diketahui memiliki kulit coklat atau kuning dengan hidung yang tidak terlalu mancung (pesek), dan berperawakan cukup tinggi. Bagi laki-laki, mereka memiliki gaya hidup yang mencukur habis kumis dan jenggot mereka. Semua berjalan tanpa alas kaki, dari raja sampai orang paling kere sekalipun.

Baca juga:
Makna Kerah Baju dan Status Sosial

Sementara itu, pejelajah Inggris lainnya, William Dampier pada 1688 memberikan gambaran yang sedikit berbeda. Menurutnya, masyarakat Aceh yang berkedudukan tinggi biasanya memakai celana pendek  dengan kupiah di kepala dari kain wol berwarna merah atau warna lain. Khusus, bagi Bangsawan, mereka memakai sepotong kain sutera yang longgar di atas pundak. Sementara rakyat kecil telanjang dari pinggang ke atas. Mereka juga tidak memakai kaos kaki atau sepatu. Hanya orang kaya yang memakai sandal.

Kuku, Keris dan Status Sosial

Satu hal lain yang jarang kita ketahui, orang-orang Aceh masa lalu juga menjadikan kuku sebagai tanda status sosial. Orang kaya bisa dibedakan dari rakyat biasa lewat kukunya. Seringkali orang kaya membiarkan kuku ibu jari dan kelingkingnya tumbuh panjang. Kuku yang panjang menandakan bahwa mereka tak melakukan pekerjaan kasar dengan tangannya.

Selain kuku, keris juga menjadi simbol kekuasaan bagi pemiliknya. Karena itu, setiap pegawai tidak dapat mengaku dan melaksanakan perintah Raja tanpa keris. Tak hanya itu, para pegawai istana membawa keris kalau  menyambut orang asing untuk mengantar mereka menghadap raja.

Keris  yang dipakai orang Aceh dulu terkenal sangat unik dan khas, di mana mata dan pegangannya terbuat dari logam yang oleh raja dinilai lebih berharga dibanding emas. Sedangkan pegangannya bertakhtakan batu-batu delima. Jika memakai keris sembarangan bisa saja terancam hukuman mati. Ini disebabkan, Keris memiliki nuansa “kesakralan” tersendiri.

Demikianlah pembahasan singkat mengenai penampilan Orang Aceh dulu. Semoga bermanfaat.

Label: ,